
Happy Reading ...
.
.
.
Suasana cukup hening. Ben, Terry dan Kai berjalan ke luar villa.
Beberapa jam yang lalu saat Ben dan Terry sedang bercanda, guru memanggil mereka membantu Kai untuk mengambil alat bakar-bakar di gudang yang terletak di samping villa wanita.
"Kita tidak boleh berkeliaran terlalu jauh." Ujar Terry membuka suara.
"Kau benar, tadi ada pemberitahuan jika ada 4 warga yang menghilang." Sambung Kai.
"2 remaja lelaki berusia 17 tahun dengan tinggi 173 cm dan dua remaja perempuan yang satu berusia 15 tahun dengan tinggi 170 cm dan yang satu berusia 19 tahun dengan tinggi 170 cm." Jelas Ben yang membuat Kai menatapnya terkejut.
'Kenapa Ben bisa tau sedetail itu?'
Padahal tadi hanya diberitahu agar tidak berkeliaran terlalu jauh saat malam hari karena ada 4 orang hilang.
"Mereka semua tingginya 170 cm ya, sepertinya ada kriteria khusus untuk korban." Kata Terry sembari memainkan senter ditangannya.
Jalanan memang cukup gelap, mereka memang membawa ponsel tapi tadi guru mereka memberikan senter jadi Terry gunakan saja, dari pada senter itu nganggur dan tidak ada kerjaan.
"Aku mengantuk, kenapa tidak besok pagi saja mengambilnya." Gerutu Ben.
"Ya mungkin besok pagi kita akan mulai dikurung, sejak tadi para guru sibuk menyiapkan ini dan itu untuk kegiatan didalam ruangan." Ujar Kai selaku anggota OSIS.
"Bukanya seharusnya kita dipulangkan saja?" Kata Terry.
"Memesan tiket pesawat tidak mudah dan juga tempat ini sudah di booking untuk beberapa hari ke depan." Sahut Ben.
"Bisa rugi kalau tidak dilanjutkan." Balas Kai.
Kai membuka pintu gudang itu, ia berusaha mencari saklar lampu tapi tidak menemukannya.
"Sudahlah ayo cepat masuk, biar Terry yang menyenteri kita." Ujar Ben yang membuat Terry mengangguk.
Saat ini jantung Ben berdetak cepat, nafasnya tidak beraturan dan tangannya gemetar tapi ia berusaha untuk tenang. Ia menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan perlahan.
BRAK. Tiba-tiba saja pintu gudang tertutup rapat.
"Hey!" Ujar Terry berlari kearah pintu dan berusaha untuk membukanya, tapi nihil. Pintu itu terkunci rapat seolah-olah ada yang menguncinya dari luar.
Duk. Duk. Duk. Terry menggedor pintu itu.
__ADS_1
"Buka pintunya!! Jangan bercanda!!" Seru Terry kesal.
Entah karena getaran atau baterai habis senter itu mendadak mati begitu saja. Hal itu membuat Kai dan Terry semakin kesal.
"Sial!" Umpat Kai yang langsung merogoh kantong celananya untuk mengambil ponsel.
Bruk. Ben mendadak terjatuh, ia memegangi dadanya yang terasa sakit. Nafasnya mulai tak beraturan.
"Uhh... Uhukk... Uhukk... Huftt..."
Ben terus terbatuk-batuk, ia mengeluarkan air mata, jantungnya semakin berdebuk kencang. Ben benci perasaan seperti ini.
"Hey Ben kau kenapa?" Tanya Kai panik seraya memegang bahu Ben. Ben tidak menjawab, dia tidak fokus, kepalanya dipenuhi dengan bayangan-bayangan yang mengerikan.
Terry yang mendengar hal itu segera berlari ke arah Ben dan menyalakan senter dari ponselnya.
"Hey ada apa?"
"Aku tidak tau, tiba-tiba saja Ben seperti ini." Jawab Kai yang berusaha untuk menyadarkan Ben.
"Mama... Papa..."
"Kyaa Ben jangan kesini."
"Pergi lah nak... Kau harus selamat."
"Tuan muda aku kami akan melindungi mu."
"Air itu benda cair, darah juga benda cair. Tapi bukankah darah lebih kental daripada air? Kau lebih suka air atau darah?"
"Huhu... Uhukk... Hahh... Hahh..." Nafas Ben semakin tidak beraturan.
"Apa dia memiliki Claustrophobic?" Tanya Kai yang membuat Terry menggeleng. Ia tidak pernah mendapatkan informasi seperti ini.
"Aku tidak tau. Hey Ben tenanglah, semua akan baik-baik saja."
Sial! Ini tidak akan berhasil karena Claustrophobic yang diderita Ben cukup parah, satu-satunya jalan adalah mereka harus keluar dari tempat ini. Tapi bagaimana?
...🌸...
Prank. Tanpa sengaja Bianca menjatuhkan cermin milik Bahiyyih, Untung saja cermin itu tidak pecah.
"Aku minta maaf, aku tidak sengaja." Ujarnya.
"Tidak apa, tapi kau tidak terluka kan?"
"Tidak, cerminnya juga tidak pecah." Bianca menunduk untuk mengambil cermin itu.
Saat ini mereka tengah berada di balkon yang menampilkan hutan dan beberapa mobil yang terparkir didepan villa.
__ADS_1
"Bukankah cukup menyeramkan saat malam hari?" Ujar Bahiyyih yang membuat Bianca mengangguk.
Netra Bianca mendadak fokus saat melihat sesosok pria yang terlihat tengah mengunci pintu gudang. Ia langsung membuang kunci gudang itu ke sembarang arah. Akan sulit mencarinya karena kunci itu terjatuh di rerumputan.
Bianca menarik lengan Bahiyyih agar Bahiyyih melihatnya juga.
"Siapa dia?"
Bianca menggidikan bahunya tak tau. "Siapa pun dia, sudah pasti dia bukan orang baik." Bianca fokus menatap sosok yang tengah merusak sesuatu di kotak besi samping gudang. Itu adalah kotak listrik.
"Apa kita tidak perlu melaporkan pada guru?" Tanya Bahiyyih yang membuat Bianca menggeleng. Ia terlihat tengah mengutak-atik ponselnya sebelum kembali menatap Bahiyyih.
"Biarkan saja, itu bukan urusan kita."
'1... 2... 3...'
Tepat setelah Bianca selesai menghitung lampu di villa itu semuanya mati. Bahiyyih menatap Bianca penuh tanda tanya, namun yang ditatap terlihat santai saja.
Sepertinya sosok itu merasa ada yang memperhatikannya, ia segera menyorot tempat dimana Bianca dan Bahiyyih berada dengan senter.
Bahiyyih memegang erat lengan Bianca, namun terlihat Bianca hanya terdiam dengan tenang. Sosok itu menunjuk kearah mereka dengan tatapan yang tajam.
"Apa yang sedang ia lakukan?"
"Mungkin menghitung lantai tau menghitung langkah." Bianca mengangkat kedua bahunya tak acuh.
"Apa gunanya menghitung itu?" Bingung Bahiyyih.
"Apalagi? Tentu untuk membunuh kita. Sepertinya banyak target yang dia incar."
Deg. Bahiyyih terdiam, jujur ia merasa takut walaupun ini bukan yang pertama kalinya.
"Ayo Bahiyyih." Bianca menarik lengan Bahiyyih dan membawanya masuk. "Kita harus bersiap." Bianca menyalakan senter dari ponselnya.
"Bersiap?"
"Kau tidak boleh jauh-jauh dari ku ya." Ujarnya manis seraya mengedipkan sebelah matanya.
Melihat Bianca yang memberikan wings pada dirinya membuat wajah Bahiyyih merah merona. Ia akan dengan senang hati menempel pada Bianca.
"Tentu saja." Senangnya.
"Tapi dimana adik kembar ku yang manis?" Pikir Bianca, Bianca yakin jika hal ini terjadi maka Ben pasti akan segera meneleponnya, tapi ini tidak.
Kai juga sama. Biasanya ia akan segera menelepon Bahiyyih jika terjadi sesuatu yang tidak terduga, tapi ponsel mereka hening-hening saja.
Mereka terdiam, namun seolah terpikirkan sesuatu mereka berdua langsung bertatapan.
"Oh yang benar saja." Mereka berdua langsung bergegas keluar villa.
__ADS_1