Innefabel {END}

Innefabel {END}
Gudang (2)


__ADS_3

*Happy Reading...


.


.


.


"Harusnya kau bisa lebih kuat sedikit saja! Karena kau Mama dan Papa tewas." Teriak Ben marah seraya mendorong Bianca hingga terjatuh*.


"Tidak, itu bukan salah Bianca." Gumam Steve merasa bersalah sekaligus takut.


"Dia anggota keluarga mafia, kalau saja sedikit lebih kuat gadis itu pasti tidak akan menyusahkan."


"Dia membuat kedua orang tuanya tewas."


"Menyedihkan."


Steve terdiam, ia ingin membatah hal itu namun tak ada satupun kata yang berhasil keluar dari mulutnya.


Sejujurnya saat kematian kedua orangtuanya bukan hanya ada Bianca saja, tapi disana ada Steve juga. Steve tidak seberani Bianca yang menghadang penjahat itu untuk membunuh ibunya, Steve hanya bisa menutup mulutnya dan bersembunyi di dalam lemari pakaian.


"Hey, keluarlah. Aku berjanji untuk tidak membunuh anak-anak nya." Ujar wanita bersurai panjang itu. Rambut bergelombangnya sedikit acak-acakan.


Jujur saja, Steve kecil merasa terpana sekaligus membenci wanita itu secara bersamaan. Namun Steve juga tidak bisa melakukan apapun selain menangis dan terdiam.


"Kau sangat pengecut ya, disaat adik mu berusaha melindungi ayah dan ibu nya kau malah menangis dan bersembunyi." Wanita itu tertawa kecil dan pergi begitu saja meninggalkan mayat kedua orangtuanya.


Saat itu ada Steve, seharusnya Steve yang disalahkan tapi kenapa malah Bianca yang dibenci?

__ADS_1


Sejak saat itu Steve selalu merasa bersalah pada Bianca, bahkan ketika Bianca menolak kasih sayangnya Steve tidak peduli, apa yang dialami Bianca lebih menyakitkan dibandingkan penolakannya.


||•||•||


"Apa maksudmu? Bianca tidak sadarkan diri?" Tanya Steve tak percaya.


"Dokter sedang memeriksa Nona, keadaannya belum bisa dipastikan." Ujar Jake yang agak takut saat melihat wajah putus asa Steve. Tanpa berpikir panjang Steve pergi meninggalkan pekerjaannya yang saat itu sedang menumpuk.


Bianca dirawat di rumah, Bianca dibiarkan seperti orang yang sedang tertidur, hanya saja setiap beberapa jam sekali akan ada dokter yang memeriksa kondisi Bianca dan memberikannya suntikan.


"Kak." Panggil Steve. Nada suara putus asanya tak bisa disembunyikan.


"Kak Steve, dokter bilang Bianca mengalami overdosis dan kemungkinan untuk sadar hanya sekitar 20%." Jelas Ben dengan raut wajah yang cukup sedih.


Seolah tersambar petir disiang bolong, Steve terdiam, ia jatuh berlutut dan menangis. Steve bertanya-tanya apa yang terjadi dengan Bianca, namun semuanya sudah terjawab ketika Jake membuka lemari yang berada disamping ranjang Bianca.


Lemari itu penuh dengan botol kecil yang berisi obat-obatan. Dokter bilang jika itu adalah obat penenang. Apa yang selama ini di alami Bianca sampai-sampai mengonsumsi obat itu, tidak ada yang tau.


Brak. Pintu terbuka dan memperlihatkan Daniel yang baru saja bangun tidur menatap Steve dengan tatapan khawatir. Steve sendiri juga terkejut dan langsung keluar dari pemikirannya.


"Aku menemukannya, orang itu berada di Washington."


"Lokasi tepatnya?" Tanya Steve. Daniel tidak menjawab, ia menyerahkan ponsel itu pada Steve dan membiarkan Steve melihat titik merah yang bergerak.


Wajah Steve menggelap, ia tak bisa membendung rasa kekhawatirannya. "Kita berangkat sekarang."


...🌸...


Duk. Duk. Duk.

__ADS_1


"Kak kalian didalam?" Teriak Bahiyyih seraya menggedor pintu itu. Berbeda dengan Bahiyyih yang menggedor-gedor pintu sambil teriak, Bianca fokus meraba-raba rumput untuk mencari kunci, ia bahkan mengabaikan luka di jarinya karena tergores rumput tajam.


"Dapat." Ujar Bianca setelah beberapa menit ia meraba-raba rerumputan ditempat gelap yang hanya diterangi oleh senter dari ponselnya.


Dengan cepat Bianca membuka pintu itu, begitu pintu terbuka ia melihat Ben yang sudah lemas dengan nafas terengah-engah, air mata dan keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya.


"Ben." Bianca langsung memasuki gudang dan buru-buru menutup kedua mata Ben.


Ben mirip dengan ibunya yang sama-sama menderita Claustrophobic, dulu ibunya juga sempat kambuh dan dirinya lah yang menolong, sekarang Beomgyu yang kambuh.


Walaupun Bianca juga tau jika penyebab Ben mengalami Claustrophobic adalah karena dirinya yang dulu. Bianca merasa bersalah tapi tidak ada gunanya untuk menyesal, semua sudah terjadi dan Bianca yakin jika Ben akan memaklumi nya ketika ia sudah tau kenyataan.


"Benvolio, bukankah taman didepan mu sangat indah dan cerah?" Bianca berbisik ditelinga Ben. "Ini adalah taman bermain, banyak burung berwarna-warni, bunga-bunga yang bermekaran dengan indah. Cuaca sangat cerah bagus untuk berpiknik dan bermain."


Bianca bisa merasakan nafas Ben yang mulai teratur, sepertinya Ben mulai membayangkan taman yang indah itu. Tubuh Ben bersandar di dada Bianca dan Bianca yang menutup mata Ben. Jujur tubuh Ben cukup berat tapi, cara ini lebih baik daripada keadaan Ben semakin parah.


Orang-orang yang berada disana menyalakan semua senter di ponsel mereka dan mengarahkannya ke Ben agar Ben bisa semakin tenang.


Dirasa sudah tenang, Bianca melepaskan tangannya dari mata Ben, Ben sendiri langsung berbalik dan memeluk Bianca.


"Bianca huhuhu... Hiks..." Tangisnya yang membuat Bianca harus menepuk-nepuk punggung Beomgyu.


"Semua akan baik-baik saja, aku ada disini."


Ben terdiam sepertinya ia tidak lagi menangis tapi tubuhnya masih lemas, sudah untung pria itu tidak pingsan.


"Kakak sebenarnya tadi..." Bahiyyih menceritakan semua kejadian yang tadi Bianca dan dirinya alami, Kai, Terry dan Ben mendengarkan cerita itu dengan seksama.


Mereka bisa mengangkat kesimpulan jika target pembunuh itu ada didalam villa yang mereka tempati.

__ADS_1




__ADS_2