
Happy Reading...
.
.
.
"Apa yang kau katakan tiba-tiba? Aku mengambil alih Shanka? Aku tidak mungkin bisa." Ben mengguncang tubuh Bianca pelan. Siapapun tau kalau Bianca lah yang pantas menjadi pemimpin Mafia Shanka.
"Kau pasti bisa, percaya pada ku. Aku akan membantu mu, yang penting adalah kau harus mendapatkan pengakuan dari mereka jika ingin menjadi seorang pemimpin." Bianca menatap mata Ben dengan serius.
"Bianca, aku tidak mengerti apa maksud mu. Tapi sejak dulu aku selalu bertanya kenapa kau bisa mengetahui rahasia yang bahkan jarang diketahui oleh orang lain? Mustahil kau mendapatkan semua itu dari orang lain juga, kecuali jika kau penasaran dan ingin mencaritahunya. Tapi kau bukan orang yang mau ikut campur urusan orang lain." Kata Ben yang membuat Bianca terdiam. Ben bertanya karena ia khawatir Bianca menyimpan suatu rahasia yang berlebihan.
Bianca tidak bisa bilang jika semua ini Bianca lakukan untuk menebus kesalahannya di masa lalu. Tapi apa yang harus Bianca lakukan?
"Apa kau percaya jika aku bilang, aku memiliki ingatan Tante?" ucap Bianca yang membuat Ben terdiam. Bianca sudah menduganya jika Ben tidak akan percaya. Tapi ini tidak sepenuhnya bohong, secara spesifik Bianca adalah kakak kembar Ben tapi jiwanya adalah tantenya Ben. Ini rumit.
"Aku memiliki ingatan tentang Tante, semuanya seolah-olah orang itu memberitahu ku akan suatu hal." sekali berbohong maka seterusnya akan berbohong, tapi inilah jalan yang harus Bianca lalui untuk sekarang.
Ben benar-benar harus mengambil alih Shanka.
Setelah Ben pikir-pikir, kematian tantenya adalah satu hari sebelum Bianca mengalami koma. Apa maksudnya jika tantenya itu memasuki mimpi Bianca dan memberitahu sesuatu tentang beberapa hal? Atau selama ini tantenya selalu muncul di mimpi Bianca? Yang mana yang benar?
Tapi, Ben sudah memutuskan.
"Begitu, kalau begitu akan mengambil alih Shanka. Kau harus memberi tau aku semua yang kau tau."
"Eh?" Bianca menatap Ben tak percaya. Bukankah penjelasnya pun sulit di percaya? Tapi kenapa Ben percaya dengan begitu mudahnya?
__ADS_1
Ben sudah memutuskan untuk mempercayai Bianca apapun yang Bianca katakan. Bahkan keputusan ia memilih menjadi pemimpin Shanka pun karena Ben mempercayai ucapannya.
Bukan karena semua yang dikatakan gadis itu benar dan bukan karena Bianca lebih pintar dari Ben, tapi Ben memutuskan untuk mempercayai Bianca karena Bianca adalah keluarganya dan karena Bianca adalah kakak perempuan satu-satunya.
Bahkan jika Bianca berkata hari ini bulan akan terbelah pun Ben tetap percaya, karena Ben yang memutuskannya jika apa yang di katakan Bianca salah Ben juga tidak akan kecewa. Ben tidak ingin mengulangi kesalahan yang dulu, Ben tidak ingin kehilangan Bianca lagi. Ben mencintai Bianca karena gadis itu adalah kakaknya. Ben mencintai keluarganya.
Bianca menatap mata Ben memastikan jika Ben tidak berbohong dengan ucapannya tapi nihil, Bianca sangat yakin jika Ben berkata jujur.
"Bahkan jika nona berkata hari ini akan kiamat pun saya akan percaya."
"Saya tidak akan kecewa jika semua itu tidak sesuai dengan realita. Saya yang memutuskan untuk mempercayai nona jadi saya yang akan menanggung semuanya."
"Bianca, apapun yang kau katakan aku akan mempercayainya. Jangan ragu untuk berbicara pada ku. Kakak mu ini akan selalu mempercayai mu."
"Bahkan jika jiwa mu adalah jiwa orang lain, kau tetaplah adik ku karena kau berada di dalam tubuh adik ku. Apapun itu kakak mu ini akan selalu mencintaimu."
Bianca menunduk dan menggigit bibir dalamnya. Ia berpikir kenapa Cristhoper, Soobin dan Ben selalu mempercayai? Harusnya mereka berteriak marah atau menangis kecewa. Tapi kenapa mereka tidak melakukan hal itu?
'Aku tidak peduli mau tuhan, dewa, satan atau apapun aku tidak peduli... Tapi aku akan memohon dengan tulus, berikan sedikit keberuntungan untuk Steve... Tolong biarkan dia tidak memiliki penyesalan... Tolong biarkan dia untuk hidup lebih lama.'
Untuk pertama kalinya Bianca berharap bisa menukar nyawanya dengan nyawa Steve.
...🌺...
"Kakak." panggil si kembar dengan air mata yang berlinang.
Terry berdiri disamping kanan Steve sambil memegang tangan Steve padahal tubuhnya masih lemas tapi Terry memaksakan diri, disamping Terry ada Daniel yang terlihat menahan air matanya dan si kembar juga berdiri disamping kiri Steve. Steve memang sudah membuka kedua matanya tapi tubuhnya semakin melemah.
Nafasnya pun terdengar sangat berat. Steve tersenyum, melihat kakak dan adiknya menangis, sungguh sangat aneh untuk dirinya padahal biasanya mereka selalu baku hantam.
__ADS_1
Si kembar yang selalu pamer dan berakhir dengan bertengkar, kakak tertua yang bersikap kekanak-kanakan dan tidak suka berisik serta tidak mau ngalah, Terry yang tidak pernah mau ikut campur tentang pertengkaran mereka, namun akan mengamuk jika acara latihannya di gagalkan.
Sepertinya Steve akan merindukan masa-masa seperti itu, Padahal dulu Bianca selalu menggeram seperti kucing saat Steve dekati tapi semakin lama Bianca malah bermanja dan menempel padanya. Tapi Steve senang, perjuangannya mendekati Bianca berbuah manis.
Ben juga selalu memasang wajah masam saat melihat Steve bersama Bianca, Ben pasti akan selalu menghabisi kue coklat yang Steve buat untuk Bianca dan pada akhirnya mereka bertengkar dan Steve harus membuat coklat baru.
Daniel yang akan marah-marah jika Steve terlalu memanjakan si kembar, padahal Steve yakin Daniel juga memikirkan hal yang sama untuk si kembar.
Terry yang penurut sehingga Steve tidak tau harus memarahi Terry seperti apa, padahal Steve ingin sesekali memarahi Terry. Keluarga sempurna yang ingin Steve lindungi.
Kai juga, pria yang selalu menyimpan seluruh rahasia karena takut adiknya terluka. Steve harap pria itu bisa lebih terbuka pada adiknya sendiri.
Lalu Shanka, padahal Steve baru saja menjinakkan mereka. Kasian sekali karena seseorang harus berjuang lagi untuk menjinakkan mereka kembali.
Inilah permata berharga bagi Steve bahkan lebih berharga dari apapun yang ada di dunia. Steve tidak punya penyesalan sama sekali. Satu-satunya yang Steve sesali adalah tidak memiliki waktu bahagia yang lebih lama bersama mereka.
Tapi bagi Steve setiap waktu adalah hal yang sangat berharga, terutama untuk mereka. Setidaknya Steve tewas karena berhasil melindungi mereka untuk saat ini, karena mulai sekarang tidak ada yang bisa melindungi mereka lagi.
"Seluruh permata ku yang berharga, aku harap kalian bahagia." ucap Steve sangat lirih sebelum akhirnya ia menutup mata.
TITT... Suara elektrokardiograf yang berbunyi nyaring menandakan jika sudah tak ada lagi detak jantung yang harus didengarkan.
Untuk saat itu, mereka semua merasakan perasaan yang deja vu sama seperti mereka kehilangan orang yang mereka cintai.
__ADS_1
(Bianca & Steve)