Innefabel {END}

Innefabel {END}
Mimpi


__ADS_3

Happy Reading...


.


.


.


Seminggu telah berlalu Bianca dan Ben kembali ke sekolah, tapi kali ini Steve dan Daniel lah yang mengantar mereka, sedangkan Terry memilih untuk menaiki motor miliknya.


Tentu saja Terry di gaji untuk menjaga si kembar, kalau tidak digaji Terry akan melakukan demo secara besar-besaran.


"Wah kalian sudah kembali ke sekolah? Syukurlah." Ujar Riki. "Tapi wajah mu benar-benar babak belur Terry." Riki terkekeh kecil.


"Kau senang sekali ya melihat ku terluka."


"Hahah aku minta maaf." Ujarnya.


Semuanya kembali dengan normal seolah kejadian saat di Washington itu tidak pernah terjadi. Ya itu juga bukan kejadian besar karena kedua kakaknya turun tangan jadi wajar saja jika mereka menganggap kejadian itu hanyalah angin lalu bagi ketiga anak itu.


Kejadian yang baru beberapa hari yang terjadi juga cukup menghebohkan, Bahiyyih yang hanya melihat sedikit saja jadi tidak bisa tidur dan ketakutan saat malam hari, tapi ia bersikap ceria di depan Bianca seolah tidak terjadi apapun.


Bahkan saat ini ia bermain dan bercerita dengan Bianca seolah ia tidak mengalami mimpi buruk setiap malam.


Daniel dan Steve juga berusaha menyelidiki kejadian itu, ia tidak menemukan bukti apapun di gang yang waktu itu Kai lewati. Orang itu sepertinya membereskan mayatnya dengan sangat rapi.


...🌸...


"Kakak ayo kita kesana." Tunjuk seorang gadis kecil cantik yang usianya sekitar 6 tahun. Gadis kecil itu terus menunjuk ke arah taman bunga yang berada di depannya.


"Iyaa ayo." Gadis kecil berambut hitam yang lainnya juga tersenyum bahagia saat menatap bunga-bunga itu.


Tapi tunggu, rasanya semua ini tidak asing. Bianca dalam wujud aslinya berdiri di belakang mereka dan melihat interaksi kedua gadis itu yang sangat gembira. Sepertinya perbedaan umur kedua gadis itu sekitar 2 tahun saja.


Tapi kenapa ingatan ini tiba-tiba muncul di mimpinya? Ini ingatan yang sangat lama sehingga ia melupakan ingatan ini.


"Kakak, apa rasanya sangat sakit?" Gadis itu menatap luka lebam yang ada ditubuh kakaknya dengan tatapan berkaca-kaca. Tak lama kemudian gadis kecil itu menangis.


"Kenapa kau menangis? Kan aku yang terluka." Ujarnya lembut.


"Hiks... Tapi karena aku, Kakak jadi dipukul oleh mama dan ayah hikss..." Tangisnya semakin kencang.


"Jangan menangis, aku sudah terbiasa. Lagipula ini kan bukan yang pertama kalinya." Ia tersenyum sangat lembut yang membuat tangisan adiknya berhenti.

__ADS_1


"Daripada menangis bagaimana jika kita bermain lagi saja?" Gadis kecil itu mengangguk menyetujui ide yang di lontarkan kakaknya.


||•||•||


Plak. Gadis itu menampik tangan kakaknya dengan kasar. Wajahnya berubah menjadi dingin.


Kakaknya yang terlihat terkejut menatap sang adik dengan tatapan bingung sekaligus sedih.


"Ke-kenapa?"


"Kakak apa kau tidak mengerti juga? Kau sangat menggangu ku. Sebaiknya kakak pergi dari hadapan ku." Setelah berkata seperti itu, ia meninggalkan kakaknya seorang diri.


"Ibu ku sudah pergi! Apa sekarang kau juga akan meninggalkan ku? Hiks..." Gadis itu terdiam sesaat.


"Bukankah ini yang terbaik untuk kita? Aku juga tidak ingin diganggu."


Itulah percakapan terakhir yang kakak beradik itu lakukan. Tepat pada usia adiknya yang ke 17 tahun, adiknya melarikan diri bersama seorang pria yang tak dikenal.


...***...


"....ca."


"...nca."


Bianca yang terkejut langsung terbangun dari tidurnya. Wajah Bianca pucat dan keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya. Kini dirinya menjadi pusat perhatian satu kelas.


"Kenapa kau tidur di kelas ku? Wajah mu pucat. Apa kau sakit?" Tanya seorang wanita paruh baya yang merupakan guru bahasa Jepangnya.


Yang ditanya justru terlihat seperti orang yang kebingungan, mimpi itu terasa sangat nyata. Ini pertama kalinya Bianca memimpikan masa lalu di kehidupan yang dulu.


"Eh.. itu... Saya baik-baik saja." Ujarnya bingung. Tatapan mata Bianca terlihat kosong.


Ben yang melihat ada keanehan dari Bianca segera mengangkat tangannya.


"Bianca sedang sakit Bu, apa saya boleh membawanya ke ruang UKS?" Ujar Ben yang membuat guru itu mengangguk.


"Baiklah, sekalian kau antar pulang saja. Kondisinya cukup mengkhawatirkan."


Ben berdiri dan membungkuk. "Terimakasih."


...🌸...


"Suhu tubuhnya normal." Ujar Daniel seraya menatap termometer ditangannya.

__ADS_1


"Dia juga tidak demam dan tenggorokannya baik-baik saja." Sambung Terry.


Saat ini Terry, Ben, Steve dan Daniel sedang berada dikamar Bianca. Sejak pulang sekolah tadi Bianca hanya terbaring di ranjang dengan tatapan mata yang kosong dan sayu.


Hal itu jelas membuat Steve sangat khawatir, Steve sudah memanggil dokter tapi tidak ada gejala khusus, jadi dokter hanya menyarankan agar Bianca bisa beristirahat dengan nyaman.


"Sudah ku bilang, aku tidak sakit." Bianca menarik selimutnya hingga batas leher, ia berbalik membelakangi mereka.


"Bianca, apa kau mengingat sesuatu?" Tanya Daniel berhati-hati.


Deg. Bianca mematung beberapa saat. Ia bertanya-tanya apa Daniel mengetahui sesuatu? Apa Daniel menyadari jika di tubuh ini bukanlah jiwa adiknya? Atau Daniel sudah tau kalau jiwa adiknya sudah mati?


"Aku tidak mengerti apa maksud mu." Jawab Bianca tanpa menatap Daniel.


"Ah benar, aku hanya berbicara yang tidak-tidak. Kalau begitu beristirahat saja." Daniel langsung keluar dari kamarnya. Begitu juga dengan Terry dan Ben.


Steve sendiri memilih untuk duduk disamping Bianca, walaupun Bianca membelakanginya itu tidak masalah.


"Apa kau merasakan sesuatu?" Tanya Steve.


"Aku baik-baik saja, ku rasa aku hanya mimpi buruk tadi." Jawab Bianca lesuh.


Mendengar jawaban Bianca, Steve menghela nafas berat, sepertinya Bianca tidak mau jujur padanya. Tapi Steve tidak akan memaksa.


"Bianca, aku selalu berharap agar kau menjadi gadis yang paling bahagia di dunia. Tapi kurasa untuk mencapai kebahagiaan itu kau perlu berjuang, aku harap kau tidak menyembunyikan apapun dari ku. Tidak masalah jika itu adalah kenyataan yang tidak bisa ku percayai. Tapi kalau kau tidak mau jujur pun aku tidak akan marah, karena kebahagiaan dan kenyamanan mu itu yang terpenting."


Bianca terdiam, ucapannya sama seperti ucapan yang ibunya katakan dulu. Bagaimana mungkin Bianca bisa jujur kalau sebenarnya dirinya adalah Tante yang telah membunuh kedua orangtuanya.


"Kalau seandainya jiwa ku bukan jiwa adik mu yang kau kenal dulu bagaimana?" Tanya Bianca.


Namun setelah menunggu selama beberapa menit, Steve tidak menjawab, hanya helaan nafas Steve yang terasa semakin berat.


"Walaupun aku tidak mengerti kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu, tapi aku akan menjawab." Ia terdiam sebentar. "Aku tidak peduli Bianca, mau siapapun diri mu aku tidak peduli. Selagi kau berada didalam tubuh adik ku, kau tetaplah adik ku yang paling manis. Tidak masalah kau mau berubah sikap seperti apapun aku tidak akan peduli. Karena tugasku hanyalah melindungi dan menyayangi mu."


"Apa jawaban itu sudah cukup?"


Bianca terdiam, ia tertawa kecil. Sepertinya Steve salah mengartikan pertanyaannya, sepertinya Steve mengira jika maksud dari pertanyaannya adalah perubahan sikap dan sifat Bianca. Tapi tidak masalah.


Biar saja rahasia ini dirinya simpan sampai mati.


"Iya sudah cukup."


__ADS_1



__ADS_2