Innefabel {END}

Innefabel {END}
Menyelamatkan Bianca


__ADS_3

Happy Reading...


.


.


.



"Ku pikir penjagaannya akan ketat... Ternyata tidak ya." Ujar Terry seraya menatap sekelilingnya.


"Aku rasa karena ada praktek ilegal disini." Sahut Kai yang juga bersikap waspada takut-takut ada jebakan.


"Apa benar ini jalannya? Ini terlalu gelap dan sumpek." Ben mengibaskan tangannya, menghalau debu-debu yang masuk ke hidung.


Ini adalah gedung tua yang terbengkalai, setiap hari Ben dan Bianca melewati tempat ini tapi tidak ada yang aneh, kalaupun ada sandera yang disimpan disini pasti akan terdengar sampai keluar.


"Jangan berpikir pendek Benvolio. Justru hal-hal tak terduga adalah hal-hal yang ada didekat mu." Kata Daniel seolah mengetahui apa yang Ben pikiran.


"Darahnya berhenti disini." Ucap Terry seraya menatap sebuah dinding polos. Aneh, kenapa darahnya terhenti disini?


Mereka semua terdiam bingung. Kecuali Steve yang maju terlebih dulu dan mendekati dinding itu. Steve menempelkan telinganya ke dinding itu dan mengetuk nya.


Tuk. Tuk. Tuk.


"Apa yang dia lakukan?" Tanya Bahiyyih bingung.


"Dia menggunakan suara untuk mencari celah tersembunyi. Kalau darahnya berhenti disini kemungkinan ada celah yang menghubungkan ke pintu." Jelas Terry.


"Ketemu." Ujar Steve dingin. Steve mengepalkan tinjunya erat-erat.


Brak. Ia memukul dinding itu sekuat tenaga sehingga dinding itu retak, mereka dapat melihat jika ada tombol di dalam dinding. Tanpa pikir panjang Steve menekan tombol itu dan muncul lah tangga di bawah kaki Steve.


Sejujurnya dinding itu tidak perlu dipukul. Kai yakin jika Steve memukul dinding itu hanya untuk melampiaskan amarahnya saja.

__ADS_1


PRANK. Suara nyaring itu berasal dari ruangan di bawah tangga. Dengan segera mereka berlari menuruni tangga dan menemukan sebuah pintu besi.


...🌸...


BRAK. Daniel menendang pintu itu hingga terbuka dan bertepatan dengan seorang pria tua berseragam dokter keluar dari sebuah ruangan.


"DASAR WANITA SIALAN! BERANI-BERANINYA KAU MEMECAHKAN CAIRAN ITU!!" Maki pria tua itu yang membuat si bersaudara Siegfried menggeram marah.


Ben yang memegang sebuah pipa besi, mengangkatnya tinggi-tinggi dan mengayunkan pipa itu kearah pria tua tersebut. Wajah Ben menggelap penuh amarah saat melihat kondisi Bianca.


"Bajingan! Bagaimana bisa kau merantau leher kakak ku seperti anjing?!!" Marah Ben.


Buk. Pria itu terjatuh dan tak sadarkan diri setelah pipa itu mendarat dengan cantik di kepalanya.


"Bianca." Bahiyyih berlari menghampiri Bianca.


DEG. Oh tidak wajah mereka bertiga semakin menggelap dan menatap pria yang sudah tersungkur itu penuh permusuhan ketika melihat luka-luka di sekitar tubuh Bianca, apalagi saat melihat kepala Bianca yang terus mengeluarkan darah. Tatapan mereka seolah-olah ingin menguliti pria itu hidup-hidup.


Dengan marah Daniel meraih rantai itu dan menggenggam nya dengan kuat.


"Maaf aku terlambat." Tangisnya.


"Tidak, kalian tepat waktu." Ujar Bianca dengan suara yang parau. Dadanya sesak dan kepalanya terasa sangat sakit.


Bianca bersandar di dada bidang Steve, Bianca tersenyum lembut, kedua tangannya masing-masing memegang tangan Daniel dan Ben yang berlutut dihadapannya, di belakang Steve ada Kai yang berdiri, di samping Ben ada Bahiyyih dan disamping Daniel ada Terry. Mereka semua menatap Bianca khawatir.


Tubuh Bianca yang terlihat lemah, wajahnya pucat, matanya memerah, kulit tubuhnya juga memerah, pergelangan kakinya berdarah dan kepalanya juga berdarah.


"Apa kalian membenci Bianca?" Tanya Bianca lemah seraya menatap Daniel dan Ben dengan tatapan sayu.


Daniel dan Ben terbelalak mendengar pertanyaan itu, mereka menunduk dan menggenggam tangan Bianca erat.


"Kami hanya sedikit kesal karena kejadian itu, tapi kami tidak pernah sekalipun membenci mu. Kami minta maaf." Kata mereka berdua bersamaan. Mereka sungguh menyesal.


Apa yang mereka katakan itu jujur, tidak pernah sekalipun mereka membenci Bianca. Hanya saja Ben dan Daniel yang belum bisa mengatasi rasa kesedihan karena orangtuanya meninggal dan mereka juga kesal karena mereka tidak melakukan apapun, karena itu mereka menumpahkan seluruh amarah mereka pada Bianca.

__ADS_1


Mereka benar-benar tidak bermaksud untuk menyakiti gadis itu, sungguh.


Wajah Bianca mendadak menjadi lega, ia tersenyum.


"Uhuk." Bianca terbatuk dan memuntahkan darah. "Syukurlah... Kalau begitu aku bisa beristirahat." Setelah berkata seperti itu Bianca memejamkan matanya, ia tidak sadarkan diri.


"ADA PENYUSUP." Teriak seseorang yang baru saja datang. Orang itu terlihat membawa senjata dan ia tidak sendiri.


"Sepertinya mereka sudah bosan untuk hidup." Ucap salah satu dari mereka meremehkan.


"Bawa Bianca ku ke rumah sakit." Ucap Steve yang menyerahkan Bianca pada Kai.


"Terry, kau amankan si tua Bangka itu. Bahiyyih lakukan tugas mu." Ucap Ben dingin.


"Biar kami yang menghadapi mereka." Ujar Steve.


Terry terdiam, melihat wajah ketiga Siegfried itu menggelap, Terry jadi merasa kasian dengan para musuh yang belum sempat bertobat. Akan terjadi pembantaian disini.


"Jangan khawatir, penyiksaan ini tidak akan berlangsung dengan cepat." Ujar Steve dingin, ia mengepalkan kedua tangannya dan menatap mereka tajam.


"Sekarang kau akan merasakan siksaan neraka dunia." Kata Daniel yang mencabut belati dari sandaran sofa itu.


"Kau harus membayar apa yang telah kau lakukan. Bayarlah sampai ke bunganya." Ben menggeret pipa besi itu hingga menimbulkan percikan api.


"Haruskan aku menyiapkan bom?" Kata Bahiyyih yang tengah mengumpulkan beberapa bahan kimia. Ia menggenggam botol itu dengan erat hingga botol itu pecah berkeping-keping.


"Sepertinya di bunuh adalah hukuman yang terlalu ringan untuk pria ini." Sahut Terry yang saat ini sedang mengikat pria tua itu kuat-kuat.


Kai tersenyum penuh arti, ia menggendong Bianca penuh kehati-hatian. Kulit Bianca merah semua sudah pasti kulitnya iritasi, terbakar dan terasa perih. "Mereka harus di suntikan dengan cairan kimia yang perlahan-lahan akan melelehkan kulit mereka."


'Welcome to hell.'



__ADS_1



__ADS_2