
Happy Reading...
.
.
.
Suara riuh dari aula pesta terdengar oleh seluruh keluarga Siegfried, entah kenapa mereka merasa jika pemilik acara ini sengaja menampilkan secara terang-terangan tentang perjudian yang mereka anggap sebagai permainan itu.
"Wah sial aku kalah."
"Yess aku menang."
"Fu*k bagaimana bisa begini?!!"
"Itu karena kau payah hahaha."
Keluarga Siegfried kompak menyeritkan keningnya tak suka. Mereka memang tak suka mendengar orang berbicara kasar tapi kalau marah mereka sering berbicara kasar, tapi mereka tidak suka mendengar orang berbicara kasar, paham kan?
Steve menutup kedua telinga Bianca dengan kedua tangannya. "Duh, maaf ya seharusnya kau tidak boleh mendengarkan perkataan sampah seperti ini."
Bianca mengedipkan kedua matanya, sedangkan Terry dan Ben hanya menatap Bianca dengan tatapan yang sulit di artikan. Padahal dibandingkan mereka bertiga Bianca lah yang lebih sering berbicara kasar.
Bianca tertawa canggung. "Kakak aku baik-baik saja." Bianca meraih kedua tangan Steve dan menurunkannya dari telinga Bianca. Akhirnya tangan Steve pun beralih memegang kedua bahu Bianca.
Saat ini mereka semua kompak memakai tuxedo hitam, kecuali Bianca yang memakai dress berwarna merah hitam.
__ADS_1
"Kau yakin mau bermain? Tidak aku saja?" ujar Ben sedikit khawatir.
Bianca melirik Ben. "Lakukan saja sesuai rencana awal, lalu tentu saja kau juga harus bermain. Untuk pemanasan kita main yang lain dulu."
"Kalau begitu aku pergi dulu, sampai jumpa nanti." Ben pun perlahan mundur dan pergi begitu saja, Ben akan mencoba permainan lain sekarang.
"Bukan kah ini aneh? Seharusnya acara ini tidak dilakukan secara terang-terangan, tapi mereka seolah sengaja melakukannya untuk memancing seseorang." ucap Daniel seraya menatap sekelilingnya.
"Sepertinya mereka mengincar sesuatu dengan memanfaatkan kondisi ini, tapi bisa saja mereka melakukan hal ini karena memang ingin." ujar Terry.
"Ya apapun itu kita harus fokus pada tujuan kita, masalah lain akan kita pikirkan nanti." ucap Bianca yang entah kenapa membuat Steve merasakan firasat yang tidak begitu bagus.
"Woah lagi-lagi tidak ada yang bisa mengalahkannya." seru orang-orang seraya menatap ke tengah aula.
"Sepertinya acara itu sudah di mulai, tapi kenapa aku tidak melihat pedangnya?" seru Riki yang tiba-tiba saja sudah ada di samping Bianca.
"Entahlah, ngomong-ngomong dia cukup mirip dengan mu ya." kata Daniel yang membuat Riki menghela nafas.
Daniel terdiam, ya Daniel merasakan memiliki adik-adik pembuat onar. Steve yang sangat fanatik dengan Bianca, Ben dan Bianca yang selalu berkelahi dan terlibat banyak masalah, lalu adik angkatnya, Terry yang malah ketularan si kembar.
"Wahh hebat." suara riuh tepuk tangan terdengar dari arena sebelah yang sontak membuat mereka semua menoleh kearah kirinya. Disana terlihat Ben yang tersenyum bangga dengan memeluk banyak chip di hadapannya.
Oh apa Ben memenangkan perjudian itu?
"Apa itu permainan sodoku ?Di memenangkan permainan memutar otak itu? Hebat." puji Riki.
Ya Terry dan Bianca tidak ingin mengakuinya sih tapi dibandingkan mereka Ben lah yang paling pintar dalam permainan putar otak ini. Ada beberapa permainan memutar otak bisa saja jika Ben mengikuti semua permainan itu Ben bisa memenangkannya.
"Kau tidak ingin mencobanya?" tanya Bianca yang membuat Terry menggeleng.
__ADS_1
"Tidak terimakasih, gaji ku bisa terancam langsung habis kalau ikut bermain." tolak Terry.
Itu benar juga sih, walaupun sudah diangkat sebagai keluarga Siegfried tapi Terry tetap harus bekerja dan digaji, Terry tidak mendapatkan uang jajan perminggu seperti Bianca atau Ben tapi Terry mendapatkan akses untuk memakai beberapa kekuasaan keluarga Siegfried jika Terry membutuhkannya dan juga jika seluruh keluarga Siegfried musnah maka Terry berhak memimpin keluarga itu.
Terry bisa dibilang sebagai kartu cadangan jika terjadi sesuatu pada seluruh keluarga Siegfried, Terry tentu mengetahui hal itu dan menyetujuinya lagipula di adopsi oleh keluarga Siegfried adalah hal yang tidak pernah terbayangkan oleh Terry.
"Haruskah aku mulai juga?" gumam Bianca.
...🌺...
"Kakak." panggil Bahiyyih seraya menatap Kai yang masih duduk di atas ranjang. Kai melirik kearah Bahiyyih dan tersenyum. Bahiyyih sendiri langsung berjalan menghampiri Kai dan duduk disampingnya.
"Maaf karena sudah membuat mu khawatir Bahiyyih." Kai mengelus surai Bahiyyih dengan lembut.
Bahiyyih menunduk, ia merasa sedih karena tidak bisa berbuat apapun dan membiarkan Kai harus menanggung semuanya sampai Kai terjerumus ke tempat terlarang itu.
"Jangan sedih Bahiyyih, aku yang memilih jalan ini jadi aku juga yang harus mengatasinya. Aku berjanji akan memberikan mu tempat yang akan membuat mu bahagia karena itu berkorban sedikit seperti ini tidak akan menjadi masalah."
"Tapi seharusnya aku bisa membantu mu kak, aku tidak ingin hanya menjadi penerima hadia aku juga ingin memberikan hadia untuk kakak." ucap Bahiyyih sedih yang entah kenapa membuat Kai tersentuh, hanya Bahiyyih satu-satunya keluarga yang Kai miliki.
"Bahiyyih kau tidak lupakan apa yang Bianca katakan? Aku hanya perlu berjuang, lagipula aku tidak sendiri aku akan dibantu oleh Ben dan Terry. Karena itu jangan khawatir aku pasti bisa mendapatkannya." Kai tersenyum sembari memegang erat kunci yang Bianca kasih tadi.
Melihat Kai tersenyum membuat hati Bahiyyih menghangat. Bahiyyih akan membantu Kai dengan caranya sendiri.
"Oh apa kakak tau? Hari ini Bianca dan Ben akan melakukan permainan." ujar Bahiyyih ceria kembali.
Permainan? Permainan yang tersedia sekarang kan perjudian. Masa iya mereka melakukan perjudian? Walaupun mereka keluarga Mafia bukan berarti mereka bisa memenangkan perjudian itu dengan mudah.
"Ayo kita melihatnya."
__ADS_1