
Happy Reading...
.
.
.
...Beberapa Jam Sebelumnya......
Setelah seharian penuh akhirnya Kai bangun dari tidurnya, melihat kakaknya bangun tentu Bahiyyih sangat senang. Bahiyyih pun memberitahu keluarga Siegfried dan memberikan Kai bubur yang mudah dicerna.
"Akhirnya Pangeran tidur kita bangun." ejek Bianca yang membuat Kai agak kesal. Tapi karena Kai lapar akhirnya Kai memilih untuk mengabaikan Bianca dan fokus memakan makanannya.
Didalam kamar itu hanya ada di kembar, Kai dan Bahiyyih. Bahiyyih yang duduk di samping Kai di ranjang, Ben yang duduk di sofa dan Bianca yang berdiri disamping jendela, ia menatap hamparan laut yang sesekali ia melihat lumba-lumba yang melompat atau ikan yang berenang.
Sejujurnya pesta ini sama sekali tidak menyenangkan dan cenderung membosankan, Bianca tidak menyukainya tapi mau bagaimana lagi? Ia juga terpaksa kesini karena ada misi yang entah kenapa rasanya terlalu mudah untuk di atasi.
"Rasanya tidak sopan untuk berbicara pada orang yang baru sadar, tapi aku ingin semuanya cepat-cepat selesai jadi aku akan langsung ke intinya." ujar Ben yang membuat Kai menatapnya serius. Ben menjeda sedikit ucapannya.
"Aku yakin kau tau jika kalian memiliki perusahaan pribadi yang dikelola secara turun temurun, kau mungkin tidak pernah tau dengan kakaknya kakek mu tapi aku tau kau cukup dekat beliau dan orang kepercayaannya."
"Saat kau kecil kau pasti sering diberikan roti oleh seorang pria yang suka memakai topi dan kacamata hitam, atau lebih singkatnya kau pasti sering bertemu dengan pria ini." Ben memberikan sebuah foto kepada Kai, Kai sendiri terkejut saat melihat foto itu. Itu adalah foto pria tanpa nama yang sering mengunjungi dirinya saat masih kecil, pria yang sangat baik. Tapi pria itu berhenti mengunjungi dirinya ketika ia berusia 6 tahun.
Tapi orang kepercayaannya pria itu datang dan selalu mengunjunginya sampai dirinya diambil oleh sang ayah, yang Kai tau pria itu sudah tewas karena kecelakaan.
"Kau tidak diperbolehkan untuk bertanya." ujar Ben saat melihat Kai ingin membuka suaranya, namun tak jadi karena Ben melarang. "Ya dia adalah kakak kandung kakek mu yang sudah tewas, alasan kakek mu tidak bisa mewarisi perusahaan itu—"
"Karena kakek tidak memenuhi kriteria yang dibutuhkan dan juga kakek sengaja membuat benda penting itu kan." potong Kai yang membuat Ben mengangguk.
__ADS_1
"Kau benar, karena kau sudah tau ceritanya jadi aku akan langsung menawarkan kerja sama ini."
"Kerja sama?" Kai menyerit keningnya.
"Aku akan membantu mu untuk mengambil alih perusahaan itu dan juga menghancurkan kakek mu."
Deg. Bahiyyih dan Kai terdiam terkejut, bagaimana Ben bisa menawarkan hal itu dengan begitu mudah? Mereka melirik kearah Bianca yang hanya diam saja sembari menatap lautan, entah apa yang Bianca pikirkan.
"Aku tidak akan menyuruh mu menjawab sekarang, kau bisa menjawabnya setelah memikirkan hal itu baik-baik. Tapi tentu ini tidak gratis, kau harus membayarnya begitu kau menyetujui kerja sama ini. Aku tidak akan memaksa mu." Ben bangkit dari tempat duduknya, ia melempar sebuah kunci yang mereka dapatkan kemarin.
"Apa ini?" ucapan Kai terkejut sambil memegang kunci yang dibuat kalung dengan lambang aneh. Lambang bunga dengan sayap itu adalah lambang keluarga Huening.
"Kebahagiaan bisa kau dapatkan dengan kerja keras. Itu yang mommy ku katakan." celetuk Bianca yang akhirnya menatap mereka.
Ben sendiri menyerit heran, ia tidak tau kapan ibu mereka pernah bilang seperti itu, atau mungkin ibu mereka hanya berkata pada Bianca. Tapi sejak kapan ibu mereka Bianca panggil mommy?
"Pertimbangkan penawaran ku."
......🌺......
...Kembali Ke Masa Sekarang......
Ben menatap sekelilingnya, ia tidak tau permainan apa yang harus ia mainkan karena ini adalah pertama kalinya Ben berjudi.
'Apa yang harus aku lakukan?'
"Wah permainan apa ini?! Sulit sekali."
__ADS_1
"Tidak sulit, kau saja yang payah."
Perkataan orang-orang itu tanpa sadar membuat Ben melangkahkan kakinya ke arah mereka.
"Hey anak muda, apa kau ingin mencobanya?" tanya pria yang tadi mengeluh kalah itu.
"Hey jahat sekali, dia terlihat seperti anak kecil biasa." ujar seorang wanita cantik itu yang sontak membuat Ben tersenyum.
"Apa aku boleh mencobanya?" tanya Ben.
"Tentu saja, kau harus pasang taruhan dulu. Satu buah chip itu setara dengan $1000 USD, permainan ini bernama Sodoku, kau hanya perlu mengisi kotak kosong ini dengan angka yang berbeda, disini ada 5 level. Level pertama adalah angka 1-9, level kedua 1-13, level ketiga 1-17, level ke empat 1-21 dan level terakhir 1-99." jelas wanita itu seraya memegang sebuah chip dan jug menunjuk kearah layar sebesar 43 inc.
Ben sendiri hanya mengangguk, karena ia hanya mencoba jadi tak masalah kalau kalah. "Apa yang aku dapatkan kalau memang?"
"Kau harus memenangkan semua level untuk mendapatkan hadia, kalau kau kalah di satu level maka kau dinyatakannya gugur tentu kalau mau ikut lagi kau harus bayar dan mulai dari awal. Kalau kau menang seluruh chip yang ada di kotak kaca ini jadi milik mu."
Oh, Ben baru sadar kalau ada kotak kaca yang berisi seluruh chip para pemain yang gagal itu di letakan disamping layar.
"Baik lah akan ku coba." Ben meraih stylus pen dan mencoba permainan itu, tapi baru beberapa menit mengerjakan ia sudah kalah di level tiga. Tentu saja hal itu membuat mereka semua tertawa.
"Tidak apa nak, lulus sampai level tiga juga merupakan hal yang membanggakan." seorang pria asing menepuk bahunya.
Ben tersenyum, ya sekarang Ben sudah mengerti untuk permainan level selanjutnya. Ia mengeluarkan sebuah chip yang baru ia beli tadi. "Aku mau main lagi."
"Wah anak ini pantang menyerah ya."
Ben hanya tersenyum mendengar ucapan itu. Sepertinya Ben akan memainkan permainan lain lagi nanti.
__ADS_1