
Happy Reading...
.
.
.
...Seminggu Sebelumnya......
Sao Paolo, Brazil.
09.10 Am.
Di Mansion Utama Huening.
Seluruh pelayan yang ada di keluarga Huening berbaris dengan rapi menghadap ke arah pintu utama, karpet merah membentang dari arah berhentinya mobil hingga pintu masuk, seolah-olah tidak ingin membiarkan kaki majikannya menginjak tanah.
Kai, Bahiyyih dan Ben turun dari mobil dan berjalan dengan santai memasuki Mansion itu dengan santai seolah-olah hal seperti ini adalah hal yang biasa.
"Bem vindos senhoras e senhores." (selamat datang tuan dan nyonya) ujar seluruh pelayan itu dengan kompak sambil membungkuk hormat.
Ben bahkan sampai speechless saat melihatnya. Memangnya mereka keluarga kerajaan? Itulah yang Ben pikirkan.
Namun setelah tiga hari Ben tinggal di Mansion ini, Ben jadi tau kalau kelurga Huening itu layaknya keluarga kerajaan, Ben rasa mereka adalah keluarga bangsawan ternama. Bahkan saat mandi saja para pelayan akan dengan senang hati membantu majikannya mandi.
Tentu saja saat Ben ingin dibantu mandi Ben dengan keras menolaknya. Perlakuan mereka berbeda jauh dengan perlakuan para pelayan di rumahnya yang gk ada ahlak. Padahal Ben tidak melakukan apapun tapi entah kenapa ia merasa lelah.
"Bisa kah kita langsung mencari tempat itu?" ucap Ben lesuh.
"Bukankah kau sendiri yang bilang ingin istirahat? Apa para pelayan disini bekerja dengan malas-malasan?" kata Kai.
"Apa? Tidak sama sekali, mereka bekerja dengan rajin dan giat."
"Hm... Begitu." Kai bangkit dari duduknya. "Kalau kau ingin langsung ke ruang bawah tanah, ayo ikut dengan ku." ucapnya.
__ADS_1
Ben dengan semangat bangkit dari duduknya dan mengikuti Kai ke ujung ruangan, di ujung ruangan itu terdapat sebuah pintu kayu yang sepertinya tidak dikunci.
"Ini jalan untuk akses ke ruang bawah tanah, tapi nanti ada pintu lagi dibawah sana." jelas Kai yang membuat Ben mengangguk.
Beruntung di Mansion ini hanya ada mereka bertiga dan para pelayan, ayahnya berada di China bersama kakeknya.
Kriet... Kai membuka pintu itu secara perlahan, di sana ada banyak anak tangga untuk mencapai sebuah pintu besi yang ada di bawah sana.
Mereka menuruni tangga itu secara perlahan, tak lupa mereka menutup pintu kayu tadi. Ditempat itu sangat gelap.
"Apa kau yakin baik-baik saja?" tanya Kai mengingat Ben memiliki fobia gelap yang cukup parah.
Ben terdiam dan hal itu membuat Kai khawatir, apa seharusnya Kai tidak mengajak Ben? Atau Kai buka saja pintu kayu itu agar sedikit lebih terang? Tapi nanti ketahuan.
Ben sendiri dengan tangan gemetar terlihat mengutak-atik ponselnya, Ben menyalakan lampu dari ponselnya.
"Aku tidak terlalu baik, tapi setidaknya aku tak apa." ucap Ben. Kai bisa merasakan jika tangan Ben yang gemetar dan tubuh Ben yang lebih banyak mengeluarkan keringat, padahal tempat ini bisa dibilang cukup dingin.
"Baiklah." mereka berdua kembali melanjutkan perjalanan mereka, lalu mereka menghentikan langkah mereka ketika menemukan sebuah pintu besi.
"Apa Bianca salah mengambil kuncinya?" ucap Ben yang terlihat bingung. Ben memang tidak tau apapun mengenai ruang bawah tanah milik keluarga Huening. Semua yang Ben katakan itu berdasarkan informasi dari Bianca yang katanya Bianca informasi itu berasal dari 'seseorang' yang tak perlu disebutkan namanya.
Ben jadi berpikir bagaimana cara Bianca mendapatkan banyak informasi berharga seperti itu.
"Tapi bukankah kata Bianca, yang terpenting adalah permatanya?" ujar Kai yang membuat Ben mengangguk membenarkan.
Kalau di perhatikan lagi ada 6 buah permata di kunci itu dan ada 6 buah lubang kecil di pintu besi ini. Apa permata itu harus di masukan ke dalam lubang besinya?
"Bagaimana kalau permata itu dimasukkan kedalam lubang besi?" saran Ben yang membuat Kai mencoba menekan permata itu ada permata itu pun lepas dari kunci.
Kai mencoba memasukan permata itu ke dalam lubang besinya dan itu cocok. Kai mencobanya hingga permata itu habis. Kemudian pintu besi itu mengeluarkan asap, lalu terbukalah pintu itu.
Ben membelalakkan matanya terkejut. Hei, bukankah tempat ini terlalu canggih?
"Sudah terbuka, bagaimana jika kita masuk?"
__ADS_1
"Eh? Oh ya."
Kai terlihat biasa saja, kenapa Kai tidak terkejut seperti Ben? Atau hal seperti ini adalah hal yang biasa untuk Kai?
Ben menatap sekelilingnya yang terlihat sedikit lebih terang dari tangga tadi. Terdapat cctv dan beberapa senjata, lalu ada juga lemari kayu. Tempat ini sangat berdebu, hal itu cukup membuktikan jika tempat ini sudah cukup lama tidak di kunjungi.
Ruangan ini Bahakan terbilang sangat luas dan banyak buku-buku juga.
"Apa kakek mu seorang tentara?" tanya Ben ketika melihat banyaknya senjata api yang terpajang di berbagai sudut ruangan.
"Hm? Aku tidak tau."
Oh ya benar juga, dia kan di adopsi setelah kakaknya kakek itu meninggal, wajar kalau Kai tidak tau banyak tentang hal ini.
"Kalau begitu sekarang kita hanya perlu mencari sesuatu yang bisa di buka dengan kunci itu kan?"
"Ah benar, tapi aku tidak melihat apapun di tempat ini selain senjata dan beberapa buku."
Ya itu benar, tapi mari kita putar otak lagi. Tidak mungkinkan kunci ini hanya pajangan untuk permata?
"Apa kau tau nomor telepon asisten kakaknya kakek mu itu?" tanya Ben yang membuat Kai menggelengkan kepalanya bertanda jika Kai tidak tau.
Kalau begitu tidak ada pilihan lain, Ben harus meminta Steve atau Bianca untuk melacak nomor telepon itu. Tapi sebelumnya, kita bisa mencari sesuatu yang berguna disini.
"Hei ada buku harian, mungkin kita dapat menemukan sesuatu." ujar Kai sembari memegang sebuah buku.
"Bagaimana jika kita bacanya nanti saja? Bawa buku itu dan ayo kembali. Sebentar lagi makan malam para pelayan pasti akan mencari mu."
Ah itu benar. Kai pun menuruti ucapan Ben, mereka kembali dengan membawa buku harian itu.
Entah apa isinya, sepertinya cukup penting.
__ADS_1