Innefabel {END}

Innefabel {END}
Pertemuan Tak Terduga


__ADS_3

Happy Reading...


.


.


.


"Aku tak menyangka kalian terpikirkan hal itu." ucap Terry kagum ketika tau kalau yang memainkan permainan itu sebenarnya adalah Ben.


"Ya, awalnya kami tidak berniat melakukan hal itu tapi karena permainan nya mengasah otak jadi kami mencobanya."


Berbeda dengan Ben yang mudah belajar melalui kegagalan orang lain, Bianca adalah tipe orang yang memastikan sesuatu dengan dirinya sendiri dulu baru bisa mempelajarinya dengan benar.


Ben dan Terry berjalan di lorong kapal, mereka ingin makan di restoran, walaupun ini tengah malam tak masalah jika mereka meminta makanan lagipula kalau makan di jam yang tidak ditentukan mereka yang membayarnya.


"Menurut mu kapan Kai akan sadar?" ucap Ben.


"Sebenarnya tadi Kai sudah sadar tapi karena kelihatan sangat lemas aku memberikannya makanan dan obat, lalu dia kembali tidur." jelas Terry yang membuat Ben sedikit lebih lega.


Ben dan Terry memberhentikan langkahnya begitu menginjak lantai dua, restauran ada di lantai tiga tapi karena lift nya penuh jadi Ben dan Terry memutuskan untuk naik tangga dan begitu sampai di lantai dua mereka tidak terkejut karena aula pesta itu menjadi arena judi sekarang.


"Ucapannya benar ya." ujar Ben yang kembali melengos pergi.


...🌺...


"Oh kau membawakan makanan untuk Kai? Kenapa banyak sekali?" tanya Terry ketika melihat Ben membawa dua paper bag besar yang berisikan makanan.


"Selain untuk Kai ada juga untuk Bianca, aku yakin dia tidak akan mau ke restauran karena malas. Anak itu kan lebih memilih untuk menahan lapar daripada harus ke restoran." jelas Ben yang memang ada benarnya. Sangking malasnya bergerak Bianca pernah tidak makan seharian ataupun turun dari kasur.


"Benar juga ya."

__ADS_1


Sepanjang lorong lantai dua Ben dan Terry terus menerus membicarakan berbagai hal, entah itu rencana selanjutnya, pengobatan Kai ataupun hal-hal yang tidak begitu penting. Mereka mengisi waktu perjalanan dengan mengobrol.


Namun begitu sampai ditangga, langkah Ben terhenti dan juga Ben terdiam sesaat. Matanya memicing tak suka saat melihat seorang pria berambut pirang yang berjalan mendekati mereka.


Tapi ini bukan saatnya Ben mengamuk, Ben harus tahan amarah ini. Sebaiknya Ben langsung berjalan saja dan berpura-pura tak mengenalinya.


Terry yang melihat reaksi Ben sepertinya mengetahui siapa pria itu, Terry memegang bahu Ben dan mereka pun melanjutkan kembali perjalanannya.


"Apa mayat kedua orang tua mu sudah ditemukan?" bisik pria itu begitu berdiri disamping Ben. Pria itu tersenyum miring dan berjalan santai.


Terry yang tak mengerti ucapan pria itu mengerutkan keningnya dengan bingung. Apa maksud perkataannya? Namun melihat reaksi Ben yang mengigit bibirnya sampai berdarah dan mengeluarkan aura menyeramkan sepertinya memang benar rumor itu.


Rumor tentang mayat sepasang suami-isteri dari keluarga Mafia Siegfried yang menghilang secara misterius.


'Sial! Kenapa ada orang yang repot-repot mencuri mayat?'


...🌺...


"Kau bertemu orang itu?!" ucap Steve terkejut ketika mendengar cerita Ben. Sekarang adalah hari terakhir pesta ini di adakan dan juga sekarang seluruh keluarga Siegfried telah berkumpul di kamar Daniel.


"Apa dia bilang sesuatu pada mu? Kau menggigit bibir mu dengan kencang." ujar Steve seraya mengobati bibir Ben yang berdarah.


"Dia bertanya apa jasad orang tua kita sudah di temukan."


Deg. Bianca memberhentikan acara makannya, tunggu sebentar apa mereka bilang jika jasad adik dan suaminya menghilang? Itu tidak mungkin! Kenapa ia baru tau?


Sejujurnya Terry ingin bertanya, namun sepertinya situasi ini sangat tidak memungkinkan untuk bertanya. Tapi apa gunanya mencuri jasad orang lain?


"Steve, bukankah kau sudah mencari tahu tentang hal itu?" tanya Daniel, "Maksud ku tentang ia mengumpulkan beberapa jasad, termaksud jasad orang tua kita dan jasad Tante."


"APA?!" seru Bianca terkejut. Maksudnya jasad tubuhnya yang asli juga di curi?!

__ADS_1


'Dasar sialan!'


"Bukankah aku sudah memberitahu mu tentang hal ini?" Ben menyerit bingung.


"Kapan? Aku tidak ingat sama sekali."


Ada yang aneh dengan dirinya, entah kenapa akhir-akhir ini Bianca sering melupakan sesuatu.


"Bianca kami sudah membicarakan hal ini sebelum kita pergi ke pesta." jelas Daniel yang juga ikut bingung.


"Jangan bercanda! Aku bahkan tidak ingat apa—"


Tunggu sebentar, apa benar Daniel sudah membicarakan hal ini? Atau dirinya yang lupa? Tapi Bianca bukan tipe orang yang gampang lupa. Aneh.


"Mungkin Bianca hanya lupa." ujar Terry.


"Bianca bukan tipe orang yang akan melupakan sesuatu dengan mudah." ujar Ben.


Steve bangkit dari duduknya dan mendekati Bianca. "Katakan pada ku, apa kau merasakan sakit? Atau ada sesuatu yang aneh pada mu?"


Bianca terdiam, ia terlihat bingung. "Eh itu, aku juga tidak tau. Tapi akhir-akhir ini aku sering melupakan beberapa hal, ku rasa ini hanya lupa biasa. Jangan khawatir kakak."


Steve menyeritkan keningnya. Mungkin begitu, ini pasti lupa biasa. "Iya kau benar. Mungkin ini lupa biasa saja. "


"Ngomong-ngomong bukankah kita harus mempersiapkan rencana selanjutnya?" ucap Daniel mengalihkan topik.


"Itu benar, aku punya rencana."


"Apa rencana mu Bianca?"


Ben dan Bianca saling berpandangan. Kemudian Bianca membuka mulutnya a dan berkata. "Aku akan membuat kerusuhan besok." Bianca tersenyum miring.

__ADS_1




__ADS_2