
Happy Reading...
.
.
.
Beberapa hari berlalu, akhirnya tiba juga hari dimana festival diadakan. Semua sudah bersiap di posisinya masing-masing, termaksud Ben yang saat ini sudah menggunakan kostum sesuai tema dan juga menggunakan rambut palsu. Bahkan drama Cinderella pun sudah dimulai sejak beberapa menit yang lalu dan sekarang berada ditengah cerita.
"Wah dia jadi semakin mirip sama Bianca ya."
"Hanya beda bentuk tubuh saja "
"Tapi bukankah dia terlalu kekar untuk ukuran seorang Cinderella."
"Peran sudah ditentukan lewat undian dan tidak ada yang boleh menolak."
Berbeda dengan orang-orang yang mengomentari penampilan Ben yang mirip dengan Bianca, Daniel dan Steve yang sengaja duduk di kursi paling depan sibuk memfoto dan menahan tawa saat melihat gaya Ben yang kaku.
"Pftt..." Steve menutup mulutnya berusaha untuk tidak tertawa apalagi saat melihat Ben berdansa dengan pangeran.
"Sialan! Baju terkutuk! Kaki ku sakit. Bagaimana bisa Bianca menggunakan sepatu setinggi ini?!" gumam Ben kesal sembari berdansa dengan Riki.
"Tolong berhenti ngedumel, aku takut suara mu akan terdengar di microfon." bisik Riki.
"Sialan! Coba saja kau berada diposisi ku."
Kalau begini Riki angkat tangan deh, padahal yang mengusulkan untuk mengadakan drama Cinderella adalah Ben tapi kenapa Ben juga yang ngomel-ngomel.
TENG. Suara jam yang sengaja disetel untuk keperluan drama.
"Duh, sialan! Kaget." ucap Ben terkejut. Padahal seharusnya dia tidak perlu terkejut karena suara itu memang sudah ada bahkan sejak latihan, itu suara jam yang menandakan jika sudah jam 12 malam dan waktunya Cinderella untuk pulang.
Riki mengerutkan kening ketika Ben hanya diam dan terlihat kebingungan. Bahkan Ben masih memegang tangan Riki dan terus berdansa.
"Hey dialog mu." ucap Riki pelan.
__ADS_1
'Gawat, aku lupa dialog ku.'
Seribu persen Riki yakin jika Ben melupakan dialognya. Riki jadi meratapi nasib melihat dramanya jadi kacau.
"Ma-maaf pangeran saya harus pergi." ujar Ben dramatis. Rasanya beneran gk cocok Ben jadi Cinderella apalagi suaranya yang bass itu.
Kesannya jadi Cinderella keselek biji nangka kalau begini.
"Tunggu Cinderella! Kenapa kau harus pergi, tolong tetap disinilah lebih lama lagi."
Kayaknya emang bener cuma Riki yang menghayati peran, eh tidak deh, masih ada Bianca yang berperan jadi batu dan tengah asik duduk di ujung panggung sambil fotoin Ben.
"Duh, aku lupa lagi." gumam Ben pelan, ia berpikir dan mengingat dialog Cinderella. Duh Ben tuh gk pernah nonton Disney princess, Ben tuh dari baru lahir udah langsung di ajak bertarung jadi mana mungkin Ben tau hal-hal kayak begini.
"Anu... Itu... Cucian dirumah belum di cuci jadi saya harus pergi pangeran." perkataan Ben sukses membuat Riki melongo. Emang ada dialog kayak begitu?
Bahkan kembarannya, kedua kakaknya, Bahiyyih, Terry dan Kai harus menahan tawa mendengar dialog itu, apalagi ekspresi Ben.
"Pokoknya sa-saya pergi dulu." Ben berlari pergi, oh iya Ben ingat jika yang membuat Cinderella terkenal adalah sepatu kacanya yang tertinggal dan dipungut oleh Pangeran. Kalau begitu Ben harus melepas sepatunya kan?
Ben berusaha melepas sepatu kaca yang ia pakai, namun siapa sangka jika ditengah-tengah itu justru Ben malah menginjak gaunnya sendiri.
"Buahahhahaha." suara tawa menggelegar di sana, Ben tau betul siapa yang menertawakannya. Siapa lagi kalau bukan Daniel, Steve, Terry dan Bianca. Bahkan Bianca sampai memukul-mukul lantai.
Dibandingkan malu karena penonton, Ben lebih malu karena keluarganya menonton. Ben yakin jika habis ini dirinya pasti akan di ejek habis-habisan.
Ben berharap yang membuat cerita Cinderella matinya kepeleset kulit pisang.
"Nona a-anda pftt... Tak apa? pftt." Riki bahkan berbicara sambil menahan tawanya, bahunya bergetar karena menahan tawa.
Kai, Bahiyyih dan Sunoo juga mengontrol tawanya. Ben jadi kesal sendiri. Ia melepas sepatunya dan melempar sepatu itu ke wajah Riki, setelah itu Ben mengangkat gaun itu tinggi-tinggi dan kabur.
'Kok jadi aku? ' Riki hanya bisa pasrah pada takdirnya, mana hak tingginya masuk kedalam mulut lagi. Nasib-nasib.
...🌺...
"Apaan tuh?? Mana ada Cinderella jatoh?" tawa Daniel meledek Ben begitu acara selesai. Bahkan saat acara selesai Ben masih mencak-mencak dan bersumpah tidak akan memerankan drama lagi.
__ADS_1
"Mana jatohnya gk aesthetic lagi." Kali ini Steve yang meledek Ben.
"Kok bisa jatoh ya." ejek Bianca. Disatu sisi Terry hanya bisa menertawakan mereka saja.
Saat ini mereka berada di kelas Kai dan tengah membeli minuman dan makanan, kelas Kai kan membuka sebuah cafe jadi tak ada salahnya mereka disini.
"Selamat siang, silakan makanan anda." ujar Kai yang memakai telinga kucing.
"Kau jadi rubah ya?" ujar Steve.
"Benar."
"Eh? Ku pikir itu telinga kucing." kata Terry.
"Dilihat dari manapun itu telinga anjing." kata Ben.
"Itu telinga kelinci." ujar Bianca ngelantur.
Pada akhirnya mereka menikmati festival sekolah dengan tenang.
Sunoo mendapat juara dua saat lomba fisika, Bahiyyih tentu juara satu di lomba fashion show, Kai sendiri sepertinya juga memiliki bakat untuk menjadi seorang waiter.
Ben masih di ledek habis-habisan oleh seluruh keluarganya dan itu membuatnya lagi-lagi harus adu mulut dengan Bianca dan Daniel.
Lalu keesokan harinya adalah hari libur jadi mereka beristirahat setelah festival berlangsung.
Dan beberapa minggu kemudian tidak ada yang menyangka jika Steve mengatakan sesuatu yang aneh.
"Ayo liburan."
"Hah?"
__ADS_1