Innefabel {END}

Innefabel {END}
Selesai Perang


__ADS_3

Happy Reading...


.


.


.


DOR.


"Akh." Ben meringis sakit ketika sebuah peluru melesat dan mengenai lengannya. Perang yang awalnya pukul-pukulan kini berubah menjadi serius, hujan peluru pun di mulai.


Pasukan yang berpihak pada Siegfried memang di beri pakaian anti peluru, tapi tidak menutupi seluruh tubuh mereka. Kepala, lengan dan kaki adalah bagian yang tidak tertutup oleh pakaian anti peluru.


DOR... DOR... DORR... Ben berlindung di belakang mobilnya, mobil miliknya juga bisa menahan peluru.


"Sial, inikan mobil baru." gumam Ben kesal. Ia sesekali menggolongkan kepalanya dan mulai menembak.


DOR... DOR...


...🌺...


BUAK.... Terry mengerahkan seluruh tenaganya untuk memukul orang-orang yang berusaha menyerangnya. Terry menendang, membanting dan memukul secara bersamaan. Ia sendirian di wilayah tengah ini.


Jujur saja ini membuat Terry sedikit kewalahan, 50 orang dilawan sendiri jelas membuatnya agak kagok belum lagi pasukan yang terus berdatangan.


BUK. Terry terkejut ketika ada seseorang yang menendang musuh yang ada di belakangnya.


"Riki." ucap Terry terkejut, pasalnya Riki kan harusnya ada di Jepang.


"Aku sudah bilang akan membantu kalian jika tugas ku sudah selesai kan? Aku akan membantu kalian dan aku juga bertemu Daniel yang mengurus bagian Utara, Bagian selatan di urus oleh Ben kan? Kalau begitu aku bagian tengah."


Benar jalanan ini hanya memiliki dua sisi, yaitu selatan dan Utara. Terry yakin sebelumnya Bianca dan Jack sudah menutup jalan ini sepenuhnya namun para pasukan juga pasti berdatangan dari dua arah. Karena itu membutuhkan dua kelompok yang memblokir pasukan mereka dari dua arah.


Awalnya bagian Utara di biarkan karena kekurangan pasukan tapi karena ada Daniel semuanya jadi seimbang. Mereka hanya perlu mengurus bagian tengah karena Jack dan Bianca sibuk dengan pertarungannya sendiri.

__ADS_1


"敵に容赦しない!" (Tidak ada belas kasih untuk musuh!) Seru Riki yang membuat pasukan Yakuza nya berseru dengan semangat.


...🌺...


Daniel menatap orang-orang dihadapannya dengan tajam nan dingin. Adik-adiknya sedang berjuang di belakang sana, tidak mungkin dirinya hanya berdiam diri saja.


SYUT... Daniel menunduk ketika ada serangan pertama dari musuh.


Buk.. Daniel membalasnya dengan memukul bagian tulang rusuk. Kemudian Daniel menunduk sedikit dan memutarkan kaki kirinya dan menendang dengan kaki kanan.


"Jangan hanya melihat. Serang mereka!" ujar Daniel dingin yang sontak membuat semua orang yang ada disana merinding.


Mereka pun akhirnya menyerang. Sejujurnya Daniel bisa mengalahkan mereka sendiri dan Daniel ingin segera berlari kearah Bianca yang tengah bertarung berdua, tapi Daniel tidak bisa menghampiri adiknya itu karena Bianca melarangnya.


Daniel menghormati keinginan Bianca yang ingin bertarung berdua dengan Jack.


"Kalau begini terus, aku bisa mati karena khawatir." Daniel menghela nafas, sepertinya akhir-akhir ini Daniel sering menghela nafas.


...🌺...


"Harusnya kita menggunakan katana karena pisau terlalu pendek." ucap Jack yang membuat Bianca tersenyum miring.


"Harusnya, tapi sepertinya ini pun sudah cukup." Mereka terus saling menyerang dan juga berbicara.


"Dari baunya kau mengoleskan racun itu dengan baik ya, padahal kau kan paling tidak bisa mengoleskan racun." kata Bianca.


Sratt... Bianca sedikit meringis ketika pisau itu menggores lengannya.


"Kau juga tidak bisa menggunakan pisau dengan benar."


"Ya tapi aku banyak belajar."


"Tubuh yang ini terlalu lemah kan?"


Syut... Trang.. Sratt... menunduk, menyerang dan bertahan adalah hal yang terus mereka lakukan secara berulang-ulang.

__ADS_1


"Kan kau yang memberikan tubuh ini."


Jack tertawa kecil. "Benar, tapi aku hanya berniat menular jiwa kalian bukan membunuh Bianca yang asli."


Bianca terdiam, bibirnya agak bergetar. "Aku tau, tapi entah sejak kapan kau mulai membuat patung dari manusia—"


"Bukan aku, aku hanya mengawetkan jasad orang-orang bukan membuat patung dari manusia tapi aku memang suka menyiksa binatang sih." lagi-lagi pria itu tertawa kecil. "Masih banyak yang belum kau tau." Bianca terdiam sesaat. Ternyata masih banyak rahasia ya.


JLEB. Tusukkan itu mendarat di perut Bianca. Jack mengambil kesempatan saat Bianca lengah.


"Uhuk..." Bianca terbatuk dan memuntahkan darah. Jack terdiam namun pundaknya bergetar, Pisau Jack sudah diolesi oleh racun dan harusnya Jack menang.


JLEB. Bianca menusuk leher Jack dengan Pisau yang telah di olesi oleh racun juga.


Jack melepas pisau itu dari perut Bianca namun Bianca malah memperdalam tusukan di leher Jack. Bianca bisa merasakan pundak Jack yang bergetar.


"Sudah ku duga, aku tidak bisa membunuh mu dengan benar." Jack menatap mata Bianca dan Bianca bisa melihat jika Jack menangis.


Srak... Bianca mencabut pisau itu dan ia terjatuh berlutut sambil memegangi perutnya, matanya mulai berkunang-kunang. Jack sendiri memundurkan langkahnya hingga menabrak pembatas jembatan.


"BIANCA." teriak Daniel, Ben, Terry dan Riki bersamaan. Mereka berempat berlari menghampiri Bianca.


"Hari ini ulang tahun mu kan ketua? Akh... uhukk..." Jack sedikit terhuyung. Bukan ulang tahun Bianca tapi benar-benar ulang tahun dirinya yang dulu dan Jack masih mengingat itu. Tanpa Bianca sadari air mata keluar dari kedua matanya.


"Selamat ulang tahun Ketua, kehidupan baru mu itu anggap saja hadia dari ku. Aku selalu mencintaimu. Ku harap di kehidupan selanjutnya kau tetap memilih ku." Jack memejamkan matanya. Sepertinya semuanya harus segera berakhir sekarang.


Syung... Jack melompat dari atas jembatan itu.


"JACK." Bianca bangkit berniat untuk menarik tangan Jack tapi kedua kakinya sangat lemas, kepalanya juga sangat pusing. Pada akhirnya Bianca hanya terjatuh di tanah. Hal yang terakhir Bianca lihat adalah saudara-saudaranya dan Riki yang menangis.


Setelah itu seluruh dunianya menjadi gelap.



__ADS_1



__ADS_2