
Happy Reading...
.
.
.
Peluru itu melesat tepat mengenai bagian dada Kai dan seketika Kai tersungkur jatuh. Ben menatap sinis ke arah Rei.
"Wah aku salah menembak, harusnya aku menembak gadis Anabel itu." ejek Rei yang membuat Bianca kesal. Bianca memangku tubuh Kai yang saat ini tengah meringis kesakitan.
"Gk ngaca ya? Wajah mu juga mirip dengan boneka Voodoo."
Dor. Trang. Rei menembak ke arah Bianca namun buru-buru ditangkis oleh Ben dengan menggunakan pisau milik Bianca.
"Bisa tidak kau abaikan saja?" ucap Ben.
"Tidak bisa."
Ben jadi semakin kesal, tapi dia harus bersabar. Mengalahkan mereka semua adalah hal yang harus Ben lakukan.
"Kau jaga Kai, Biar aku dan Terry yang menghadapi mereka." Setelah berkata seperti itu Ben dan Terry langsung berlari menghajar para penjahat itu.
Bianca merobek gaun tidur miliknya dan menggunakannya untuk membalut luka Kai, setidaknya itu akan menahan darahnya agar tidak keluar terlalu banyak.
"Sudah ku bilang, kau menyusahkan."
"Iya, iya." Kai sama sekali tidak bisa mengelak. Luka tembak ini sangat sakit. Kai tidak bisa membayangkan jika Terry, Ben dan Bianca yang terus terkena luka seperti ini setiap bertugas. Pasti mereka menahan rasa sakitnya.
__ADS_1
Kai dan Bahiyyih sudah tau jika mereka berasal dari keluarga Mafia, walaupun mereka tau mereka akan tetap diam karena tidak ada gunanya jika berita ini menyebar.
"Tapi masih ada yang bisa kau lakukan." ucapan Bianca membuat Kai menyerit bingung. "Kau harus belajar menembak." Bianca tersenyum sinis.
...🌺...
Terry menangkis, memukul dan membanting beberapa orang yang berusaha untuk melukainya. Mereka hanya berdua masa iya harus di keroyok oleh lebih dari 20 orang dewasa.
Mustahil jika mereka bisa keluar dengan selamat, jumlah saja sudah kalah banyak. Satu-satunya cara adalah membuat perhatian mereka terpaku pada bosnya dan mereka kabur. Ya itu rencana yang bagus.
Bianca, Ben dan Terry saling melirik dan mengangguk. Sepertinya pemikiran mereka sama, apalagi melihat Bianca berusaha untuk membantu Kai berdiri. Sepertinya Kai juga masih bisa berlari.
Syutt... Ben menundukkan kepalanya begitu seseorang dari belakang mengayunkan sebuah kayu, alhasil kayu itu mengenai wajah rekannya. Ben memutar pergelangan kaki kirinya, ia juga memutar tubuhnya dan menendang wajah penjahat itu. Begitu selesai menendang, Ben melompat dan kembali menendang penjahat yang ada di depannya.
Mau di hajar seperti apapun para penjahat itu terus berdatangan dan juga tak ada habisnya. Sembari bertarung netra Ben juga menelisik sekitar mencari sesuatu yang bisa digunakan untuk melarikan diri. Lalu netranya terpaku pada Speed Boat, apalagi kuncinya juga masih tergantung. Itu bagus.
Ben menoleh kearah Terry, Terry juga melirik kearah Ben mereka berdua saling mengangguk. Terry melirik kearah Bianca yang sepertinya juga sudah siap, dipunggung nya Bianca menggendong sebuah sniper rifle type 88 yang sepertinya milik salah satu penjahat yang sudah ia kalahkan, Kai juga memegang sniper dengan jenis yang sama.
"Kau siap kan?" tanya Bianca yang membuat Kai mengangguk. Bianca memegang kedua tangan Kai, ia mengarahkan kedua tangan Kai agar dapat memegang sniper dengan benar dan juga agar ia bisa menembak.
"Ikuti perintah ku." ucap Bianca pelan. Bianca berdiri tepat di samping kiri Kai, selain menompang tubuh Kai, Bianca juga mengajarinya cara menggunakan sniper dengan baik. Beruntung Kai cukup penurut sekarang.
"Fokuskan diri mu pada suatu target, lalu tekan pelatuknya secara perlahan."
Uh, bagi Kai ini cukup sulit karena banyak orang yang berlalu lalang, Kai takut jika ia salah target. Kedua tangan Kai gemetar sekarang. Bianca yang menyadari hal itu menghela nafas.
"Jangan takut, jangan pikirkan apapun selain target mu. Kena atau tidak bukan itu masalah, kita hanya perlu mengalihkan perhatian mereka. Dengar fokus saja pada arah yang akan kau bidik."
__ADS_1
Sekali lagi Kai mencoba untuk fokus, target yang akan di bisiknya kali ini adalah bagian dada atau leher, hanya itu.
Bianca tersenyum kecil saat menyadari jika Kau sudah kembali fokus. "Bagus seperti itu. Sekarang tembak!"
Dor. Peluru itu melesat dan mengenai bagian lehernya, ya itu sedikit meleset dan bukan titik vital tapi itu berhasil membuat seluruh penjaga yang ada disana menatap Tuan mereka.
Begitu perhatian mereka teralihkan, Bianca menarik Kai untuk berlari, begitu juga dengan Terry dan Ben yang berlari menuju Speed Boat itu. Mereka semua kompak melompat menaiki Speed Boat, kali ini Terry yang mengendarai Speed Boat nya.
"Oh kau bisa mengendarai benda ini? Hebat, sebenarnya aku berniat hanya menyalakan mesinnya." ucap Ben begitu Terry mengendarai Speed Boat dengan kecepatan penuh dan lancar tanpa hambatan.
"Apakah pertanyaan itu penting? Yang penting kita bisa kabur. Lagipula kalian pikir seperti apa kak Daniel mendidik ku? Dia itu pelatih iblis tau." Terry bergidik ngeri mengingat pelatihan yang dirinya lalui selama ini bersama Daniel. "Dan juga jangan coba-coba mengendarainya jika kau tidak bisa." ucap Terry memperingati yang sontak membuat si kembar langsung membuang wajahnya ke arah lain.
seribu persen Kai dan Terry yakin jika si kembar berniat untuk mengendarai Speed Boat tanpa mempelajari terlebih dahulu.
Mengendarai mobil saja Bianca sudah seperti orang kesetanan, Kai sudah tidak dapat membayangkan bagaimana jika Bianca mengendarai Speed Boat bisa-bisa tenggelam kali. Tapi lebih baik tak perlu dibayangkan.
"Oh, kita mau kemana? Mobilnya kan ada di pelabuhan itu." ucap Bianca yang membuat mereka semua mematung. Ya itu benar, tidak mungkin juga mereka mengendarai Speed Boat sampai ke rumah kan?
"Bagaimana jika kita ke rumah sakit? Maksud ku kita ke daratan dulu." ujar Kai.
"Bukankah penampilan kita terlalu mencolok?" kata Ben yang memang benar adanya, apalagi tubuh mereka dipenuhi darah dan juga Bianca membawa senapan.
"Bagaimana jika kita pulang dulu dengan mencuri mobil, lalu kita ganti baju dan ke rumah sakit." saran Terry yang mampu membuat Kai melongo. Bagaimana mereka bisa berkata begitu ketika mereka sedang terluka parah?
"Excuse me, mungkin itu tidak masalah untuk kalian tapi sepertinya aku yang akan segera mati." ucap Kai yang sontak membuat mereka baru ingat jika Kai hanyalah manusia biasa. Ya bukan berarti ketiga orang itu manusia super sih, hanya sudah terbiasa saja.
"Oke, kita ke rumah sakit."
__ADS_1