
Happy Reading...
.
.
.
Bianca terbangun dari tidur panjangnya, ia melihat sekelilingnya yang merupakan ruangan berwarna putih. Tubuhnya terpasang beberapa kabel dan selang infus, tak lupa masker oksigen yang selama ini membantu pernafasannya.
Kepalanya masih terasa agak sakit, tubuhnya juga agak perih, jujur saja Bianca merasa kalau dirinya mirip mumi karena hampir seluruh tubuhnya di balut perban.
Setelah terdiam beberapa lama Bianca menyadari kalau dirinya tidak sendiri, ada Terry yang tertidur di sofa, Bahiyyih yang tidur sembari memegang tangan kanannya dan Ben yang juga tertidur sambil memegang tangan kirinya.
Kriet. Pintu terbuka, menampilkan Kai, Sunoo dan Riki yang baru saja masuk dengan membawa beberapa makanan.
Bianca tersenyum manis menatap mereka. Mereka bertiga sontak terdiam mematung selama beberapa saat.
"Oh. Aku akan panggil dokter." Ujar Riki yang bergegas ke ruang dokter.
"Apa kau ingin minum? Aku akan segera belikan minum." Ucap Kai yang juga pergi.
Hanya ada Sunoo yang berdiri didepan pintu dengan ekspresi bingung, ia bahkan tidak tau apa yang harus dilakukan.
"Eto... Apa kau baik-baik saja?" Bingungnya.
'Memangnya aku terlihat baik-baik saja?'
...🌸...
"Bagaimana keadaannya?" Tanya Bahiyyih kepada dokter yang baru saja memeriksa keadaan Bianca.
__ADS_1
"Cukup baik, dia hanya butuh waktu untuk pemulihan seluruh tubuhnya. Kalau imun tubuh nona bagus maka tidak butuh waktu lama untuk sembuh." Jelas sang dokter yang membuat Bahiyyih lega.
"BIANCA!" Jerit Steve dan Daniel yang baru saja datang. Nafas mereka terengah-engah, kemungkinan mereka berlari dari suatu tempat.
Mungkin mereka habis bekerja mengingat mereka menggunakan setelah kemeja yang rapi bersama jas nya.
"Tuan-tuan mohon maaf tapi tolong jangan berisik, ini demi kenyamanan pasien." Tegur sang dokter yang sontak membuat mereka berdua meminta maaf.
Begitu dokter pergi, teman-teman Bianca juga pergi. Mereka membiarkan Bianca menghabiskan waktu bersama keluarganya, alhasil didalam ruangan itu hanya ada keluarga Siegfried saja.
Dan Bianca benar-benar terkejut saat Ben berkata jika dirinya sudah tidak sadarkan diri selama 17 hari yang berarti itu adalah 2 Minggu lebih.
"Beberapa organ tubuh mu mengalami iritasi karena cairan berbahan kimia itu jadi untuk beberapa saat kau harus menjalani pemeriksaan secara teratur." Jelas Daniel.
"Beruntung cairan itu tidak masuk kedalam jantung mu, kau juga sudah diberi pengobatan khusus." Kata Ben.
Bianca rasa ia tau penyebab orang yang waktu itu Bahiyyih lihat terbakar tiba-tiba. Itu semua pasti karena cairan kimia itu.
Daniel dan Steve saling berpandangan, mereka menghela nafas. "Sebagian dari mereka meninggal tapi sebagiannya lagi terluka parah, mereka juga berada di rumah sakit yang sama dengan mu."
Jika Bianca ingat-ingat mungkin ada sekitar 20 orang didalam ruangan itu jadi apa hanya ada 10 orang yang selamat jika dihitung dengan dirinya? Haruskah Bianca menemui orang-orang yang selamat?
"Jangan berpikir keras dulu Bianca." Steve mengelus kepala Bianca dengan lembut. "Jika kau sudah sembuh aku janji akan mempertemukan mu dengan mereka, karena itu sebaiknya kau beristirahat dulu."
"Beristirahatlah, Terry akan menjaga mu. Kami harus pergi sebentar." Ben menyelimuti Bianca hingga lehernya. Bianca yang memang mengantuk dan lelah akhirnya menuruti ucapan mereka.
"Selamat malam Bianca." Ucap Steve seraya mencium kening Bianca. Bianca tidak menjawab dan hanya tersenyum.
...🌸...
BYUR... Pria tua itu terbangun ketika air yang sangat dingin membasahi seluruh tubuhnya dari kepala.
__ADS_1
Ia terkejut karena ia duduk dalam posisi terikat di tiang, di depannya ada tiga orang pria yang berdiri dan menatapnya dengan dingin.
"Apa tidur mu nyenyak?" Ucap Ben dingin. Tidak ada aura bersahabat di antara mereka.
Ruangan bawah tanah yang sangat gelap dan lembab yang hanya diterangi dengan beberapa lilin, menambah kesan mencengkam di tempat itu. Pria itu tau dengan benar kalau ketiga pria dihadapannya kemungkinan ada hubungannya dengan gadis yang ia culik beberapa waktu yang lalu.
Pria tua itu gemetar ketakutan.
"Kau dokter yang di keluarkan dari rumah sakit yang ada di Austria bukan? Dokter yang keluarkan karena melakukan praktek ilegal kepada salah satu pasiennya sendiri." Steve mengangguk ketika membaca beberapa kertas yang ada di tangan kirinya, tangan kanannya ia gunakan untuk bermain-main dengan kartu nama milik dokter itu.
"Kau juga mengikuti sebuah perkumpulan tentang penelitian ilegal itu kan?" Ben berjalan menghampiri pria itu dan mencengkram wajahnya dengan kuat membuat pria tua itu kesakitan.
"Katakan siapa yang memimpin perkumpulan itu?" Tanya Ben penuh penekanan dan aura yang mengintimidasi.
Pria tua tersebut dengan susah payang menggelengkan kepalanya, ia sungguh sangat takut. "A-aku tidak tau." Nada suaranya bergetar. Selain takut dengan aura mengintimidasi dari ketiga pria itu, ia juga takut dengan beberapa alat penyiksaan, bau anyir darah dan mayat-mayat penjaganya yang tergeletak begitu saja.
"Tidak tau?" Gumam Daniel yang masih terdengar oleh mereka. "Apa kau benar-benar tidak tau? Sepertinya kau belum banyak belajar ya."
"Sa-saya benar-benar tidak tau."
Ben menghempas wajah pria itu dengan kasar. "Ikat dia dituang, biarkan air menetes di kepalanya setiap 3 detik sekali." Perintah Daniel yang langsung dilaksanakan oleh para pengawalnya.
Pria tua itu terdiam, ia merasa jika hukuman tersebut cukup ringan. Apa benar-benar sangat ringan? Bahkan para pengawalnya sampai gemetar saat Daniel mengatakan hukuman itu.
Kalau memberikan hukuman itu sama saja dengan membiarkan penjahat memohon untuk kematiannya segera datang.
Lagipula bukankah ada pepatah yang bilang 'Air yang menetes terus-menerus di atas batu akan melubangi batu tersebut.'
"Mari kita lihat, apa pepatah itu benar atau tidak." Ucap Ben dingin seraya menatap pria itu tajam.
__ADS_1