
Happy Reading...
.
.
.
Setelah melakukan demo yang dihadiahi jitakan oleh Daniel, akhirnya Bianca dan Ben diperbolehkan untuk liburan dan menginap selama tiga hari. Walau mereka hanya liburan ke Mandalay saja.
Sebenarnya itu cukup dekat dari tempat tinggal mereka hanya sekitar 2 jam jika menaiki mobil tapi mereka memutuskan untuk menginap di hotel terdekat, hitung-hitung untuk menghindari cekcok dengan Daniel.
"Wah musim panas memang lebih enak di pantai ya." ujar Bianca yang tengah memegangi topi pantainya takut-takut terbang terbawa angin. Berbeda dengan Terry dan Ben yang mengenakan kemeja lengan pendek dengan kaos putih, celana bahan selutut dan sendal pantai.
Bianca mengenakan dress pendek, sendal pantai dan topi. Rambut bergelombangnya di kepang dua. Perbannya memang sudah dilepas tapi masih ada bekas luka, Bianca sudah pulih total namun harus tetap melakukan pemeriksaan. Beruntung imun tubuhnya bagus.
"Bukankah ini terlalu panas?" ujar Terry sembari mengipasi wajahnya dengan tangan. Ya sekarang memang musim panas, bukankah wajah jika panas?
"Ini memang musim panas." celetuk Ben.
Mereka berangkat saat siang hari dan sampai saat sore hari, mereka ingin melihat sunset.
Berbeda dengan Terry yang memilih untuk menepi sambil mendengar musik melalui aerphone nya, Ben memilih untuk membeli beberapa makanan yang terletak di pinggir pantai, sedangkan Bianca bermain air.
Ya hari ini mereka bertiga menikmati waktunya masing-masing. Bianca pergi mendekati laut, tidak begitu dalam hanya sebatas lututnya saja.
Bianca terlihat senang dan menendang-nendang air laut. Sesekali tawa kecil terdengar dari mulut Bianca. Semua itu tidak luput dari perhatian kedua orang yang tengah berdiri di pinggir pantai.
Bukk... Byurr... Seseorang menabrak Bianca membuat gadis itu tersungkur jatuh.
Tanpa banyak bicara Terry yang melihat hal itu berlari dan memegang lengan Bianca untuk membantunya berdiri.
Memang tidak dalam tapi posisi jatuh Bianca adalah telungkup alhasil seluruh wajah dan tubuhnya terendam air.
"Bianca apa kau baik-baik saja?" tanya Terry yang membantu Bianca berdiri dan merangkul tubuhnya.
__ADS_1
"Uhukk...uhuk..." Bianca terbatuk, ia merasa jika air laut itu memasuki hidung dan tenggorokannya.
'Orang itu punya dendam apa sih?!' Bianca tau betul jika pria yang kini menatapnya tajam itu sengaja menabrak dirinya dengan kencang.
Mana ada orang yang tidak sengaja menatap korban dengan tatapan dingin dan kesal begitu, bagaimanapun juga disini Bianca lah korbannya. Namun saat pria itu menatap Taehyun wajahnya langsung merona dan tersenyum, entah kenapa Bianca jadi kesal.
'Bajingan ini! '
"Bianca." panggil Ben yang berjalan menghampiri mereka dengan membawa beberapa kantong plastik yang berisi makanan.
Begitu Ben datang wajahnya semakin memerah merona dan langsung melengos pergi. Bianca bahkan sampai melongo melihatnya.
"Hey! Kau tidak mau minta maaf pada kakak ku?!" ucap Ben dingin. Pria itu menoleh dan terlihat jelas jika wajahnya kesal namun disatu sisi rona merah mengisi wajah pria itu.
Kenapa kesannya seperti kekasih yang sedang bertengkar? Apa pria itu sudah gila?!
Pria itu tidak menjawab, ia hanya menundukkan kepalanya singkat dan pergi begitu saja.
"Apa dia bisu? Atau tuli?! Bikin kesal saja." kesal Ben. Ben beralih menatap Bianca yang basah kuyup, tanpa banyak bicara ia memberikan kantong plastik itu pada Terry dan menggendong Bianca.
"Kau tidak lihat jika pergelangan kaki mu membiru?"
Bianca terdiam, pantas saja tadi kakinya sakit ternyata ia keseleo. Akhirnya Bianca membiarkan Ben menggendong dirinya dan membawanya ke hotel.
Tanpa mereka sadari pria yang baru saja menabrak Bianca tadi menggeram kesal. ia sangat membenci Bianca. "Gadis itu harusnya tidak ada!!"
......🌸......
Malam hari tiba, Ben yang tadi tak sempat menikmati indahnya pantai akhirnya memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar di pinggir pantai sembari melihat langit malam tanpa bintang.
Namun siapa sangka jika ia malah bertemu dengan Kai yang asik duduk di batu karang dan ditemani dengan beberapa kaleng Beer dan juga rokok.
(anggap aja malam ya😋)
Ben tidak mau menyapa Kai tapi sepertinya pria itu melihat Ben dari atas batu karang.
__ADS_1
Ben berniat berbalik dan memilih untuk menghindari Kai.
"Kau tidak mau menyapa ku? Wah aku jadi sakit hati loh." ujar Kai seraya tersenyum manis, ia berakting seolah-olah dirinya tersakiti.
Ben memutar bola matanya dengan malas, ia berbalik dan menatap Kai. "Apa yang sedang kau lakukan disini?"
Kai tersenyum, ia menepuk-nepuk batu karang itu seolah menyuruh Ben untuk ikut duduk bersamanya. Ben menurut dia pun naik ke batu karang itu dan duduk disamping Kai.
"Beberapa hari yang lalu aku melakukan syuting iklan disini dan sekarang sudah selesai." ujar Kai sembari menghisap rokoknya dan menghembuskannya.
Pantas saja Kai bisa terang-terangan merokok dan minum alkohol, kalau masih ada orang mana mungkin anak itu berani melakukannya. Kai tidak menawari Ben rokok ataupun alkohol karena Kai tau kalau Ben tidak melakukan itu kecuali jika ia ingin.
"Bagaimana keadaan Bianca? Tadi ia jatuh kan?"
"Ya ada orang gila yang menabraknya, tapi dia baik-baik saja selain terkena demam." Ben menghela nafas, sejak disuntikkan cairan aneh itu tubuh Bianca jadi semakin sensitif.
Tapi seolah baru teringat sesuatu Ben kembali bicara. "Bahiyyih melaporkan fansnya ke polisi ya."
Mengingat minggu lalu kasus Bahiyyih sangat viral karena ada seorang fans yang mengikutinya dan mengambil beberapa barang pribadinya, bahkan Bahiyyih cerita pada Bianca sambil menangis kesal.
"Oh, kau tau."
"Tidak mungkin aku tidak tau, beritanya sangat viral. Apa itu ssaeng fans?"
Kai menatapnya, ia mematikan rokoknya dan menyeruput beer. "Lebih parah dari itu, dia bahkan lebih parah dari stalker. Fans nya hampir membunuh ku karena aku kakaknya, dia tidak mau Bahiyyih dekat dengan pria mana pun selain dirinya." Kai tertawa kecil.
"Wah mengerikan." Ben jadi bergidik ngeri, apa itu yang dimaksud dengan terobsesi?
Sepertinya Ben memilih untuk dibunuh oleh orang yang membencinya dari pada dibunuh oleh orang yang mencintainya. Tapi lebih baik Ben tidak akan memilih keduanya.
Kai terdiam sebentar seolah sedang berpikir. "Ku rasa kau juga punya fans."
"Hah?"
__ADS_1