
Happy Reading...
.
.
.
"Hey apa benar jika dia adalah adik dari Ketua Mafia Butterflies?" Seorang pria yang menggenakan jaket hitam dan masker hitam itu mengangguk.
"Apa kau pikir aku berbohong? Kalian mengincarnya bukan? Kalau begitu akan ku berikan. Tapi sebagai gantinya jangan bunuh kedua lelaki ini." pria itu memperlihatkan foto Benvolio dan Terry pada pria di hadapannya.
"Haha ini sangat mudah bagi kami untuk mengalahkan gadis kecil yang lemah itu." tawa remeh terdengar dari mulutnya.
"Ya kau benar. Kalau begitu sebaiknya kalian kerjakan tugas kalian dengan benar. Kalian tidak akan ku biarkan jika gagal." ancamnya yang sontak membuat segerombolan orang itu menyeringai.
Sudah dapat uang banyak, dapat gadis cantik yang bisa mereka mainkan pula. Bukankah hari ini mereka sangat beruntung.
......🌺......
Brak. Ben melempar kartu UNO itu dengan keras sambil menggebrak meja di hadapannya. Saat ini ketiga pria bujang itu tengah berada dikamar hotel Kai dan tengah bermain kartu UNO.
Entah ada angin apa tiba-tiba saja Ben menggebrak meja. Tentu saja hal itu membuat Kai dan Terry kaget.
"Aku ingat sekarang." seru Ben senang.
"Apa? Kau ingat apa?" tanya Kai.
"Pria yang menabrak Bianca itu, mirip sekali dengan salah satu murid yang berasal dari SMP ku dulu."
"Oh, bukankah kau SMP di Korea?" ucap Terry yang membuat Ben mengangguk.
"Itu benar, dan kalau tidak salah ada seseorang yang bermarga Kim yang wajahnya mirip dengan orang yang menabrak Bianca tadi."
__ADS_1
"Oh, kak Steve pernah cerita tentang stalker yang mengikuti mu saat SMP, apa orang itu yang kau maksud?" kata Terry yang membuat Ben mengangguk mengiyakan.
Saat SMP di Korea ada salah seorang murid yang sangat mengidolakan Ben karena katanya Ben itu seperti malaikat yang baik hati dan tidak sombong. Murid itu selalu memfoto Ben dan mengikutinya kemanapun Ben pergi.
Tentu saja Ben menyadari hal itu, tapi ia tidak melakukan apapun karena masalah sepele seperti itu harusnya tidak ditangani dengan serius.
Tapi Ben mulai menegurnya ketika anak itu memfoto tubuh tel*nj*ng Ben dan menjadikan foto itu untuk memenuhi kepuasan *****alnya. Ben jelas marah dan tidak suka, ia menegurnya dengan keras.
Namun bukannya kapok pria itu justru semakin menjadi-jadi, hingga akhirnya Steve yang turun tangan. Entah apa yang kakak keduanya itu lakukan sampai-sampai seluruh keluarga Kim di deportasi ke Jepang. Sejak saat itu hidup Ben menjadi sedikit aman.
Tapi siapa sangka jika Ben bertemu dengan pria yang wajahnya sangat mirip dengan orang itu disini.
'Atau itu memang dia?'
Ben jadi bertanya-tanya sendiri, mengingat wajahnya yang merona saat melihat dirinya, tapi dia juga merona saat melihat Terry. Ah entahlah Ben tidak tau.
BRAK. Pintu kamar Kai terbuka, Berapa orang pria tiba-tiba saja memasuki kamar itu dengan membawa senapan.
"Gadis itu sepertinya sudah mati, jadi sebaiknya kalian ikut kami dengan tenang jika kalian ingin mayat gadis itu kami kembalikan." suara tawa terdengar dari mulut mereka yang sontak membuat Ben dan Terry menyipitkan matanya kesal.
'Walaupun begitu, bukankah mereka terlalu percaya diri?' -Ben.
'Sepertinya pasukan kalian yang sudah mati.' -Terry.
Ben mendekatkan mulutnya ke telinga Kai. Ben tau jika mereka hanya mengincar keluarga Siegfried, jadi mungkin Kai akan sedikit aman.
"Kau pergilah ke kamar Bianca dan lihat apa yang akan terjadi, lalu beritahu Bianca jika aku pergi bersama mereka." bisik Ben pelan yang sontak membuat Kai mengangguk.
Sejujurnya Kai enggan untuk pergi ke kamar Bianca hanya saja ini perintah Ben jadi mau tidak mau ia menurutinya.
Kamar Kai berada di lantai 10 jadi kalau ia melompat dari jendela, ia tidak akan sampai ke kamar Bianca karena ia pasti akan sampai ke akhirat lebih dulu. Kalau begitu cara satu-satunya adalah dengan menyerang orang yang berada di depan pintu dan kabur.
Kai menggerakkan kakinya, ia mengambil ancang-ancang. Tak lama Kai berlari dan menendang orang yang ada di depan pintu hingga terjatuh dan kemudian ia berlari dengan cepat menjauhi kamar itu.
__ADS_1
"Nice." ucap Ben bangga.
"HEY!! TANGKAP DIA!" perintah seseorang yang mereka kira adalah pemimpinnya.
...🌺...
"Ah, sial ini merepotkan." gerutu Kai sembari berlari tanpa melihat kebelakang.
BRUK. Kai seketika terjatuh duduk begitu ia menginjak sesuatu yang licin. Kamar hotel yang si kembar tempati adalah kamar VVIP jadi tidak bisa sembarang orang masuk bahkan pelayan sekalipun, tapi bagaimana penjahat itu bisa masuk?
Sejujurnya Kai cukup iri, dirinya yang hanya artis ternama saja hanya memesan kamar hotel kelas 1. Tapi sekarang bukan saatnya Kai iri, lagipula apa yang membuatnya terpeleset tadi?
Samar-samar Kai mencium bau amis darah, di tangannya juga terdapat suatu cairan yang lengket dan kental.
"Darah?!" ucap Kai terkejut. Perutnya mendadak terasa mual.
Kai terdiam mematung, ia tidak beranjak dari tempat ia jatuh.
Kriet. Pintu terbuka menampilkan Bianca yang tengah memegang sebilah pisau berlumuran darah, tubuh dan baju Bianca juga berlumuran darah. Wajahnya terlihat sangat marah.
"Hum?" Bianca melirik kebawah dan melihat Kai yang tengah menatapnya dengan wajah pucat.
"Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Bianca.
Kai tidak menjawab, ia melirik kearah belakang Bianca yang menampilkan banyaknya tubuh manusia yang berserakan dan berlumur darah, bahkan ada juga yang kehilangan beberapa anggota tubuhnya. Bau anyirnya semakin menyengat.
"Huekk..." seketika Kai mengeluarkan seluruh isi perutnya yang sontak membuat Bianca mendelik jijik.
"Argh kau!!"
__ADS_1