Innefabel {END}

Innefabel {END}
Duka


__ADS_3

Happy Reading...


.


.


.


Kematian Steve sungguh mengguncang mereka semua, bahkan saat Kai memberitahu Bahiyyih tentang kematian Steve, Bahiyyih menangis sejadi-jadinya. Kai sendiri terkejut dia tidak bisa mengatakan apapun.


Tiga hari kematian Steve, Bianca mengurung diri dan tidak keluar sama sekali. Ia bahkan tidak mau menghadiri acara pemakaman Steve yang berada di Korea. Bianca memilih untuk mengurung diri di kamarnya di mansion China.


Harusnya Bianca tidak boleh terpuruk seperti ini, tapi bagaimana bisa Bianca semangat jika orang yang ia cintai selalu pergi?


Mulai dari ibunya, Cristhoper, suami dan anaknya, lalu sekarang Steve. Apa Bianca tidak boleh mencintai? Kena Bianca terus menerus kehilangan orang yang ia cintai? Ini benar-benar tidak adil.


Apa ini hukuman untuk dirinya karena telah merebut kebahagiaan orang lain? Tapi bukan dirinya yang menginginkan hal seperti ini terjadi.


Kata Terry, sebelum terjadi kecelakaan Steve sempat bertarung dengan supir suruhan seseorang orang itu. Seharusnya bukan Steve yang harus di bunuh.


Tapi melihat orang itu membunuh Steve dengan buru-buru, apalagi sampai mengolesi racun di pisau. Sepertinya Steve tanpa sengaja memergoki sesuatu yang tidak boleh di ketahui oleh orang lain.


Tapi apa?


"Kakak jahat sekali sih, hiks..." Bianca menangis entah untuk yang ke berapa kalinya.


Bianca sekali lagi akan membalas dendam pada orang yang sudah merebut kebahagiaannya. Bianca tidak akan tinggal diam begitu saja.


Bianca mengambil ponselnya, ia terlihat sedang mengetikkan sesuatu di ponsel itu.


Jiwa Bianca yang asli sudah mati dan kalau jiwa ini pergi maka tubuh Bianca pasti akan dikubur. Walaupun ada kemungkinan jiwa Bianca yang asli akan kembali lagi, tapi itu kemungkinan yang sangat kecil.

__ADS_1


Tak apa, dirinya sudah pernah mati.Mati sekali lagi sekaligus menjadi yang terakhir bukan masalah besar untuknya. "Sial, padahal aku sudah berjanji. Kalau seperti ini bukankah aku terlihat seperti seorang penipu?" Bianca tertawa hampa.


...🌺...


"Maaf karena menghubungi mu tiba-tiba." ucap Bianca pada pria dihadapannya. Saat ini mereka sedang berada disebuah restoran sederhana yang terletak tak jauh dari mansion Bianca.


"Tak apa, aku turut berdukacita atas kematian kakak mu." Flower bisa melihat dengan jelas mata sembab, wah pucat, rambut tak terurus Bianca. Bianca pasti sangat terpukul atas kematian Steve.


Padahal sebelumnya baik-baik saja, tapi tiba-tiba Flower mendengar kabar kematian Steve, ya memang tak ada yang bisa menduga kedatangan malaikat maut itu. Kadang saja saat tertawa tiba-tiba kau bisa tewas.


"Ya."


Flower berdeham sesaat, ia tidak ingin client nya terlalu terpuruk. "Jadi apa yang ingin kau tau."


"Selidiki anggota inti Sapphire, tempat terakhir yang Steve kunjungi dan cari tau rahasia tentang Sapphire."


"Tunggu kau menyuruh ku untuk menyelidiki tentang Sapphire? Kau tau kan kalau itu tidak mudah." ucap Flower tak habis pikir. Flower tidak mungkin melakukan pekerjaan berbahaya seperti itu.


Bianca terdiam, ia tau kalau Flower tidak mungkin dengan mudahnya menyetujui permintaan Bianca. Bianca merogoh sakunya dan melemparkan sebuah berlian pada Flower.



"Aku tau kau merasa bersalah atas kematian ketua Shanka yang sebelumnya, lalu kau juga merasa bersalah kan atas kematian Steve? Kau tau? Itu bukan salah mu. Kau ingin membalas dendam? Biar aku yang melakukannya, kau tak perlu mengotori tangan mu dengan darah. Aku pun bisa melindungi mu." Bianca menjeda ucapannya. "Sebagai gantinya, carikan informasi yang aku minta. Berlian itu pun juga hanya uang muka, jika kau berhasil melakukannya Flower Diamond bisa kau miliki."


Flower Diamond adalah berlian kesukaan ketua Shanka yang dulu, tapi bagaimana bisa Bianca memiliki berlian itu? Tapi apa yang Bianca ucapkan sebelumnya tidak salah.


Flower benar-benar merasa bersalah atas kematian dua orang itu, terutama Steve karena seharusnya Flower lah yang disuruh untuk membunuh Steve tapi pria itu melarikan diri, hingga akhirnya orang lain yang menggantikan dirinya. Kalau saja Flower menerima tawaran itu, Flower pasti bisa menyelamatkan Steve. Siapa yang menyangka jika Steve tewas terkena racun, tusukan di jantung dan juga ledakan? Apalagi ia sempat sadar untuk menolong Terry.


Benar-benar deh.


"Aku akan menerimanya. Tapi kau juga harus memberitahu ku apa Ben benar-benar menggantikan Steve atau tidak." Flower bangkit dari duduknya.

__ADS_1


Bianca terkejut mendengar ucapan Flower, pasalnya tidak ada yang tau tentang Ben akan mengambil alih Shanka selain dirinya. Informan Flower memang tidak bisa diragukan lagi.


'Jangan khawatir, aku akan mengakhiri semuanya disini.'


...🌺...


"Biarkan aku mengambil alih Shanka." ucap Ben serius yang sontak membuat Daniel terkejut.


Tidak! Daniel tidak ingin kehilangan seorang adik lagi. Daniel tidak boleh membiarkan adik-adiknya berakhir seperti Steve. Harusnya sejak dulu saja Daniel mengakhiri semua ini.


"Tidak. Aku yang akan memimpin Shanka."


"Kakak tidak bisa memimpin dua kelompok secara bersamaan, apalagi kelompok itu dulunya saling bermusuhan."


"Aku lebih tidak bisa kehilangan lagi, Jika kau menghilang, Bianca menghilang aku akan sendiri. Aku tidak mau. Kalian harus hidup dengan bahagia dan tenang." sentak Daniel. Ben mengerti perasaan Daniel tapi Ben tidak bisa berdiam diri dan menyerahkan semuanya pada Daniel.


Ben juga yakin jika Bianca juga sudah mulai bergerak, mengingat Bianca sangat dekat dengan Steve pasti Bianca akan terburu-buru untuk membunuh orang itu.


"Kak, sekalipun aku menginginkannya, apa kita bisa benar-benar hidup tenang? Kita memiliki banyak musuh dan kita tidak mungkin bisa hidup tenang begitu saja. Sekarang adalah saatnya kita bersatu untuk menghabisi musuh kita." ucap Ben berusaha meyakinkan Daniel. Daniel terdiam, padahal dulu Daniel sangat ingin Ben memimpin kelompok mafia, tapi sekarang Daniel takut.


"Tolong percaya pada ku untuk terakhir kalinya, jika aku tidak dapat pengakuan dari Shanka maka aku akan berhenti." ucapnya yakin yang membuat Daniel berpikir ulang.


"Pegang janji mu." kata Daniel sebelum akhirnya pergi meninggalkan Ben.


Ben tidak begitu senang tapi ia akan puas jika sudah menghancurkan kelompok yang telah membunuh kakaknya.


"Kata Bianca, jika ingin menghancurkan seseorang maka harus dihancurkan sampai ke akar-akarnya agar tidak tumbuh lagi."


Kau begitu sekarang akan Ben pastikan untuk menghancurkan mereka hingga mereka tidak bisa bangkit lagi. Ben bersumpah untuk hal itu.


__ADS_1




__ADS_2