
Happy Reading...
.
.
.
New York, Amerika.
06.00 Am.
Ben menghela nafas lelah, ia menatap kunci hadapannya dengan lelah. Dua hari sudah berlalu namun Ben belum bisa menemukan cara untuk menaklukkan Shanka.
Ben juga sudah melihat isi gudang bawah tanah itu, bisa dibilang isinya cukup penting karena terdapat banyak segel penting, dokumen-dokumen, harta karun dan lain sebagainya. Tapi itu semua tidak membuat Ben membuktikan jika dirinya pantas menjadi ketua Shanka.
Ben sungguh frustasi, kenapa juga harus ada pembuktian hanya untuk menjadi Ketua? Ya kelompok Shanka memang di kenal sangat keras sih.
"Tuan, tiba-tiba saja ada kelompok Shanka berkumpul ingin bertemu dengan Tuan."
"Huh apa?" setau Ben, dirinya hanya pernah sekali bertemu dengan anggota Shanka itu pun langsung di usir karena mereka tidak mau mengakui ketua yang baru selain Steve.
Tapi tiba-tiba mereka berkumpul? Ada sebenarnya?
"Apa saya harus menyuruh salah satu dari mereka masuk sebagai perwakilan?" saran Jake.
"Ya itu ide yang bagus, suruh saja salah satu dari mereka masuk."
Ben akui, dirinya masih belum bisa mengambil keputusan dengan benar, tapi pasti ada sesuatu yang penting yang ingin kelompok Shanka sampaikan pada dirinya.
Tak lama setelah memberi perintah ada dua orang yang memasuki ruangan Ben. Salah satu dari orang itu adalah pria yang pernah bersama Bianca dan salah satunya lagi Ben tidak mengenalinya namun Ben pernah melihatnya.
__ADS_1
Pria bertubuh besar yang tidak tau siapa namanya adalah orang yang menentang keras ketika Ben berniat menjadi Ketua.
"Kenapa malah bocah ingusan yang menggantikan orang itu? Apa Keluarga Siegfried meremehkan kami? Atau mereka lebih memprioritaskan Butterflies?!"
Itulah ucapan yang pernah orang itu katakan. Bahkan saat mengingatnya Ben jadi semakin kesal.
Kedua orang itu langsung duduk begitu saja walaupun Ben belum mempersilahkannya. Tapi tak apa, melihat wajah serius mereka sepertinya mereka mendapat perintah dari seseorang.
"Aku tidak akan berbasa-basi lagi." ujar pria bertubuh besar itu. "Daniel menghubungiku, ku dengar penyebab kematian Steve adalah karena ia telah dibunuh."
Tidak ada jawaban dari Ben, dia hanya terdiam sambil menunggu pria itu berbicara.
"Aku akan membantu, kelompok Shanka akan meminjamkan kekuatan untuk membalas dendam kalian."
Deg. Ben menatap mereka dengan tatapan terkejut. Ben tidak menyangka akan mendengar ucapan itu dari mereka.
"Aku yakin kau juga sudah mengetahui hal itu. Kau bisa membuktikan pada kami kalau kau pantas menjadi ketua setelah semua ini selesai. Setelah Jack musnah kau harus membuktikan dirimu." kata Flower.
Mereka berdua bangkit dari duduknya. "Untuk saat ini ketua kami tetaplah Steve, kalaupun dia masih hidup dia pasti akan memerintahkan hal yang sama. Karena itu anggap saja kami sedang menjalankan perintah dari Steve."
Setelah mengucapkan hal itu mereka berdua langsung keluar begitu saja tanpa mengucapkan apapun lagi.
"Mereka memang sulit di atur dan suka seenaknya ya." tapi semua ini justru hal yang bagus, Ben bisa membuktikan kekuatannya nanti karena yang terdesak untuk sekarang adalah Jack yang kaya Bianca sudah mulai bertindak.
Mungkin yang di incar oleh Jack saat ini adalah Terry, karena Terry lah yang mengambil kunci itu. Pasti Jack berniat untuk mencelakai Terry.
Saat ini Terry masih ada di China bersama Bianca. Jadi Ben harus bergegas kesana. Mungkin Daniel akan menyusul nanti.
"Jake, siapkan Helipad. Kita akan ke China sekarang juga." Mereka harus mengakhiri semua ini sekarang.
__ADS_1
...🌺...
Sao Paulo, Brazil.
05.00 PM.
"Apa kau sudah mengumpulkan semuanya Bahiyyih?" tanya Kai yang saat ini tengah merapihkan jasnya.
"Sudah, semuanya sudah lengkap. Ini adalah langkah terakhir kita jadi kita tidak boleh gagal." jawab Bahiyyih serius. Bahiyyih tidak bisa berbuat banyak tapi mungkin ini akan sedikit membantu Bianca, Bahiyyih sangat sedih saat mengetahui Bianca kehilangan senyumnya.
"Benar, kau sudah berjuang keras." Kai mengelus surai Bahiyyih dengan penuh kasih sayang.
Bahiyyih terdiam, ia berharap ketika semua ini selesai Bahiyyih bisa bertemu Bianca dan bisa membuat Bianca tersenyum lagi.
Lalu sepertinya mereka juga harus berhenti sekolah online. Bahiyyih akan merubah segalanya, dia tidak boleh goyah. Perjuangan begadang selama beberapa minggu harus terbalaskan sekarang.
"Kau siap Bahiyyih?" tanya Kai.
"Aku sangat siap. Aku bahkan sangat menantikan hari ini." jawab Bahiyyih sembari tersenyum.
Kai yang melihat hal itu juga ikut tersenyum. "Bagus, sekarang kita mulai konferensi pers nya."
Begitu membuka pintu, seluruh cahaya kamera menyoroti Huening bersaudara. Namun mereka tidak tersenyum seperti biasanya, justru wajah yang mereka tampilkan saat ini adalah wajah yang datar dan serius, aura mereka juga terlihat berbeda seolah-olah mereka adalah orang lain.
"Anda membuat konferensi pers dadakan seperti ini. Saya jadi penasaran apa yang ingin anda sampaikan." ucap salah seorang wartawan yang membuat mereka berdua saling berpandangan.
"Saya ingin membuka rahasia Dewan Huening yang selama ini ditutupi oleh publik."
__ADS_1