Innefabel {END}

Innefabel {END}
Persiapan Festival


__ADS_3

Happy Reading...


.


.


.



"Oh, bukankah Minggu depan kalian ada festival sekolah?" tanya Steve ketika mereka berada di meja makan.


Beberapa hari yang lalu Steve sudah pulang dengan wajah yang lesuh ia memeluk Bianca dan bercerita tentang kejadian disana saat dirinya ditimpuk sepatu oleh seorang gadis tak dikenal, tapi bukannya minta maaf gadis itu malah kabur.


Dan sekarang adalah hari minggu, seharusnya si kembar dan Terry libur tapi karena ada latihan festival untuk minggu depan akhirnya mereka tidak jadi libur dan pergi ke sekolah.


"Benar, kelas kami akan menampilkan sebuah drama." ujar Bianca.


"Drama apa?" tanya Daniel.


"Cinderella, apa kakak tau siapa yang jadi Cinderella nya?" ledek Terry sembari menatap Ben yang wajahnya terlihat kusut.


"Yups, yang menjadi Cinderella kali ini adalah Ben." sahut Bianca dengan bangga.


"Pftt.... Hahahaha...'' Daniel dan Steve kompak tertawa kencang dan meledek Ben yang saat ini wajahnya sudah cemberut menahan kesal. Daniel bahkan sampai memukul-mukul meja mendengar berita itu.


Tak hanya Daniel dan Steve saja, Bianca dan Terry juga ikut tertawa.


"Argh... menyebalkan sekali sih!" kesal Ben.


"Kita kan sudah sepakat untuk mengundi peran kita, siapa suruh kau mengambil kertas yang berisi gambar sepatu kaca?" Terry menunjuk wajah Ben yang sudah memerah menahan malu.


"Bianca kita tukeran peran saja yuk." rengek Ben, "kita kembar pasti tidak ada yang menyadari nya."


"Mana bisa bodoh, tinggi kita beda."


Wajah Ben dan Bianca memang sangat mirip tapi postur dan tinggi tubuh jelas berbeda. Jika Bianca memiliki tubuh mungil dengan tinggi 160 cm, maka Ben memiliki tubuh proporsional dengan tinggi 180 cm. Seluruh keluarga Siegfried memiliki tinggi diatas 170 cm tapi hanya Bianca yang memiliki tinggi 160 cm. Bianca paling mungil diantara saudara titannya.


"Memangnya apa peran Bianca?" tanya Daniel penasaran. Apa mungkin peran Bianca jadi pangeran atau nenek sihir nya?

__ADS_1


"Jadi batu." jawab Bianca tanpa ekspresi.


"Pftt hahaha..." lagi-lagi Daniel tertawa keras. "Jangan bilang Terry jadi pohon?" ucap Daniel sembari mengatur suara tawanya, duh kenapa adik-adiknya mendapatkan peran yang aneh-aneh sih.


"Tidak, aku bertugas mengatur cahaya lampu."


Ya setidaknya hanya Terry yang mendingan.


"Tenang saja, aku pasti akan datang bersama Steve."


"Aku malah berharap kalian tidak datang." jawab Ben.


"Hoho sepertinya Ben sangat menantikan kedatangan ku ya."


Ben berdecih malas. "Tidak sama sekali tuh."


Akhirnya pagi itu pun berlalu dan sudah waktunya untuk si kembar dan Terry pergi ke sekolah.


...🌺...


"Ben tolong lah kerja samanya." ujar Riki yang berperan sebagai pangeran. Riki sungguh frustasi ketika Ben terus memasang wajah cemberut, mana ada Cinderella yang polos dan manis memasang wajah cemberut.


'Duh, Kacau.'


"Kau ingin aku berjalan dengan gemulai dan manis?!" kesal Ben.


"Setidaknya tiru kakak mu yang menghayati perannya." Riki menunjuk kearah Bianca yang tengah tidur di ujung panggung dengan kostum batu.


"Dia jadi batu, sialan. Wajar saja jika dia hanya diam, mana ada batu yang bisa berekspresi."


Ya gk salah juga sih. Tapi Riki juga bisa frustasi tau kalau Ben tidak menghayati peran. Pada akhirnya Riki hanya bisa menghela nafas.


Kai yang menonton latihan drama Cinderella hanya bisa terdiam. Kai juga ingin jadi pangerannya. Tapi sayangnya mereka beda kelas dan kelas Kai hanya membuka kedai biasa, bisa dibilang kelas Kai disulap menjadi cafe sederhana dan para murid dikelas Kai menjadi karyawan di cafe itu dengan tema Youkai, yang artinya siluman dari bahasa Jepang.


Bahiyyih sendiri mengikuti kontes Fashion show yang bertema princess dan Sunoo mengikuti acara cerdas cermat fisika. Hari itu mereka benar-benar menyiapkan acara festival dengan serius.


...🌺...


"Tumben sekali kalian tidak dijemput?" ujar Sunoo seraya menatap keluarga Siegfried.

__ADS_1


"Ya kakak kami sibuk jadi kami mau jalan kaki saja." ucapnya Bianca setelah menguap. Padahal sepanjang latihan yang Bianca lakukan hanya tidur.


"Ya motor ku juga lagi di bengkel." Terry menggaruk kepalanya yang tak gatal. Baru aja Terry gajian, eh si majikan malah minta jajan bener-bener deh.


"Kalau begitu kami duluan ya." ujar Riki yang membuat mereka tersenyum dan mengangguk.


Kai dan Bahiyyih sudah pulang duluan, tentu saja mereka lelah setelah menyiapkan acara festival itu.


"Apa kau yakin kita tak perlu menangkap Rei?" tanya Terry tiba-tiba.


"Kalau boleh jujur aku sangat ingin menangkapnya dan mencaritahu tentang lambang itu." jelas Bianca.


"Dia akan datang lagi dengan sendirinya jadi tak perlu khawatir." sahut Ben yang sepertinya memang benar.


"Tapi para Tuan Besar sedang sibuk, apa yang sedang mereka persiapkan? Firasat ku tidak begitu bagus."


"Kau peka ya Terry, kakak kakak sedang sibuk karena ada banyak mantan anggota Shanka yang membuat masalah. Steve harus meredakan masalah itu."


Bianca terdiam mendengar penjelasan Ben, Bianca tau betul jika diantara anggota mafia lain anggota mafia Shanka adalah yang paling ganas dan sulit di atur. Sangking sulitnya saat itu dirinya hampir kewalahan, untungnya masih bisa dijinakan.


Kematian majikan mereka pasti adalah sesuatu yang sangat mengguncang apalagi kematiannya karena bunuh diri, bagi mereka itu sangat tidak masuk akal. Mereka semua tidak akan menurut jika Tuan baru mereka tidak membuktikan kemampuannya.


Karena tidak ada sesuatu yang sangat gawat jadi Steve tidak akan melakukan apapun, berbeda dengan dulu yang selalu ada peperangan antar kelompok tapi sekarang semua itu sudah mereda apalagi belum lebih dari setahun kematian ketua Shanka.


Walaupun begitu Steve pantas mendapatkan pujian karena dia tidak menyerah dan berhasil menenangkan setengahnya. Entah apa yang ia lakukan.


Karena sekarang dirinya adalah Bianca jadi dirinya tidak perlu bersusah payah mengurus mereka, ia akan turun tangan ketika situasi tidak memungkinkan saja.


'Ini belum saatnya.'


"Apa yang sedang kau pikirkan? Kenapa serius begitu?" tanya Terry yang membuat Bianca terkejut.


"Hanya memikirkan masa lalu, ya itu tidak penting sih."


Benar sebaiknya sekarang mereka menikmati masa-masa ketenangan ini, masalah nanti biar nanti saja dipikirkan. Tapi sepertinya mereka tidak sadar kalau bahaya besar yang tak bisa di perkirakan selalu datang kapan saja. Mereka tidak akan pernah tau kalau senyum cerah itu bisa bertahan atau tidak.



__ADS_1


__ADS_2