Innefabel {END}

Innefabel {END}
Permainan Selesai


__ADS_3

Happy Reading...


.


.


.


PRANK. Suara itu cukup nyaring didengar dan membuat semua orang yang berada disana terkejut, termaksud Bianca.


"Ma-maaf saya tak sengaja." ucap salah seorang pelayan yang tanpa sengaja menjatuhkan sebotol beer itu.


Bianca menoleh kearah pelayan itu yang disampingnya terdapat Ben yang menatapnya tajam, Ben mengangguk yang sontak membuat Bianca baru ingat kalau sekarang dia sedang menjalankan sebuah misi.


Karena seru Bianca jadi lupa dan menikmati permainan ini kan, Bianca menghela nafas dan meletakkan gelas miliknya. Eh? Tunggu! Gelas dengan cairan merah dan bau alkohol?


'Mati aku.'


Sejak kapan ia meminum satu botol wine ini? Apa Bianca minum ini sendiri? Bianca lupa kalau sekarang dirinya bukanlah wanita berusia 35 tahun, dirinya sekarang adalah gadis berusia 16 tahun yang beberapa bulan lagi jadi berusia 17 tahun.


Padahal sudah setahun lebih Bianca menempati tubuh ini, tapi Bianca terkadang lupa. Apa ini yang dinamakan sebagai efek umur?


Deg. Bianca bisa merasakan aura-aura mengerikan yang berasal dari belakang tubuhnya, aura itu cukup mengintimidasi. Bianca tau dengan jelas aura itu milik siapa.


"Kalau begitu ayo selesaikan permainan ini." Bianca tersenyum. Sekarang ia tidak peduli akan menang atau kalah, karena tujuannya bukanlah kemenangan.


Flower tersenyum. "Silakan buka kartu kalian."


Bianca tersenyum hampa. "Aku kalah." ujarnya santai dan langsung berdiri dari kursi.


Flower dan pria itu membelalakkan matanya. Bianca memegang kartu Tripel 4 dan pria itu memegang kartu One Pair 3. Alasan Bianca kalah adalah karena Bianca memegang kartu death.


"Wah hebat, padahal ia bisa menang."


"Kenapa kartu death itu baru keluar sekarang."

__ADS_1


"Duh benar-benar deh."


"Tapi Nona Siegfried memang hebat, kalau kartu death tidak keluar dia pasti memenangkannya."


Kemenangan yang seperti inilah yang Bianca inginkan, kemenangan dimana yang menang justru terlihat kesal dan merasa sangat tidak adil. Melihat ekspresi itu membuat Bianca sangat senang.


"Haruskah saya memberikan hadia tambahannya Tuan?" ejek Bianca yang sontak membuat pria itu tambah marah.


Pria itu menggeram. "Aku mau tambah ronde."


"Apa? Tambah ronde?"


"Biasanya dia tidak akan mau menambah ronde."


"Kenapa? Padahal dia sudah menang."


"Dia tidak pernah minta tambah ronde. Apa dia merasa terhina walaupun sudah menang?"


Bisikan-bisikan itu semakin berisik ditelinga Bianca, Bianca mau saja menambah ronde tapi Daniel pasti akan mengamuk.


"Maaf tapi adik saya memiliki fisik yang lemah, dia tidak boleh terlalu lelah." ucap Steve sopan.


"Apa?! Aku tidak peduli, dia harus main lagi!!" omel pria itu.


"Tidak peduli?" gumam Daniel yang membuat pria itu tersentak. Aura Daniel mendadak berubah menjadi menakutkan. "Kalau begitu sepertinya tak masalah jika anda kehilangan beberapa anggota tubuh anda kalau adik saya sakit." bisik Daniel yang membuat tubuh pria itu gemetar.


"Apa anda tidak lihat jika wajah adik saya pucat?! Saya akan minta pertanggungjawaban anda kalau anda memaksa adik saya bermain lagi dan sakit." kali ini Steve yang berbicara.


"Kami permisi Tuan." ucap Daniel yang langsung menarik Bianca pergi. Tanpa mereka sadari seorang pria tersenyum menatap Bianca.


"Wah, aku jadi ngefans sama dia." pria itu tertawa.


...🌺...


Begitu permainan itu selesai dan rencana mereka berhasil, Ben, Bianca, Bahiyyih, Terry dan Kai langsung kabur dengan menaiki speed boat yang diam-diam Daniel sembunyikan didalam kapal pesiar. Padahal saat itu hari masih siang tapi mereka dapat kabur dengan mudah karena pertunjukan yang Bianca mainkan. Tapi Riki, Steve dan Daniel masih berada disana sampai acara selesai.

__ADS_1


Dan sekarang sudah satu hari berlalu setelah kejadian itu, Bianca baru mendapatkan hukuman hari ini karena kedua kakaknya kemarin pulang malam dan langsung tidur karena lelah. Riki juga baru bisa ke rumah Bianca hari ini, kalau Huening bersaudara sih untuk sementara akan tinggal di rumah keluarga Siegfried, tentu Steve sudah berbicara dengan kakeknya.


Permintaan Steve tak mungkin di tolak atau lebih tepatnya tidak bisa di tolak.


"Sampai kapan aku begini?" keluh Bianca yang tengah berlutut sambil mengangkat kedua tangannya. Saat ini keluarga Siegfried, Huening bersaudara dan Riki berada di ruang tamu Mansion Siegfried.


Harusnya hari ini mereka pulang ke Amerika tapi masih ada yang harus mereka diskusikan. Bahiyyih yang duduk di samping Bianca sebenarnya merasa kasian, tapi apa yang Bianca lakukan memang salah.


"Kalian hebat bisa mendapatkan katana ini, bagaimana caranya? Padahal Bianca kalah." ucap Riki yang terlihat sangat senang, kalau Riki memegang katana asli itu maka dia akan menjadi pewaris tetap kelompok Yakuza.


Mereka bisa melihat kalau itu bukanlah sembarangan Katana, katana yang terbuat dari biji baja khusus, motifnya juga terbuat dari emas asli, lalu ada permata merah asli juga tapi yang terpenting ada cap Yakuza di katana itu. Cap yang sudah ada sejak pertama kali Yakuza terbentuk dan pewaris selanjutnya diperintahkan untuk menjaga katana ini. Karena itu Katana ini lebih berharga daripada nyawa mereka.



"Sejak awal rencana kami bukanlah memenangkan game itu, lagipula mustahil kalau kakak mu membiarkan katana ini di ambil orang, dia pasti memilih untuk menjadi penerus selanjutnya secara resmi karena itu yang lebih menguntungkan." ujar Ben yang ada benarnya.


"Kami memanfaatkan celah dimana para tamu sibuk melihat pertunjukan yang Bianca buat agar Terry bisa menyelinap keluar dan ke Mansion kakak mu. Siapa sangka kalau Mansion itu di jaga ketat dan akhirnya Terry harus melakukan penyamaran untuk bisa mencuri dan mengganti katana asli ini dengan yang palsu." jelas Daniel.


"Ya itu sangat sulit, aku hampir ketauan kalau tidak hati-hati." Beruntung rumahnya tak jauh dari pelabuhan. Kakaknya Riki memang menetap di China karena kalau dia pulang ke Jepang sudah pasti dia akan dihabisi oleh keluarganya.


"Aku tidak menyangka kalau kalian memikirkan seperti itu, aku pikir kakak ku membawa-bawa katana itu."


"Itu tidak mungkin." ujar Ben.


"Tapi ngomong-ngomong sayang sekali ya kartu death itu munculnya di akhir. Padahal sejak tadi kartu itu tidak muncul sama sekali." celetuk Riki.


"Kata siapa kartu itu hanya muncul di akhir?" Bahiyyih menoleh dan menatap Bianca. "Kau bermain curang kan Bianca?" Kini semua mata tertuju pada Bianca.





__ADS_1


__ADS_2