
Happy Reading...
.
.
.
"Saya dengar hari ini Jack akan berperang dengan keluarga Siegfried."
"Oh begitu." Pria itu terlihat tidak peduli dengan kabar yang baru saja di dengar.
"Apa anda tidak khawatir? Jack kan wakil pimpinan anda."
"Hah? Kenapa aku harus khawatir. Kotoran yang dia buat sudah seharusnya dia bersihkan sendiri dong. Padahal dia sudah susah payah sampai ke tahap ini tapi dia malah menghancurkan semuanya hanya karena seorang wanita, obsesinya sungguh berlebihan." Pria Itu menyeruput wine yang ada di tangannya. "Aku juga berniat untuk segera membuangnya sih."
"Anda berkata seolah-olah dia sudah pasti akan kalah."
"Tentu saja dia akan kalah, memangnya siapa yang bisa menandingi kelicikan keluarga Siegfried." seolah baru menyadari sesuatu pria itu kembali meralat ucapannya. "Ah, ada. Yaitu aku. Tapi untuk saat ini aku belum tertarik dengan keluarga itu. Jadi sebaiknya kau harus segera siapkan permintaan maaf karena sebentar lagi akan ada banyak media yang datang. Merepotkan."
...🌺...
"Apa?"
"Kenapa kita tidak bisa lewat?"
Suara gaduh itu terdengar dengan jelas di telinga Ben. Ben sendiri hanya tertawa kecil. Mereka semua adalah pasukan Jack, sepertinya Jack juga sudah mengira jika dirinya akan di serang hari ini.
Ya walaupun jumlah pasukannya tidak masuk akal sih.
__ADS_1
'100 orang atau 200 ya? belum lagi pasukan yang Daniel habisi.'
Ya berapa pun jumlahnya Ben tidak peduli, asalkan ia menang.
"Kalian memangnya mau kemana? Lawan kalian ada disini tau." ucap Ben dingin.
"Wah aura si bungsu juga bukan main, aku jadi menyesal karena telah berbicara kasar waktu itu." gumam Flower yang berperan sebagai pengamat di kejauhan. Ya penyesalan memang selalu datang terakhir sih.
...🌺...
BUAK. Suara pukulan itu terdengar sangat mengerikan bahkan di telinga Terry sekalipun. Perkelahian Bianca dan Jack memang berada di ujung agar tidak diganggu oleh siapapun, tapi suaranya terdengar keras sampai sini.
Terry bahkan sampai merinding mendengar suara itu, dia juga sangat mengkhawatirkan Bianca. Tapi kalau Bianca bilang mereka tidak boleh ikut campur maka Terry akan menurutinya.
BUK.
Terry harus yakin kalau Bianca pasti baik-baik saja.
......🌺......
"Kau melemah ya ketua. Aku tidak percaya jika penelitian yang telah ku lakukan selama ini akhirnya berhasil juga." Jack tampak senang. Padahal mereka sedang bertarung tapi mereka masih sempat-sempatnya mengobrol.
Sudah Bianca duga, obat yang waktu itu di konsumsi oleh Bianca asli dan dirinya adalah obat yang sama dan dari orang yang sama. Obat yang Jack maksud sebagai obat mengekstrak jiwa. Entah bagaimana cara manusia itu membuatnya tapi Bianca akui jika obat ini berhasil bekerja.
"Ini adalah bukti jika saya mencintai Ketua, harusnya sejak awal anda memilih saya agar anda tidak menderita." ujar Jack yang sepertinya semakin tidak waras. "Padahal aku benar-benar mencintai mu sampai rela membunuh keluarga ku sendiri tapi kenapa kau tidak pernah memilih ku sekalipun."
Buak. Bianca terhuyung mundur ketika wajahnya di pukul oleh Jack. Jack terlihat marah.
"Harusnya kau bisa membedakan antara cinta dan obsesi, kau itu terobsesi pada ku bukan mencintai ku." ucapnya yang langsung kembali melayangkan tendangan.
__ADS_1
"Kau pikir aku senang jika di hidupkan kembali?! Karena kau justru aku semakin menderita, kau juga membunuh Steve."
Tidak, itu hanya alibi Bianca saja, ia cukup senang saat di hidupkan kembali tapi ia terlalu terbuai dengan kebahagiaan yang ada hingga akhirnya ia kehilangan orang yang ia sayangi.
Memang benar pada akhirnya semua orang akan mati dan hidup selalu berakhir dengan sad ending tapi setidaknya Bianca ingin orang-orang yang disayanginya mati dengan wajar, bukan karena di bunuh.
Lebih baik mereka mati karena sakit atau murni kecelakaan daripada karena di bunuh, karena itu sama saja merenggut nyawa mereka dengan tidak adil dan Bianca tidak bisa menerima ini semua.
"Bicara apa kau? Kau kan yang memulai semuanya, kau juga yang membunuh kedua orang tua mereka dan apa sekarang kau sedang berperan sebagai adik yang baik? Jangan membuat ku tertawa, ini bukan seperti ketua yang ku inginkan!!!"
"Benar saat ini aku sedang berperan menjadi adik yang baik, adik yang membalaskan dendam kakaknya yang mati karena dibunuh. Kau juga benar tentang semua ini." Bianca terdiam sesaat, ia memundurkan langkahnya dan terlihat mengambil sesuatu dari balik sakunya.
Ia mengambil sebuah pisau dan menatap Jack dengan serius. "Karena itu aku juga yang akan mengakhiri semuanya sekarang. Jack, ayo kita bertarung lagi seperti dulu tapi sekarang kita harus bertarung sampai salah satu di antara kita mati."
Jack terdiam, ia menatap Bianca dengan dingin. Sampai akhir pun wanita itu tidak memilihnya. "Sesuai permintaan mu." jawabnya yang juga itu mengeluarkan sebilah pisau.
...🌺...
"*Kenapa aku memiliki keanehan seperti ini? Aku takut karena tidak bisa mengendalikannya." anak kecil itu terlihat menangi sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan.
"Apa yang kau lakukan disitu?" gadis berambut pendek itu menatapnya dengan tatapan aneh. Gadis itu adalah satu-satunya teman yang dia miliki. "Kau memikirkan hal rumit apalagi sih?"
"Aku tidak memikirkan apapun." anak lelaki itu menghapus air matanya dan tersenyum.
Gadis kecil itu menghela nafas, ia menarik tangan anak lelaki itu. "Jangan pedulikan apa kata orang. Karena seperti apapun diri mu, aku akan selalu berada di pihak mu Jack*."
__ADS_1