Innefabel {END}

Innefabel {END}
Permainan Bianca


__ADS_3

Happy Reading...


.


.


.


Sekarang Ben lah tokoh utama di acara ini, ia jadi pusat perhatiannya karena memenangkan 4 game berturut-turut, hasilnya ia mendapatkan banyak chip yang entah nilainya berapa.


"Wah dia menikmati permainannya ya." ujar Riki seraya menatap Ben yang terlihat menikmati permainan yang ia mainkan.


Ya tidak hanya Ben, Bianca juga ikut memainkan beberapa permainan namun ia tidak menjadi tokoh utama karena Bianca baru memainkan satu permainan yaitu permainan poker. Ya permainan asah otak memang cocok untuk Ben.


"Baiklah, biar saya yang kocok kartunya." ujar seorang dealer yang memiliki tato bunga ditangan kirinya. Suaranya sangat tidak asing untuk Bianca.


"Satu chip senilai dengan $10.000 USD. Saya yakin kalian pasti sudah mengetahui peraturannya jadi silahkan di mulai."


Dealer itu mulai membagikan kartunya dan setelah itu permainan di mulai.


'Ini terlalu mudah, bukan ini yang aku incar.'


Dealer itu menatap Bianca, ia tersenyum. Tapi karena takut di anggap sebagai kecurangan jadi dealer itu tidak bisa berkata apapun.


"Call." ucap Bianca yang langsung meletakkan kartunya di atas meja.


10 menit kemudian...


Bianca kalah dalam permainan ini, ini bukanlah permainan yang dipenuhi oleh kecurangan jadi tak masalah untuk Bianca.


"Jika nona ingin hadia yang lebih besar, sebaiknya nona langsung saja mendatangi pria itu." ucap sang dealer agak berbisik. Sudah Bianca duga, dealer itu adalah pembawa acara yang kemarin.


"Begitu ya."

__ADS_1


"Ngomong-ngomong taktik anda kemarin sungguh luar biasa ya, saya bahkan hampir tidak menyadarinya jika tidak diperhatikan dengan sangat teliti." Bianca terdiam, jadi kecurangannya kemarin terbongkar ya.


"Tak perlu khawatir, ditempat ini tidak ada yang menghakimi kecurangan. Karena nona pintar jadi saya akan bertaruh pada anda, kalau nona memang saya akan memberikan nona hadia apapun yang nona inginkan."


"Kau bicara seolah-olah sudah lama mengenal aku ya." Bianca bangkit dari duduknya.


"Saya kecewa karena sepertinya nona lupa pada saya, padahal kan saya yang memberikan nona permen manis itu."


DEG. Bianca melirik kearah pria itu dengan penuh amarah. Bagaimana bisa dia berkata dengan santai begitu setelah menghancurkan seorang gadis.


"Oh, apa nona marah? Saya juga tidak tau itu permen apa. Tapi mungkin nona butuh informasi, walaupun sulit dipercaya dulunya saya adalah informan Shanka ya saya kabur setelah melakukan kesalahan dan melakukan operasi plastik karena takut ketahuan." pria itu tertawa. "Anda bisa memanggil saya Flower, kalau begitu sampai jumpa dan semoga anda beruntung. Kalau anda kalah maka sia-sia saya bertaruh." dealer itu pergi begitu saja meninggalkan Bianca.



Oh, sekarang Bianca tau siapa pria itu. Pria yang sempat mencuri 10 perhiasan miliknya dulu. Wah, bisa-bisanya dia muncul tanpa rasa bersalah. Baiklah tak masalah karena pria itu telah membocorkan hal yang penting.


...🌺...


Bianca duduk di samping seorang pria tampan, pria yang katanya anak ketiga keluarga Nishimura. Bianca duduk dengan santai dan menyesap Wine yang ada di gelas itu.


'Bodo amat deh.'


"Kenapa kau kesini?" tanya pria itu santai tanpa menatapnya. Sungguh tidak sopan ya.


"Apa lagi? Tentu saja saya ingin menantang anda."


"Kau yang kalah saat bermain poker ingin menantang ku?" pria itu tertawa, "Kau sedang bercanda ya? Dilihat dari mana pun seperti kau anak SMA."


Bianca menggidikan bahunya tak acuh. "Apa umur itu penting ditempat ini? Kurasa tidak. Aku menantang mu karena penasaran dengan hadia yang kau sebut berharga itu." ujarnya. "Tapi apa permainannya sudah selesai? Melihat kau ada disini dan bukan ditengah aula."


"Sebenarnya iya, karena tidak ada yang bisa menandingi ku aku jadi menyelesaikan permainan ini. Tapi..." pria itu menyentuh dagu Bianca dengan telunjuknya. "Kalau kau ingin bermain dengan ku maka aku akan membuka permainannya kembali."


"Baik sekali." Bianca memajukan wajahnya mendekati pria itu, bisa dilihat jika pria itu seumuran dengan Daniel.

__ADS_1


"Apa kau penasaran dengan hadiahnya? Lihatlah." pria itu menunjuk kearah barang yang pengawalnya bawa. Sudah Bianca duga, mana mungkin pria itu membiarkan orang lain mengambil harta keluarganya.


"Permatanya terlihat cantik." ucap Bianca. Bianca melirik kearah Riki yang terlihat marah. Wajar sih, dia sudah terpaksa datang kesini hanya untuk mendapatkan harta keluarga itu tapi yang ada hanya permatanya.


Bianca penasaran dengan hubungan keluarga Nishimura tapi Bianca tidak mau kepo. Tujuannya hanya mendapatkan keuntungan.


"Ayo hadia nya kita tambahkan." ujar pria itu yang tiba-tiba mendekati Bianca dan memeluk pinggang Bianca.


Apa pria itu tidak tau kalau ada 4 singa yang sudah siap-siap untuk menerkamnya. "Kalau kau menang, kau tak hanya mendapatkan uang dan permata tapi hadia spesial dari ku juga, tapi kalau aku menang aku ingin tidur dengan mu."


'Orang gila?!'


Bianca tersenyum manis. "Baiklah. Jadi katakan pada ku apa permainannya."


Pria itu melepas pelukannya dan berjalan menuju aula bagian tengah. Hal itu sontak membuat para penonton riuh.


"Permainannya di buka lagi?"


"Bukankah dia tidak mau membuka permainannya?"


"Apa gadis itu menantangnya?"


Bisikan-bisikan itu terdengar ditelinga Bianca, namun Bianca hanya mengacuhkan hal itu. Seketika semua orang berkumpul hanya untuk melihat permainan yang membosankan.


Bianca melirik kearah kanannya yang terdapat seorang dealer yang bersiap untuk mengocok kartunya. Dealer itu tersenyum kearahnya dan mengedipkan sebelah matanya.


Bianca langsung memasang wajah tak suka, kenapa harus pria itu lagi. Tapi ya sudahlah.


"Kita akan bermain Bears Poker."


'Apa? Permainan baru?'


__ADS_1



__ADS_2