
Happy Reading...
.
.
.
Daniel tertawa terbahak-bahak ketika melihat penampilan si kembar yang kacau. Tadi begitu sampai di daratan Ben segera menyuruh Terry dan Kai ke rumah sakit, penampilan si kembar tidak memungkinkan untuk ke rumah sakit jadi si kembar memutuskan untuk pulang ke rumah lebih dulu.
"Wah ternyata kalian masih hidup ya hahaha." Daniel mengeluarkan ponselnya dan segera memfoto si kembar dengan wajah yang penuh semangat.
Tentu saja kedua anak itu kesal. Tapi mereka juga harus bersabar menghadapi kakak pertama yang kelakuannya seperti anak kecil yang jahil ini.
"Bisa gk fotonya nanti aja dan panggilkan kami dokter dulu." ucap Bianca dengan suara rendah menahan kesal.
"Tidak bisa, tapi Bianca apa sekarang Anabel menggunakan sniper dan bukan pisau lagi?" Daniel kembali tertawa, ia sangat senang tertawa diatas penderitaan si kembar.
"Ben kau ditampar ya? Apa fans mu kesal karena kau tidak bisa memuaskannya? Hahahaha."
'Sialan.' Bianca dan Ben jadi kesal sendiri. Akhirnya mereka memutuskan untuk langsung duduk disofa.
"Yak! Sofanya bisa kotor!" omel Daniel.
"Kalau tidak mau kotor harusnya kakak cepat-cepat panggil dokter. Ya ampun kakak gadis cantik ini sedang terluka loh." Daniel mendelik jijik ketika Bianca memuji dirinya sendiri, duh beneran deh kok bisa sih Daniel punya Ade yang gk ada ahlaknya begini.
"Tapi bagaimana bisa kalian membakar tempat itu tanpa mengambil bukti?"
Ben dan Bianca tersentak mendengar ucapan Daniel, perasaan mereka belum cerita deh kok Daniel udah langsung tau?
Tentu saja Daniel langsung tau, mereka saja pulang lenggang begitu tanpa membawa barang satupun selain sniper di punggung Bianca. Bahkan ponsel mereka saja kayaknya tertinggal deh.
__ADS_1
"Ya ampun adik-adik ku yang manis, masa kakak harus mengajar lagi sih?"
"Gk usah ngajar lagi juga gk apa." gumam Ben yang masih bisa di dengar oleh Daniel.
Daniel tersenyum. "Begitu ya..."
Entah kenapa seketika si kembar merasakan firasat buruk.
...Beberapa Hari Kemudian......
"Wah sepertinya Liburan kalian seru ya." ejek Riki.
Beberapa hari berlalu dan sekarang adalah waktunya mereka masuk sekolah.
Tapi tunggu! Apa wajah lesuh si kembar, Terry dan Kai adalah wajah orang yang menikmati liburan dengan seru? Apa mata Riki tidak bisa melihat betapa banyaknya perban yang melilit tubuh mereka dan lebam di tubuh mereka? Sepertinya Riki harus memakai kacamata lagi deh.
"Ku dengar Kai dan Terry di rampok, itu benar-benar menyeramkan." ucap Sunoo yang terlihat khawatir.
Lalu berita itu menyebar dengan cepat, saat disuruh menyebutkan ciri fisiknya mereka berdua hanya mengarangnya saja dan bilang kalau orang itu pakai topeng. Jadi selebriti itu memang susah ya, semuanya harus di sorot dan kalau tidak sorot langsung jadi bahan omongan dan muncul segala berita omong kosong.
"Setidaknya kami tidak terlalu parah." ucap Kai sambil tersenyum.
"Seharusnya kalian lebih berhati-hati lagi dan mungkin menambah pengawalan itu lebih bagus."
"Terimakasih Sunoo atas sarannya."
Riki kini menatap si kembar. "Aku mengerti kenapa Terry dan Kai terluka, tapi kenapa kalian terluka juga?" tatapan Riki cukup mengintimidasi.
si kembar sendiri saling berpandangan. "Kami kecelakaan." Kata Bianca yang tak sepenuhnya salah. Ben di culik itu juga termasuk kecelakaan dan hidup kan? Atau bukan?
Sunoo menutup mulutnya, ia menatap kedua temannya dengan prihatin. "Kenapa kalian semua terluka saat liburan? Ya bencana di hari libur memang tinggi sih aku juga tidak bisa memungkiri hal itu. Sangat berbahaya dan ku rasa kita harus lebih berhati-hati lagi."
__ADS_1
"Ya, itu benar dan ini adalah pelajaran untuk kami." sahut Ben.
Bianca melirik kearah Bahiyyih yang hanya terdiam dan bahkan wajahnya terlihat murung. Dia seperti memikirkan sesuatu yang berat, wajah Kai juga terlihat cukup buruk.
'Ada apa?'
...🌺...
Bianca mendudukan dirinya disamping Bahiyyih yang tengah berbaring di ruang UKS. Mereka memang tidak sekelas tapi Bianca mendengar jika Bahiyyih di bawa ke ruang UKS karena sakit.
Bianca memegang kening Bahiyyih yang tidak terasa panas, apa mungkin penyakit dalam?
Bahiyyih tersentak ketika merasa ada sesuatu yang menyentuh keningnya, ia terkejut saat melihat Bianca.
"Ini kan masih jam pelajaran." ucap Bahiyyih panik. Bianca tersenyum, ia meletakan jari telunjuk di bibir yang bertanda Bahiyyih tidak boleh berisik.
"Tidak masalah, lagipula aku memang sering bolos." Bianca memberikan Bahiyyih susu kotak. "Kau tidak terlihat sakit tapi kau terlihat seperti memiliki banyak pikiran. Apa yang membebani mu?"
Bahiyyih tidak menyangka jika Bianca menyadarinya. Tapi Bahiyyih tidak ingin membuat Bianca khawatir, Bahiyyih terdiam dan meremas kotak susu itu.
"Aku tidak akan memaksa mu Bahiyyih, santai saja. Tapi kalau kau ingin bercerita aku akan mendengarkan mu." Bianca tersenyum dan hal itu membuat Bahiyyih agak tenang, matanya berkaca-kaca.
"Mungkin ini seperti cerita dongeng. Tapi sebelum itu sebenarnya hari ini adalah hari peringatan kematian kakak pertama kami dan sayangnya kami tidak bisa pergi ke makamnya. Ya itu membuat ku cukup sedih."
Saat itu untuk pertama kalinya Bahiyyih menceritakan kisah hidupnya pada Bianca dan begitu menceritakan semuanya Bahiyyih menangis.
'Apa seharusnya aku gk usah nanya ya? Kayaknya aku terlalu kepo deh.'
__ADS_1