
Happy Reading...
.
.
.
Kai dan Bahiyyih terdiam. Kai tau jika Bahiyyih memang cocok dengan posisi ini, Bahiyyih pun sepertinya menginginkan posisi ini. Tapi Kai juga tau kalau Bahiyyih pasti merasa tidak enak dengan Kai yang sudah berjuang keras untuk menjadi pemimpin yang sempurna.
Kai merasa senang memiliki adik yang pengertian seperti Bahiyyih. Walaupun mereka berbeda ibu tapi mereka selalu bersama, apalagi setelah kematian kakak pertama mereka yang membuat Kai sangat ingin melindungi Bahiyyih.
Kai memegang tangan Bahiyyih untuk meyakinkannya. Sebenarnya mereka sudah mendiskusikan hal ini saat di perjalanan tadi, Ben juga sudah mengajarkan apa saja yang harus mereka katakan saat berhadapan dengan pria itu. Mereka semua menerapkan apa yang Ben ajarkan dengan sempurna.
"Bahiyyih jangan pikirkan perjuangan ku, lakukan apa yang ingin kau lakukan karena aku akan selalu mendukung mu. Karena aku ingin kau memilih jalan yang ingin kau tempuh." Kai tersenyum. "Bukankah kau juga ingin menjadi pijakan untuk Bianca? Kurasa ini adalah cara yang tepat."
Bahiyyih menatap kakaknya dengan tatapan terharu. Bahiyyih tau jika Kai pasti akan melakukan apapun yang Bahiyyih inginkan, bahkan jika Bahiyyih menginginkan jiwa Kai pasti tanpa pikir panjang Kai akan memberikan jiwanya.
Karena bagi Kai, Bahiyyih lebih berharga dari nyawanya sendiri, hanya Bahiyyih yang Kai punya saat ini.
Bahiyyih memejamkan matanya sesaat, untuk sekarang ia merasa yakin. "ensina-me a ser um líder." (ajari aku untuk menjadi seorang pemimpin) kata Bahiyyih dengan yakin.
Mata Sam terlihat berbinar, mungkin Sam bersyukur karena pekerjaannya sudah sedikit berkurang. Sam mengangguk dengan antusias.
Kai juga tersenyum mendengar keputusan Bahiyyih. Kai berpikir jika itu adalah keputusan yang sangat bagus. Kai langsung memberikan kunci itu pada Bahiyyih. Sepertinya Bahiyyih harus belajar sekarang.
"Aku akan meninggalkan mu, nanti malam akan ku jemput lagi. Aku yakin kau pasti bisa mempelajarinya. Hubungi aku jika kau butuh sesuatu." Kai memeluk Bahiyyih, Bahiyyih sangat senang memiliki kakak seperti Kai.
"Tentu saja."
__ADS_1
Kai bangkit dari duduknya dan di ikuti oleh Ben. Sepertinya Ben tau keputusan hari ini. Ya itu cukup bagus karena apapun pilihan mereka itu sangat baik.
...🌺...
...Dua Hari Kemudian......
'Dasar gila.'
Jadi artis saja sepertinya tidak begitu melelahkan seperti ini. Bahiyyih baru dua hari bekerja dan rasanya sudah seperti bertahun-tahun, entah kenapa tumpukan dokumen ini sama sekali tidak ada habisnya.
"Nona ini dokumen yang harus anda periksa." ucap Sam yang membuat Bahiyyih melotot tak percaya.
"Tunggu dulu, kalau begini terus aku benar-benar bisa mati." padahal ini baru tahap belajar. Bahiyyih rasanya mengerti kenapa Sam sangat bahagia saat pekerjaan ini di ambil alih.
Ben dan Kai yang melihat hal itu dari balik pintu hanya bisa mengelus dada. Entah ini keberuntungan atau bukan setidaknya Kai cukup bersyukur karena bukan dia yang mengambil alih perusahaan itu.
"Sepertinya kau memang tidak mengharapkan perusahaan ini ya?" tanya Ben karena tidak ada reaksi kecewa dari Kai saat mengetahui jika perusahaan itu jatuh ke tangan Bahiyyih.
"Ya lagian tujuan mu itu adalah menghancurkan kakek mu, tapi cepat atau lambat kakek mu pasti tau jika perusahaan keluarga ini sudah diambil alih oleh Bahiyyih. Apa yang akan dia lakukan jika mengetahuinya?"
Kai terdiam, tapi ia sudah memiliki jawaban yang pasti. "Aku yakin dia akan berusaha untuk merebut perusahaan ini. Tapi aku tidak akan membiarkannya, kalau bisa sebelum hal itu terjadi aku harus sudah menghancurkan kakek ku dulu. Dengan posisi ku sebagai artis mungkin akan sedikit menguntungkan tapi posisi kakek adalah seorang ketua Dewan jadi pasti akan sulit."
Ben menepuk pundak Kai. "Tak ada yang sulit jika kau berusaha, aku akan membantu mu. Sesuai dengan perjanjian."
"Tapi tentu saja akan ada biaya tambahan jika pekerjaannya terlalu rumit." Ben berucap dengan ceria.
Wah, kakak adik sama saja ya. Walaupun begitu, hal ini sangat menghibur untuk Kai. Kai tertawa kecil mendengar ucapan Ben.
Drtt... Ponsel Ben berbunyi yang bertanda ada telepon masuk, dengan sigap Ben mengangkat telepon itu.
__ADS_1
Namun saat sedang menelpon ekspresi Ben langsung berubah drastis, Ben memasang ekspresi pucat sekaligus terkejut, tatapannya mendadak sedih dan kosong.
"Ben, ada apa?" tanya Kai yang membuat Ben menatapnya. Air mata mengalir begitu saja saat Kai bertanya, hal itu membuat Kai semakin khawatir.
"Terry dan Steve kecelakaan, mereka sedang dalam kondisi kritis."
Bahiyyih yang tak sengaja mendengarnya pun terdiam kaget, Kai tak tau harus berbicara apa. Yang bisa ia katakan hanyalah...
"Kita akan kembali ke China sekarang juga. Aku akan menyiapkan helipad nya."
...🌺...
...Kembali Ke Masa Sekarang......
"BIANCA!" Panggil Ben saat melihat Bianca hanya terdiam sembari menatap keluar jendela dengan tatapan kosong. Begitu sampai Ben langsung menanyakan ke adaan Steve dan Terry.
Keadaan Terry memang sudah membaik tapi keadaan Steve semakin memburuk. Setelah itu Ben langsung mencari Bianca yang katanya sudah dua hari ia tidak keluar kamar.
Ben memeluk Bianca dengan erat, mereka berdua menangis. "Kak Steve... dia kritis hikss..." tangis Bianca dalam pelukan Ben.
"Aku tau." Ben menjawab dengan lirih, ia tidak tau harus berkata apa. Air mata juga terus mengalir dari kedua matanya.
Luka yang di derita Steve cukup parah, apalagi Steve juga terkena dampak dari ledakan saat menyelamatkan Terry.
Bianca menghentikan tangisnya, ia melepaskan pelukan Ben dan menatap mata Ben dengan serius. "Kau harus mengambil alih Shanka, aku akan membantu mu."
'Apa? Tiba-tiba?'
__ADS_1