Innefabel {END}

Innefabel {END}
Berusaha


__ADS_3

Happy Reading...


.


.


.


"Terry berhenti." Ujar Bahiyyih tiba-tiba yang sontak membuat Terry berhenti mendadak.


"Kenapa tiba-tiba?" Bahiyyih tidak menjawab, ia turun begitu saja dari motor dan berlari ke arah yang berlawanan, Terry terus memperhatikan Bahiyyih sampai Bahiyyih kembali.


Namun saat perjalanan kembali Bahiyyih sempat menabrak seorang pria berseragam dokter, entah apa yang Bahiyyih katakan karena jaraknya cukup jauh Terry tidak begitu mendengarnya.


Tapi tak lama Bahiyyih kembali dengan membawa sebuah benda.


"Lihat Terry, bukankah ini punya Bianca?" Ujar Bahiyyih sembari memperlihatkan gantungan kunci berbentuk kelinci yang biasanya tergantung di tas Bianca.



Tapi kelinci putih itu kini berubah warna menjadi warna merah. "Ini darah." Ujar Terry ketika mengendus gantungan kunci itu.


"Bianca terluka?" Bahiyyih menutup mulutnya ia terkejut sekaligus khawatir.


"Kita harus memberikan ini pada Ben agar dia bisa menyelidikinya lebih baik." Bahiyyih mengangguk setuju, ia pun kembali menaiki motor Terry.


Namun sebelum Terry melajukan motornya, Terry sempat menatap pria yang baru saja Bahiyyih tabrak. Pria itu menatap mereka dan entah kenapa pria itu terlihat aneh.


"Ada apa? Kita harus cepat."


Terry tersentak dan segera melajukan motornya dengan kecepatan penuh.


"Bukankah pria yang tadi terlihat aneh?"


"Entahlah aku tidak memperhatikan dia, bagiku yang penting adalah Bianca."


Ucapan Bahiyyih ada benarnya, karena situasi yang paling genting saat ini adalah menemukan Bianca. Terry harap Nona nya baik-baik saja.


...🌸...

__ADS_1


Brak. Pintu terbuka menampilkan Bahiyyih, Ben, Kai dan Terry yang baru saja datang. Ruangan yang dipenuhi dengan layar-layar besar dan teknologi modern itu sempat membuat Bahiyyih dan Kai tercengang.


Tapi tunggu! Apa Bahiyyih dan Kai benar-benar boleh datang kesini?


"kak, kami menemukan ini." Steve yang terlihat tengah mengutak-atik komputer menoleh dan melihat apa yang Terry bawa.


Tak hanya Steve, Daniel dan Ben juga mendekati menatap gantungan kunci yang sudah berubah warna menjadi merah darah.


"Ini bau darah." Gumam Ben yang masih bisa terdengar oleh mereka.


DEG. Seketika wajah Siegfried bersaudara itu menggelap, amarah jelas-jelas terlihat di wajah mereka. Atmosfer disekitarnya jadi dingin dan mengerikan, Terry, Bahiyyih dan Kai tiba-tiba saja merinding dan takut.


Wajar jika mereka marah bahkan Bahiyyih, Terry dan Kai juga merasa sangat marah saat ini. Tapi kalau ketiga Siegfried ini tidak bisa mengendalikan emosi bisa-bisa mereka akan menghancurkan seluruh Amerika -ah ralat- seluruh dunia akan di hancurkan agar Bianca ketemu.


"Bahiyyih Huening, ku dengar kau pintar di bidang kimia." Ujar Yeonjun dingin yang membuat Bahiyyih tersentak.


"Ya."


"Kalau begitu kami akan membutuhkan bantuan mu nanti." Ujar Steve.


"Saya akan melakukan apapun." Ujar Bahiyyih penuh semangat. Steve melemparkan tas berukuran sedang ke arah Bahiyyih dan Bahiyyih dengan sigap menangkapnya.


"Gunakan sarung tangan Bahiyyih, kakak pasti menyuruh mu untuk mengambil beberapa bahan kimia yang ada disana." Ujar Terry yang membuat Bahiyyih menatapnya. Gadis itu menurut tanpa banyak bertanya.


"Kami sudah berhasil menemukan tempat terakhir Bianca." Ben menoleh kearah Terry. "Kau harus bisa menemukannya Terry."


"Baik Tuan."


...🌸...


Ini adalah jalan yang tadi Terry dan Bahiyyih lewati, tempat dimana ia menemukan gantungan kunci itu.


"Apa kau menemukan gantungan kunci itu disini?" Tanya Steve yang membuat Bahiyyih mengangguk.


"Lebih tepatnya disana." Bahiyyih menunjuk kearah jalanan yang terdapat bercak darah. Darah yang baru saja mengering.


'Bianca, ku mohon tolong bertahan, kakak akan segera menjemput mu.' Steve menggenggam gantungan kunci itu dengan erat.


"Aku menemukan jalannya." Ujar Terry.

__ADS_1


...🌸...


Buk. Bianca memukul dinding itu dengan kesal. Disaat penting begini dirinya malah tidak berguna.


Bianca melirik kearah jam dinding yang menunjukkan pukul 4 pagi. Sudah berjam-jam Bianca terkurung disini. Bianca bahkan terus menerus menarik kakinya tapi bukannya lepas justru kakinya yang lecet.


Bianca menggeram marah, tidak mungkin dirinya hanya diam dan menunggu pertolongan datang. Bianca harus melakukan sesuatu, Bianca juga punya janji kepada keponakannya tadi.


'Ayolah, gunakan otak mu untuk berpikir.'


Tapi saat Bianca memaksakan dirinya untuk berpikir justru kepalanya semakin sakit dan terasa ingin meledak.


'Sial! Sebenarnya cairan kimia apa tadi?!'


Oh benar, Bianca masih mengenakan seragam sekolah dan ada belati disaku roknya, apa belatinya sudah dikeluarkan?


Bianca meraba-raba saku roknya dan sialnya ternyata belati itu tertancap di sandaran sofa.


'Siapa yang berani bermain-main dengan belati ku?!!'


Ya ampun Bianca jadi semakin kesal. Bianca menggerakkan tangannya untuk berusaha melepas rantai itu, tapi susah sekali. Tubuhnya benar-benar tidak ada tenaga, padahal dulu Bianca bisa menghancurkan rantai seperti ini, sekarang kekuatannya benar-benar melemah.


'Mulai sekarang aku akan banyak berlatih.'


Bianca melirik kearah atas meja yang tak begitu jauh darinya, disana ada sebuah kunci. Bisa jadi itu adalah kunci untuk melepas borgol ini.


Tapi sangat susah meraihnya karena rantai yang terpasang dikakinya cukup pendek. Walaupun begitu Bianca tidak akan tinggal diam, alih-alih meraih kuncinya justru Bianca memilih untuk meraih taplak meja yang lumayan panjang itu.


Ia terus berusaha untuk meraihnya, dan berhasil. Begitu menggapai ujung taplak meja itu Bianca langsung menariknya membuat semua barang yang berada diatas meja berjatuhan.


Brakk... Prank....


"DASAR WANITA SIALAN! BERANI-BERANINYA KAU MEMECAHKAN SEMUA CAIRAN ITU!!"


BUK.



__ADS_1


__ADS_2