Innefabel {END}

Innefabel {END}
Cerita Terry


__ADS_3

Happy Reading...


.


.


.


...Flashback Sebelum Kecelakaan Terjadi......


"Kenapa kita tidak langsung ke Mansion saja? Kenapa kita harus menginap di hote?" tanya Terry ketika Steve mengajaknya menginap di hotel. Padahal keluarga mereka berada di China, kenapa harus repot-repot menginap di hotel.


Steve tertawa kecil, Steve tau jika Terry ingin cepat-cepat berpelukan dengan gulingnya. Steve meletakan jari telunjuknya di bibir.


"Kita akan bermain."


"Bermain?" bingung Terry.


"Benar, ayo kita selidiki Sapphire berdua. Lalu laporannya kita jadikan hadia untuk Daniel."


Terry jadi heran, bagaimana bisa Steve mengajak Terry mengerjakan misi itu dengan ceria? Memangnya ini permainan anak-anak?


Terry menghela nafas. "Baiklah."


Steve tersenyum, tidakkah Terry terlalu penurut? Padahal si kembar yang seumuran dengannya saja akan berteriak jika di beri misi yang sulit.


"Duh, padahal kau bisa jadi sedikit lebih pembangkang."


"Apa saya harus melakukan itu?" tanya Terry heran. Bukankah orang-orang lebih suka dengan anak yang penurut ya?


Steve tampak terdiam, ia mencoba berpikir. "Mungkin sedikit lebih bagus kalau kau memiliki keinginan mu sendiri, maksud ku kau tak perlu menuruti setiap ucapan aku dan Kak Daniel. Sedikit membangkang seperti si kembar juga tidak masalah."


Terry menghela nafas. "Akan coba saya lakukan."


Ucapan Terry justru membuat Steve tertawa. Menurut Steve, Terry itu cukup lucu karena terlalu penurut. "Hey, jangan begitu memangnya kau ini robot?"


"Sudahlah ayo kita beristirahat sebelum kembali bekerja."


...🌺...

__ADS_1



"Rumah sakit? Kenapa rumah sakit?"


Padahal tadi katanya Steve akan langsung mengajaknya menyelinap ke markas Sapphire tapi kenapa mereka malah ada di rumah sakit?


"Kau tau kan kalau Sapphire itu adalah lembaga penelitian? Memangnya apalagi markas yang tidak terlalu mencolok untuk lembaga penelitian selain rumah sakit? Dan juga mereka itu lembaga legal yang sudah disetujui oleh pemerintah." jelas Steve yang membuat Terry mengangguk paham.


Tapi apa pemerintah tau kalau lembaga itu ditempati oleh orang-orang gila? Bahkan pembuat narkoba juga masuk ke lembaga penelitian? Yang benar saja. Terry tidak habis pikir.


"Ayo masuk." kata Steve yang membuat Terry menatapnya bingung. Apa maksudnya? mereka kan harusnya menyelinap dengan diam-diam atau tidak mereka menyamar sebagai pasien, tapi kenapa Steve langsung masuk saja?


Terserahlah, Terry akan mengikuti Steve saja. Toh, yang memimpin kan memang Steve.


Begitu mereka memasuki rumah sakit itu bau obat-obatan mulai menyeruak masuk ke hidung mereka, bau nya sangat menyengat. Ya wajar saja ini kan memang rumah sakit.


Sepanjang perjalanan Terry hanya membungkam mulutnya saja tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, Terry sibuk memperhatikan sekelilingnya tidak ada yang aneh hanya saja Terry merasa ada yang janggal.


'Naik lift?'


"Kau tidak bertanya apapun?" tanya Steve yang merasa sedikit heran, tapi kalau yang dia ajak adalah Terry harusnya dia tidak perlu heran sih.


Steve menggidikan bahunya tak acuh, mereka pun menaiki lift, namun anehnya Steve menekan angka 752 secara bersamaan.


"Memangnya bisa menekan tiga angka itu bersamaan?" tanya Terry bingung.


"Bisa kok, buktinya lift yang kita naikkan jalan kan." Steve tersenyum, ya ampun ternyata ada juga ya sisi polos seorang Terry.


Terry juga merasa kagum, teknologi jaman sekarang benar-benar tidak bis dimengerti.


"Sekarang pakai masker mu." bisik Steve yang membuat Terry tersentak. Terry pun mengikuti ucapan Steve, ia menggunakan maskernya.


Lift berhenti di sebuah lantai, begitu mereka keluar dari lift bau darah, nikotin dan bau-bau lainnya langsung memasuki Indra penciuman mereka. Terry rasanya ingin muntah saat mencium bau-bau itu.


Walaupun begitu Terry memutuskan untuk terus berjalan mengikuti Steve, melihat reaksi Steve yang menyeritkan keningnya sepertinya ia juga tidak suka dengan tempat ini.


Di luar dugaan, tempat ini sangat sepi dan tidak ada penjaga sama sekali, orang-orang yang berada di tempat itu semuanya diam seolah-olah keberadaan mereka bukanlah hal yang aneh atau asing malah mereka terkesan untuk membiarkan Steve dan Terry datang.


"Oh kalian sudah datang?" ujar seorang pria tampan yang usianya mungkin lebih tua dari Steve.

__ADS_1



Terry mengenali orang itu, orang itu adalah orang yang sangat dicari-cari oleh Daniel, Steve menatap orang itu dengan tajam. Tapi kenapa orang itu terlihat seperti sudah menunggu mereka?


"Tapi aku tidak suka jika ada orang asing yang mendengar ucapan kita." kata Jack yang malah membuat Terry berdecih jijik.


Steve menoleh dan tersenyum menatap Terry. "Sebenarnya aku sudah membuat janji dengan orang ini, tapi aku tidak bilang pada kalian karena kalian mungkin akan marah. Walaupun begitu ini adalah sebuah pertemuan yang kami rencanakan jadi jangan beritahu si kembar dan kak Daniel ya." Steve mengatupkan kedua tangannya memohon.


"Harusnya kau tidak boleh menyembunyikan apapun dari kami." kesal Terry. Pantas saja sejak tadi ada yang aneh.


"Kau tunggu di dekat lift saja, aku akan segera kembali." kata Steve.


"Ya pembicaraan kita juga tidak akan lama." sahut Jack yang langsung membuka Steve pergi begitu saja.


Terry hanya bisa diam dan menuruti ucapan Steve. Memangnya apa yang bisa dirinya lakukan?


Terry berdecak kesal. "Yang benar saja." Terry pun akhirnya memilih untuk berkeliling lantai ini. Ada banyak ruangan disini tapi semuanya rata terkunci dan terbuat dari pintu besi.


Cklek. Oh, ada satu ruangan yang tidak terkunci. Terry akhirnya memutuskan untuk memasuki ruangan itu


Deg. Jantung Terry seolah-olah berhenti begitu ia melihat ruangan itu terdapat banyak patung, tidak bukan patung itu yang membuat Terry terkejut. Melainkan beberapa manusia yang terdapat disebuah tabung yang berisikan cairan berwarna.


Cairan itu mengingatkan Terry pada cairan yang ada di gedung kosong tempat Bianca di culik. Warnanya sama persis tapi bedanya cairan itu disuntikkan ke tubuh Bianca.


Lagi-lagi langkah Terry terhenti saat melihat beberapa dokumen yang berserakan dilantai. Dokumen mengenai Shanka. Terry jadi bertanya-tanya mengenai hubungan Sapphire dan Shanka.


Terry melirik kearah sekelilingnya, setelah di perhatikan bukankah patung-patung itu mirip dengan Bianca dan mantan ketua Shanka?


Ini sangat mengerikan.


"Harusnya kau tidak boleh memasuki ruangan ini."


DEG. Suara dingin yang menyapa Indra pendengaran Terry, Terry tau kalau itu adalah suara Jack.


BUK.



__ADS_1


__ADS_2