
Happy Reading...
.
.
.
"Ben di culik? " ucap terkejut seorang pria dari balik telepon. Saat ini Bianca dan Kai tengah bersembunyi di gudang lantai 10 yang letaknya tak jauh dari mereka.
Mereka bersembunyi karena tidak ingin ketauan para staff hotel dan juga tadi sempat ada penjahat yang datang mengejar Kai. Alhasil mereka berdua kompak kabur dari tempat itu.
Kai yang masih lemas juga pasrah saja saat Bianca menyeretnya. Tapi begitu Kai sudah tenang Kai langsung menceritakan semua yang terjadi. Entah kenapa Ben ingin mengikuti penjahat itu, padahal biasanya ia akan langsung menyerang secara membabi buta.
"Ya." jawab Bianca yang tengah menelepon Daniel. Beruntung tadi Bianca sempat kabur dengan membawa ponsel dan kunci mobil. Ponsel adalah benda keramat untuk Bianca jadi tidak boleh sampai ketinggalan apalagi hilang.
"Gk salah tuh? Kayaknya penculik nya deh yang lagi dalam bahaya." Bianca hanya tersenyum kecut mendengar ucapan Daniel.
Ya gk salah juga sih. Tapi setidaknya mereka harus menolongnya kan? Sebagai keluarga.
"Kalau begitu, kau jemput saja adik mu, aku akan mengurus sisanya." kata Daniel dengan entengnya. "Aku akan segera mengirim lokasinya pada mu." Setelah Daniel berkata seperti itu sambungannya pun terputus.
Bianca terdiam, memangnya menjemput Ben dan Terry itu seperti menjemput anak TK yang baru pulang dari sekolah? Bianca harus bertarung dulu kan? Setidaknya Daniel mengirimkan suatu senjata atau apapun yang bisa di gunakan untuk bertarung.
Duh benar-benar deh. Kalau Steve ada mungkin Steve yang akan bergerak langsung, secara Steve kan bucin Ade. Tapi sayangnya pria penyayang itu sedang berada di luar negeri untuk memperluas bisnisnya.
Bianca menghela nafas. "Ya mau bagaimana lagi." ia menggidikan bahunya tak tau.
"Hey setidaknya biarkan aku ganti baju dulu." ujar Kai tiba-tiba yang sontak membuat Bianca sadar kalau masih ada Kai di sisinya.
Ya ampun, sekarang beban Bianca bertambah. Mau tak mau Bianca harus membawa Kai atau meninggalkan Kai disini.
"Kau pikir aku bawa baju ganti? Baju ku juga kotor tau."
__ADS_1
Bianca ada benarnya, beruntung muntahan Kai tidak kena baju mereka walaupun sedikit mengenai ujung celana tidur Kai sih.
Drtt... Ponsel Bianca berbunyi yang berarti ada masuk. Dengan segera Bianca membuka pesan itu dan ternyata pesan itu berisi lokasi yang Daniel kirimkan.
Seluruh keluarga Siegfried memiliki kalung couple dengan lambang kupu-kupu dan didalam kalung itu ada sebuah GPS berbentuk permata. Hal itu berguna agar jika ada salah satu anggota keluarga yang hilang mereka bisa mencarinya dengan mudah. Kalung itu dibuat ketika Bianca menghilang.
"Kau tunggu sini saja." ucap Bianca seraya menatap Kai.
"Apa?! Tidak! Aku mau ikut."
"Kau akan sangat menyusahkan jika ikut jadi sebaiknya kau diam disini." Bianca benar-benar tidak ingin menambah beban.
"Tidak! Aku ingin ikut." ucapnya yakin seraya menatap Bianca serius. Bianca mengerjapkan matanya, entah kenapa di mata Bianca Kai terlihat seperti anak pinguin yang sedang merajuk.
'Imut sekali.'
"Awas saja kalau kau muntah lagi." ucap Bianca yang langsung pergi meninggalkan Kai.
Tunggu! Apa ini artinya Kai boleh ikut?
Kai berlari mengejar Bianca dengan senang, akhirnya ia akan menolong Ben dan Terry. Tapi disatu sisi Kai yakin jika mereka berdua tidak butuh bantuan, tapi tetap saja Kai senang.
Namun begitu memasuki mobil Pajero sport milik Bianca, Kai langsung terdiam. Ia bertanya-tanya apa Bianca bisa menyetir? Apalagi saat ini Bianca duduk di kursi kemudi.
"Kau bisa menyetir?"
Bianca terdiam sejenak. "Mungkin bisa."
"Mungkin?! Apa maksudnya dengan-"
__ADS_1
"Tutup mulut mu dan kenakan sabuk pengaman." tepat setelah itu Bianca melajukan mobilnya secara ugal-ugalan, bahkan beberapa kali mereka hampir menabrak truk yang melintas.
Kai jadi berpikir jika saat ini Bianca sedang melakukan taruhan dengan malaikat maut.
...🌺...
"Kau ini memang menyusahkan ya." keluh Bianca ketika melihat Kai yang wajah pucatnya semakin pucat seolah-olah nyawanya baru saja di cabut.
Kai sendiri menatap Bianca penuh permusuhan, Kai bersumpah tidak akan membiarkan Bianca menyetir mobil lagi. Kai tidak ingin mati muda.
Bayangkan saja tadi Bianca mengendarai mobil dengan kecepatan 180 km/jam. Jarak yang ditempuh seharusnya 1 jam kini bisa sampai dalam hitungan menit. Apa Bianca sedang melakukan prank bersama malaikat maut? Atau dia sengaja membuat Kai terkena serangan jantung mendadak.
"Kau pikir siapa yang membuat ku jadi begini sialan?!" kesal Kai, namun bukannya merasa bersalah Bianca hanya menatap Kai meremehkan.
"Apa-apaan dengan tatapan mu itu?!" kata Kai tak suka.
"Memangnya ada apa dengan tatapan ku?" tantang Bianca.
Wah, Bianca memang hebat dalam membuat permusuhan ya.
Kai tidak bisa membalas ucapan Bianca. "Dasar Anabel sialan." geramnya yang sontak membuat Bianca melotot tak terima. Namun sebelum protes Kai menyuruh Bianca untuk bercermin di spion mobil.
Memang benar sih penampilannya sangat kacau. Gaun tidur putihnya terbalur darah, sendal tidurnya juga terbalur darah, rambutnya yang di kepang dua jadi acak-acakan, bahkan wajahnya juga ada bercak darah dan ditambah dengan pisau yang terdapat noda darah juga, pokoknya semuanya serba darah.
Entah kenapa Bianca merasa jika dirinya mirip dengan Anabel blasteran Chucky. Uh, Bianca jadi kesal karena tidak bisa membalas ucapan Kai.
"Sudahlah." Bianca berbalik dan pergi meninggalkan Kai.
"Hei! Sialan. Tunggu!" Kai buru-buru turun dari mobilnya dan mengejar Bianca.
"Target sudah memasuki wilayah." ucap seseorang yang tengah menatap layar komputer.
__ADS_1