Innefabel {END}

Innefabel {END}
Misi Penyelamatan


__ADS_3

Happy Reading...


.


.


.


"Kenapa tiba-tiba kau mengikuti mereka?" tanya Terry seraya melirik Ben yang tengah terduduk dengan rantai yang melilit tubuhnya.


Entah berada dimana mereka, mereka juga tidak tau karena selain tubuh mereka yang dililitkan rantai kedua mata mereka juga ditutup dengan kain hitam hingga mereka tidak bisa melihat apapun.


"Hanya untuk memastikan sesuatu. Jika benar maka musuh yang berusaha membunuh keluarga Siegfried juga bekerja sama dengan orang yang ngefans sama kita." jelas Ben.


"Apa disaat seperti ini kau masih bisa bercanda? Kau tidak khawatir dengan Bianca?"


"Tidak. Kakak ku cukup hebat untuk mengalahkan para cecunguk itu dan juga aku sedang tidak bercanda. Memangnya kau tidak merasa aneh saat Bianca langsung dibunuh sedangkan kita dibawa secara baik-baik."


"Seperti tawanan istimewa?"


"Ya semacam itu."


Suasana kembali hening, tak ada yang membuka percakapan sama sekali. Rantai yang di ikat ke tubuh mereka cukup kuat dan akan sulit menghancurkannya.


Terry juga merasa dirinya seperti berada di dalam sebuah kapal atau kontainer.


'Apa kita akan segera berlayar?'


Yang jelas tidak ada orang dalam ruangan ini selain mereka, mungkin jika di depan pintu ada beberapa orang penjaga. Yah ini sangat merepotkan.


Apa seharusnya tadi Terry melarikan diri saja bersama Kai? Lalu, mungkin ia bisa kembali lagi untuk menyelamatkan Ben dengan mudah. Daripada harus terkurung dengan membosankan seperti ini.

__ADS_1


Ben secara sukarela mengikuti para penjahat itu hanya untuk memastikan siapa yang menculiknya? Padahal biasanya Ben tidak peduli. Apa sih tujuannya?


...🌺...


Pria tampan itu tertawa begitu mendengar ucapan temannya. "Kau itu lucu sekali ya Kim Rei."


Pria yang dipanggil Kim Rei hanya terdiam kesal, ia tidak menyangka jika Bianca justru selamat dan seluruh pasukannya tewas, padahal jelas-jelas anak buahnya itu terlatih.


"Kenapa kau tertawa Profesor?!" kesal Rei.


"Bagaimana mungkin kau bisa membunuh mereka dengan mudah? Dan juga kenapa kau terobsesi sekali sih dengan Benvolio Siegfried dan Terry Rosenberg?"


"Apalagi? Sudah pasti karena mereka tampan dan seperti Dewa." ucapnya justru membuat pria itu mendelik jijik. Ya Kim Rei memang sudah mengejar-ngejar Ben dari SMP sih.


Omong-omong ia tidak pernah menyangka jika gadis itu selamat dari objek percobaan tanpa luka yang serius. Itu adalah hal yang patut dirinya apresiasi kan.


"Ya sudah, lakukan saja sesukamu." pria itu bangkit dari duduknya.


"Aku banyak kerjaan tau. Aku kan sudah membatu mu dan meminjamkan anak buah ku, sisanya kau urus sendiri. Tentu saja anak buah ku yang sudah mati harus dapat komisi." ia tertawa yang sontak membuat Rei kesal. Ya lagipula dirinya sudah bertemu dengan target yang ia inginkan.


Sudah lama dirinya ingin melihat gadis cantik itu, awalnya ia tidak menduga jika Bianca Aprhodite Siegfried adalah anak ketiga dari keluarga Mafia tapi kalau ternyata ia adalah putri kesayangan keluarga itu sudah pasti Profesor tua yang tidak berguna itu tidak akan selamat ditangan mereka.


Pria itu tertawa. "Ini akan sangat menarik dan juga sifatnya itu sangat mirip dengan seseorang yang ku kenal dulu. Duh, aku jadi merindukannya."


Target yang sudah ia tandai mana mungkin boleh lepas kan?


...🌺...


Kai dengan sigap menangkap pukulan yang penjahat itu layangkan untuknya, kemudian Kai melempar penjahat itu ke arah depan dan membuat beberapa penjahat yang tadi mengepungnya terjatuh karena terkena lemparan manusia itu.


Di luar dugaan, Kai ternyata cukup hebat dalam bertarung. Apa mungkin karena ia pernah memainkan film laga jadi secara otodidak ia belajar bertarung.

__ADS_1


Apapun itu Bianca cukup bersyukur karena Kai tidak menyusahkan atau bahkan menjadi beban.


Srett... Crash... Seperti Biasa, Bianca tidak ingin bertele-tele dalam menghabisi musuhnya. Jadi ia menggunakan pisau daging yang ia temukan di gudang tadi untuk melawan musuhnya dan menyayat mereka tepat di titik vital.


Jika ada yang bertanya kemana pisau buah yang tadi ia gunakan dan telah berlumuran darah itu, maka jawabannya adalah jika pisau buah itu sudah patah. Para penjahat ini rata-rata menggunakan senapan atau pistol jadi Bianca menghalau semua peluru yang dilesatkan padanya dengan pisau buah itu, hingga akhirnya pisau itu menjadi mayat.


'Pisau itu sudah sangat berjasa untuk ku, jadi aku akan menghormati nya.'


Bianca menganggukkan kepalanya menyetujui apa yang baru saja ia pikirkan. Kai yang melihat Bianca tersenyum penuh penghormatan hanya bisa menyeritkan keningnya. Kai berpikir jika Bianca sudah gila.


Ya mereka sudah selesai dengan penjaga yang berada di depan pintu kontainer ini, mungkin akan ada penjaga yang akan segera datang jadi ada baiknya jika mereka bergegas untuk masuk dan menyelamatkan kedua manusia menyusahkan itu.


Grttt... Kai membutuhkan tenaga ekstra hanya untuk membuka pintu kontainer berkarat itu, pintu itu cukup berat.


"Lama sekali sih." gerutu Bianca yang sukses membuat Kai kesal.


"Pintu ini berkarat dan berat. Kenapa tidak kau saja yang buka?!" omel Kai yang masih tetap berusaha menarik pintu itu. Sudah berat dan berkarat, suaranya bikin ngilu pula.


Kalau bukan karena Bianca tengah bertarung dengan beberapa penjahat yang baru saja datang mungkin Bianca akan segera menendangnya hingga hancur sangking kesalnya.


Tapi apa pintu berkarat itu bisa di tendang?


Berhasil. Tepat setelah Bianca membuat para penjahat itu pingsan, pintu pun terbuka buka.


"AAAA."


"AAAA."


Entah kenapa teriakan saling bersahutan-sahutan di telinga Kai dan Terry.


__ADS_1



__ADS_2