
Happy Reading...
.
.
.
Tubuh Terry terhuyung jatuh ketika sebuah tongkat baseball mengenai kepalanya. Kepala Terry sangat sakit, cairan kental berwarna merah itu keluar dari kepalanya.
"Kenapa kau bisa sampai kesini?! Steve kan menyuruh mu untuk menunggu di lift." katanya dengan dingin. Terry bisa merasakan dengan jelas jika Jack sangat marah.
Atau jangan-jangan ada rahasia di balik ruangan ini?
Jack menjambak rambut Terry dengan kencang hingga membuat Terry mendongak menatapnya. "Sialan!! Tidak ada yang boleh memasuki ruangan ini tau!!"
Buak... Jack menghempaskan wajah Ben hingga kepala pria itu membentur lantai, lagi-lagi kepala Terry berdarah.
'Sial ini sakit sekali.'
Melihat Terry yang sepertinya akan pingsan Jack berjalan dan mendekati patung yang terlihat mirip dengan ketua Shanka terdahulu itu, ia mengelusnya dengan penuh rasa kasih sayang dan cinta.
'psikopat gila.'
"Hey apa hubungan mu dengan ketua Shanka?" tanya Terry yang masih memiliki banyak tenaga walaupun kepalanya terasa begitu sakit. Terry berusaha bangkit dari jatuhnya.
"Sangat spesial." senyum Jack terlihat mengerikan. Dibandingkan suka atau menghormati pria itu terlihat terobsesi dengannya.
Buk... Sebuah pukulan melayang dan mengenai kepala Jack, Terry membelalakkan matanya terkejut melihat tubuh Steve yang juga terluka.
"Apa kenapa kau masih hidup?" ujar Jack terkejut namun sedetik kemudian pria itu tertawa keras seolah-olah penampilan Terry dan Steve adalah hiburan terbaik untuknya.
Steve membantu Terry berdiri. "Kita harus segera keluar dari tempat ini." bisik Steve. Terry tidak menjawab namun Terry akan menuruti semua ucapannya.
__ADS_1
"Seperti yang diharapkan dari ketua Shanka yang mampu membongkar bandar narkoba dalam kelompoknya sendiri hahaha." Jack tertawa. "Tapi apa kau yakin kalau jiwa di dalam tubuh adik mu itu masih ada?"
Steve menatap Jack dengan sinis. "Tidak peduli siapa yang ada di dalam tubuh adik ku, selagi dia menggunakan tubuh adik ku berarti dia adalah adik ku."
Jack melotot tak suka. Ia marah, "Hey bunuh mereka." perintah Jack yang membuat beberapa orang bersenjata tajam itu menghampiri mereka bersiap untuk membunuh Terry dan Steve.
"Kau masih bisa bertarung?" tanya Steve.
"Serahkan saja pada ku kak." Terry pun langsung bersiap dengan posisi kuda-kudanya. Menurut jumlah saja mereka sudah kalah, tapi Terry sudah berlatih keras minimal mereka bisa mengatasinya hanya sampai ke luar dari rumah sakit ini.
...🌺...
BRAK. Begitu sampai di mobil Steve langsung menutup mobil itu dengan kasar.
"UHUK..." Terry terbatuk keras dan memuntahkan darah. Tadi ia tertusuk pisau tepat di ulu hatinya.
"Terry apa kau baik-baik saja?"
"Apa aku terlihat baik-baik saja? Setidaknya aku tidak sekarat." Steve tersenyum canggung. ia jadi merasa tidak enak. Padahal Steve adalah orang yang ganas tapi ternyata ia masih memiliki hati.
Terry menatap orang itu dengan tajam. "Penyusup!"
Sepertinya orang itu adalah orang yang cukup berbakat karena bisa menyusup masuk ke mobil ini.
Buak. Terry menendang pria itu hingga sedikit terpental kebelakang dan pistolnya juga terjatuh.
Sangat sulit bertarung di dalam mobil yang sempit tapi Terry tidak memiliki pilihan lain dan juga setidaknya Terry harus membuat orang ini pingsan.
Selama Terry bertarung Steve menyetir mobilnya dengan kecepatan penuh. Namun ada banyak mobil yang mengikutinya di belakang.
BRAK. Mobil yang dibelakang menabrak mobil mereka hingga membuat mobil itu oleng, Steve masih bisa mengatasinya namun...
Sebuah mobil dari arah kiri menabrak mobil itu dengan kencang Steve tidak bisa mengatasi mobil yang hilang kendali itu. Mobil itu terjatuh ke dalam jurang yang tidak dalam dan tersangkut di pohon.
__ADS_1
Terry mengerjapkan matanya, apa kecelakaan itu membuat dirinya pingsan sebentar? Terry melihat jika Steve tengah membopong dirinya. Luka Steve jauh lebih parah dari luka Terry.
"Apa kau tau? Aku memiliki sepasang sayang permata. Permata itu lebih berharga dari apapun yang ada didunia ini— uhuk.." Steve terjatuh sepertinya kakinya sudah lemas. Tentu saja bukan hanya tubuh Steve yang terluka kepalanya juga terluka.
Apalagi saat menoleh kebelakang Terry dapat melihat jika mobil itu sudah terbakar. Apa tadi mereka terpental saat mobilnya meledak?
Terry melepaskan tangannya dari pundak Steve. Terry mengerti apa maksud dari sepasang sayap permata itu. Perkataan itu sama seperti perkataan yang Daniel lontarkan pada dirinya saat pertama kali membawanya masuk ke dalam keluarga Siegfried.
"Dimana kuncinya?" tanya seorang pria bertubuh besar yang berada di depan mereka.
'Siapa?'
Terry tidak bisa melihat dengan jelas matanya berkunang-kunang.
"Kau mencari ini?" memperlihatkan sebuah kunci. "Kunci ini bukan milik mu tapi milik Shanka, sampaikan perkataan ini pada Jack." setelah berbicara seperti itu Steve melemparkan kunci itu ke arah jurang.
"BR*NGSEK!!"
JLEB. Sebilah katana menusuk jantung Steve, Terry masih bisa mencium bau yang tertempel di katana itu, itu adalah bau racun.
"Steve." ucap Terry lirih, Terry sudah tidak bisa bangkit lagi. Tubuhnya terlalu lemah, kepala dan seluruh tubuhnya sakit, matanya berkunang-kunang. Namun ia melihat jika pria itu mengayunkan katanya berniat untuk menebas kepala Steve.
Duak. Seseorang menendangnya hingga terjatuh ke jurang.
"Hei!! Apa kau mendengar ku?!!"
"Pendarahannya banyak sekali, Sial aku terlambat. Hei!! Tolong bertahanlah." Pria yang baru datang dengan tato bunga ditangannya terlihat tengah mencegah pendarahan yang ada di tubuh Steve, namun Steve terlihat tidak sadarkan diri.
Setelah itu pandangan Terry menggelap dan Terry tidak ingat apapun lagi.
Saat Terry membuka matanya ia sudah berada di ruangan penuh dengan obat-obatan. Bisa dibilang itu adalah ruangan pengobatan milik keluarga Siegfried.
__ADS_1