Innefabel {END}

Innefabel {END}
Di Balik Layar


__ADS_3

Happy Reading...


.


.


.



Bianca menghela nafas mendengar pertanyaan Bahiyyih. Bianca bisa melihat wajah kecewa Daniel.


"Kenapa kau tidak bermain adil? Aku tau kalau pria itu bermain curang, tapi kenapa kau juga curang. Kau seharusnya tidak seperti itu Bianca." ucap Daniel. Bianca menatap Daniel datar, ia menurunkan kedua tangannya dan duduk bersila.


"Aku tidak seperti kalian dan aku juga tidak mau seperti kalian. Aku akan jadi seperti cermin yang memantulkan gerakan yang sama. Kalau mereka bermain adil maka aku akan bermain adil, tapi kalau mereka bermain curang aku juga bermain curang. Orang-orang seperti itu dibandingkan dikalahkan dalam permainan lebih baik mengalahkan mereka di mentalnya agar tau apa yang lawan mereka rasakan dulu." jelas Bianca yang membuat mereka tak bisa berkata apapun.


"Kalau sudah bermain curang harusnya kau menang." celetuk Kai.


"Yang pertama, ronde 6 dan yang terakhir itu aku adil dan tidak memainkan trik apapun."


"Lalu kenapa di ronde ke 3 dan ke 4 kau kalah?" tanya Riki heran.


"Ronde ke 3 dan ke 4 itu aku mendapatkan kartu One Pair 4 dan Tripel 3, tapi aku juga mendapat kartu death, walaupun lumayan bagus tapi tak ada gunanya jika aku mendapatkan kartu death itu. Pihak lawan juga mendapatkan kartu death di ronde ke 5."


"Jadi maksud mu pria itu harusnya kalah? Tapi dia juga tetap kalah pada akhirnya." ucap Daniel.


"Tujuan dia memang kalah dengan melakukan betting tapi dia mengurungkan niatnya dan mengganti kartu saat tak sengaja melihat kartu death lain di atas meja, pria itu berpikir kalau ada dua kartu death maka sudah dipastikan kalau dia curang dan dia juga berpikir kalau tadi dia melakukan sedikit kesalahan saat melakukan melakukan trik di ronde sebelumnya."

__ADS_1


"Kalau begitu kau juga memiliki kartu Bears Poker? Tidak! Bagaimana cara kau melakukan trik curang?" tanya Ben, pasalnya Bears Poker bukanlah kartu yang bisa didapatkan secara sembarangan apalagi Bianca adalah pemula, membuat kartu yang palsu saja membutuhkan waktu yang sangat lama.


Bianca bangkit dari duduknya. "Tunggu sebentar." ucap Bianca yang langsung pergi ke kamarnya dan kembali dengan sebuah kotak yang terbuat dari kayu ebony, Bianca meletakan kotak itu di meja dan membukanya. Kotak itu berisi dua set kartu Bears Poker dan juga beberapa chip.



"Darimana kau mendapatkan benda ini?" tanya Daniel saat memastikan jika semua itu asli bahkan kartunya juga. Padahal pria itu memiliki kartu palsu tapi Bianca memiliki kartu yang asli?


Bianca menggidikan bahunya tak acuh. "Anggap saja aku mendapatkan sekutu yang baru. Dan bagaimana cara aku melakukan trik? Itu sama seperti cara kakak Riki melakukan trik."


"Jadi maksudnya kau meniru trik kakak ku?" Bianca menganggukkan mendengar pertanyaan Riki.


"Aku menyembunyikan kartu ini di balik lengan baju ku, sama seperti pria itu yang melakukan Tan dengan cara Hand Change aku juga melakukan hal yang sama. Tapi pria itu menyembunyikan kartunya di pahanya." jelas Bianca. Bianca menatap kertas yang berbentuk lingkaran dan bertuliskan dealer, dibalik kertas itu ada nomor telepon Flower.


Bianca ingat dengan jelas ucapan Flower saat mereka bertemu kemarin.


Bianca yakin jika Flower mengincar sesuatu, dia hanya berdiri di pihak yang menguntungkan tapi jika melihat pihak itu sudah tidak menguntungkan lagi maka dia akan pindah ke pihak lain. Dia netral dengan prinsip 'siapapun yang membayarnya mahal akan di beri hadia'.


Walaupun Flower orangnya nyeleneh begitu tapi dia melakukan pekerjaan dengan baik, sayangnya pria itu mencuri perhiasan milik ketua Shanka.


'Jadi mana mungkin aku melepaskan orang yang mencuri perhiasan ku?!!' Bianca jadi kesal jika mengingat hal dulu.


"Tetap saja kau harus mendapatkan hukuman." ucap Daniel yang membuat Bianca kembali pada kenyataan. Daniel sungguh terpukau melihat rencana Bianca dan melihat trik Bianca. Tapi karena Bianca membuang uang 14 miliar hanya untuk berjudi mana mungkin Daniel memaafkan hal itu apalagi dia meminum sebotol wine di usianya yang masih dibawah umur.


"Uang jajan mu akan ku potong untuk membayar kerugian yang ku dapatkan."


"Sampai kapan?" tanya Bianca dengan bodohnya setelah berkata seperti itu Bianca menyesal.

__ADS_1


"Tentu saja sampai hutang mu lunas, kau pikir uang yang kau pakai untuk berjudi itu sedikit?! Memangnya uang tumbuh dari pohon?!! Kakak mu ini setengah mati mencari uang tapi bisa-bisanya kau membuat uang yang ku dapatkan begitu saja!!" omel Daniel yang membuat Bianca terdiam. Bianca juga intropeksi diri kok.


Riki terdiam, bagaimana pun juga Bianca melakukan permainan itu karena dirinya, Riki jadi merasa bersalah. Tentu Riki akan membayar Bianca tapi sudah jelas tidak akan sampai 1 miliar, maaf saja keluarga Riki memang kaya raya tapi tidak sekaya keluarga Huening atau Siegfried loh.


Seolah baru teringat sesuatu Riki kembali membuka mulutnya dan bertanya. "Apa kalian akan menyatukan Shanka dan Butterflies?"


"Tidak. Menyatukan mereka adalah hal yang mustahil." ujar Steve.


"Kalau begitu apa maksud ucapan mu kemarin Ben?"


"Oh, maksud ku orang-orang yang ku tarik jadi sekutu hanya boleh memihak keluarga Siegfried bukan Shanka ataupun Butterflies. Walaupun mereka bermusuhan tetapi selagi kami yang memegang maka kedua kelompok itu akan tetap menjadi sekutu dan tidak akan lepas dari perjanjian." jelas Ben.


"Dalam arti, kelompok mana pun yang membutuhkan maka kami harus siap membantu." kata Kai yang membuat Ben mengangguk.


"Ya itu benar. Tapi kalau sampai kelompok kami bermusuhan seperti dulu maka kalian bebas memilih ingin mengikuti kelompok yang mana dan kalau tidak mengikuti yang manapun itu lebih baik."


Riki berdiri dari duduknya. "Aku paham, sesuai janji ku mulai sekarang aku adalah sekutu Siegfried dan aku akan mengirim sisa hadia nya besok." ujarnya. "Karena aku akan sibuk jadi aku pulang dulu. Sampai jumpa."


Riki menunduk memberi salam dan berbalik pergi, sudah ia duga bermain dengan mereka adalah hal yang sangat menarik. Riki sangat menantikan kejadian selanjutnya.


Begitu Riki pergi Terry langsung membuka suaranya. "Aku menemukan hal yang menarik tentang kakaknya Riki, siapa yang mengira jika pria itu dan Dewan Huening ada hubungannya dengan kelompok penelitian Sapphire." Terry tersenyum miring sembari memegang dokumen ditangannya.


"Oh sepertinya Kau harus cepat-cepat mengambil alih perusahaan itu, bagaimana kalau besok Ben, Bahiyyih dan Kai berangkat ke Brazil?" ucap Daniel. "Aku akan meminjamkan helipad nya." ucapan Daniel sontak membuat mereka bertiga tersenyum.


Ya lebih cepat kan lebih baik.


__ADS_1



__ADS_2