
Happy Reading...
.
.
.
Seorang wanita duduk dibawah pohon yang rindang dengan hamparan rerumputan yang segar, di depan sana terdapat sebuah danau dan banyak kupu-kupu yang berterbangan. Tempat ini sangat indah.
Wanita itu menatap kedua tangannya, ia juga meraba-raba seluruh tubuhnya, sudah jelas jika ini bukanlah tubuh Bianca, ini adalah tubuh aslinya.
Apa dirinya sudah mati? Apa ini surga? Sepertinya tidak mungkin wanita seperti dirinya bisa masuk surga, kalau begitu ini alam kematian? Dirinya benar-benar sudah mati?
"Ya ini lebih baik daripada hidup dengan penuh rasa bersalah." Wanita itu memejamkan kedua matanya menikmati semilir angin lembut yang berhembus.
Tapi entah kenapa rasanya sangat tidak adil mati seperti ini, sepertinya tidak ada yang perlu disesali.
Apa benar tidak ada yang perlu disesali? Dirinya belum minta maaf pada Ben, ia juga belum memanggil Daniel dengan sebutan kakak, dirinya masih ingin memakan kue coklat buatan Steve, mendengar cerita Bahiyyih, melihat keburukan yang Kai simpan lalu bercanda dengan Riki dan Sunoo. Kenapa ia jadi merindukan hal-hal seperti itu?
"Jelas-jelas kehidupan ini bukan milik ku."
"Duh apa yang kakak bicarakan sih." Rajuk seorang wanita cantik yang tiba-tiba sudah berada didepannya.
Wanita itu membuka mata, ia terkejut melihat adiknya tersenyum begitu manis saat menatap dirinya. Apa-apaan ini? Bukankah seharusnya adiknya itu membenci dirinya? Ia kan sudah membunuhnya.
Kenapa dia bisa tersenyum semanis itu saat berhadapan dengan pembunuh seperti dirinya?
Tanpa wanita itu sadari, air mata keluar dari kedua matanya, ia menangis.
"Kakak kenapa menangis? Kakak pasti terkejut." Sang adik mengelus kepalanya dengan lembut. "Tapi kau tidak pantas ku panggil kakak lagi, haruskah aku memanggil mu anak ku?" Ledeknya.
__ADS_1
"Apa maksudmu?" Kesal wanita itu yang sukses membuat sang adik tertawa.
"Sudah lama kita tidak bercanda seperti ini." Ia mengelap air mata yang sempat turun karena tertawa terlalu keras. "Tapi terimakasih, tidak hanya mengurus anak-anak kau juga mengurus usaha ku dengan baik. Terimakasih karena sudah menepati janji."
"Bukankah seharusnya kau membenci ku? Aku sudah membunuh mu dan suami mu, aku juga membuat Bianca mu menderita." Wanita itu membuang wajahnya, raut wajahnya terlihat sedih.
Sang adik terdiam, ia pun mendudukan diri disamping kakaknya. "Lihatlah." Ia menunjuk seorang gadis kecil yang tersenyum cerah bersama seorang pria yang juga tersenyum cerah. Mereka bermain dengan riang gembira.
"Bianca ku ada disini, dia bermain dengan gembira bersama ayahnya. Lagipula bukankah itu adalah perjanjian yang dibuat oleh suami ku saat membunuh mommy bukan? Aku hanya menerimanya. Tidak pernah sedikitpun aku membenci mu, aku tau sikap ku saat itu keterlaluan tapi aku melakukan hal itu agar kau tidak lagi dipukuli, tapi ternyata malah semakin parah. Maafkan aku kak, aku tidak bermaksud untuk menyakiti mu. Itu adalah hal yang sangat aku sesali dalam hidup ku."
"kak, apa kau ingat setiap kita bermain mommy mu selalu berkata kalau kebahagiaan akan datang jika kau bekerja keras. Ku rasa itu benar. Aku bahagia setelah aku bekerja keras untuk meluluhkan raja es itu dan ku rasa kau juga harus bekerja keras untuk menemukan kebahagiaan mu."
"Bahagia?"
"Kenapa kau tidak segera bangun dan pergi? Sekarang banyak orang yang menunggu mu untuk kembali, yang ditunggu itu adalah dirimu bukan Bianca ku."
"Walaupun kau menggunakan tubuh ku untuk meraih kebahagiaan itu tidak masalah, aku sudah bahagia disini bersama kedua orang tua ku dan kebahagiaan mu itu kebahagiaan mama dan aku juga. Jadi berjuanglah Tante." Sahut Bianca dengan senyum cerahnya.
Wanita itu lagi-lagi menangis dalam diam, keponakannya sungguh baik ya, beruntung sekarang dirinya yang menjalani hidup sebagai Bianca, kalau itu Bianca yang asli mungkin gadis itu sudah sering kena tipu.
"Kalau begitu, suatu saat nanti kalau kita dipertemukan lagi. Ayo bermain bersama, kali ini kita akan bermain permainan yang menyenangkan." Ujarnya seraya tersenyum.
Netra Bianca kecil terbelalak dan ia tersenyum manis. "Aku menantikannya. Oh dan juga tolong tanyakan pada ka Daniel dan Ben, apa dia benar-benar membenci ku? Walaupun aku yakin kalau mereka itu sangat mencintai ku."
Wanita itu tersenyum, ia menatap sang adik dengan lembut. "Aku berharap kau akan menjadi adik ku lagi di kehidupan berikutnya." Ia memeluk sang adik dengan erat, hal itu membuat sang adik tersentuh.
"Kalau begitu ayo kita membuat dunia yang baru, di kehidupan selanjutnya kita harus menjadi wanita paling bahagia di dunia. kak, aku sangat mencintaimu."
"Aku juga."
...***...
Bianca mengerjapkan kedua matanya, pandangannya buram. Tapi entah kenapa ia merasa sakit di seluruh tubuhnya.
__ADS_1
Samar-samar ia melihat dan mendengar dua orang pria yang tengah berbincang-bincang. Pandangannya semakin lama semakin jelas, alangkah terkejutnya dia saat dirinya ternyata sedang dirantai, ternyata bukan hanya tangan dan kakinya saja, tapi lehernya juga dirantai. Seolah-olah dirinya adalah anjing peliharaan.
Sial! Apa sekarang ia menjadi objek percobaan?
'Aku harus segera keluar dari tempat ini.'
Bianca berusaha bersikap tenang, tapi entah semakin lama kulitnya semakin terasa perih dan panas. Ia melihat dua pria itu yang keluar dari ruangan ini dan baru lah Bianca berusaha untuk bangkit dari tidurnya.
"Oh kau sudah bangun? Kenapa kau bisa bangun? Seharusnya kau tertidur seperti yang lain." Ujar pria tua itu.
'Yang lain?'
Bianca segera menoleh ke sekelilingnya dan ternyata ia tidak sendiri. Anak-anak, bayi, balita, lansia dan remaja yang seumuran dengan dirinya juga berada didalam tabung yang sama dan dalam kondisi yang sama hanya saja mereka tertidur.
Bianca membuka mulutnya berusaha untuk bersuara namun tak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya. Tenggorokannya sakit dan terasa kering.
"Apa kali ini akan berhasil?"
'Apanya yang berhasil sialan?!'
Pria tua itu mengeluarkan jarum suntik, ia terlihat memasukan sesuatu kedalam suntikan itu.
'Apa yang sedang dia lakukan? Cairan apa itu? '
"Tidur lah lebih lama." ucap pria tua itu sebelum menyuntikkan cairan itu ke tubuh Bianca, Bianca berusaha untuk memberontak tapi tak bisa. Selain tangan, kaki dan lehernya dirantai, tubuhnya juga sangat lemas.
Begitu cairan itu masuk ke tubuhnya, seluruh tubuhnya jadi sangat panas, organ-organ dalam tubuhnya juga terasa panas seolah-olah terbakar. Kepalanya semakin sakit.
Ini benar-benar menyiksa dirinya. Perlahan tubuhnya semakin melemah, kedua matanya pun ikut tertutup.
Bianca bersumpah akan meminta Soobin untuk membunuh pria ini dengan sadis.
__ADS_1