Innefabel {END}

Innefabel {END}
Perang Di Mulai


__ADS_3

Happy Reading...


.


.


.


...Tiga Hari Kemudian......


Macau, China.


07.00 Am.


Klik. Terry mematikan siaran televisi yang menampilkan berita tentang Ketua Dewan Huening. Berita yang sangat viral serta membuat kegaduhan yang bahkan belum selesai untuk sekarang.


"Kenapa kau matikan?" tanya Ben sembari menatap Terry heran.


"Kita sudah menonton siaran itu selama dua hari, aku bosan kalau harus menontonnya lagi sekarang." ucapnya santai. Terry memilih untuk mengambil sebua majalah dan mulai membacanya.


Ucapan Terry benar sih, Bahkan Bahiyyih dan Kai sudah menelepon dan berkata jika konferensi itu berjalan dengan sukses tapi mereka akan sibuk selama beberapa hari karena persidangan dan masalah yang mereka buat.


"Mengambil tindakan seperti itu saja sudah sangat bagus. Mereka hebat." ucap Bianca yang membuat Ben dan Terry mengangguk.


"Huening bersaudara sudah maju, kita juga tidak boleh kalah dong." ujar Ben.


Bianca sendiri langsung menatap Ben dengan ekspresi yang sulit untuk di artikan. "Padahal kemarin-kemarin kau masih mengamuk dan melarang ku untuk menyerah Jack, tapi sepertinya sekarang malah kau yang tampak bersemangat."


"Ya, aku hanya tidak sabar ingin menyelesaikan ini semua dan kembali seperti dulu. Ah, kita tidak bisa kembali seperti dulu karena sudah tidak ada Steve kan." seketika seluruh ruangan itu menjadi hening, tak ada yang membuka mulut satu pun. Kepergian Steve benar-benar memukul mereka dengan telak.


Tapi mereka tau jika mereka tidak boleh terlalu lama larut dalam kesedihan. Karena Steve pasti tidak akan suka.


"Kita tidak perlu kesana." ucap Bianca tiba-tiba. "Terry bagaimana jika malam ini kau keluar? Aku yakin Jack akan menyerang mu."

__ADS_1


"Huh? Darimana kau tau?" tanya Terry bingung.


"Hanya firasat dan juga bukankah selama ini ada yang memperhatikan mu, mereka menunggu mu untuk sendiri tau."


"Kalau begitu kita kan tidak bisa membiarkan Terry sendiri."


"Tidak, Terry harus sendiri. Kalau tidak sendiri Jack tidak akan menyerang. Jack itu lebih suka menyiksa daripada membunuh."


"Baiklah, lagipula aku memang ingin memukulnya walaupun hanya sekali."


"Ide bagus." Bianca bisa santai berbicara seperti itu karena Bianca yakin jika Daniel telah bergerak lebih dulu untuk mencegah pasukan Jack bertambah.


...🌺...


"Apa hanya segini?" tanya Daniel sembari menatap beberapa manusia yang terbujur dihadapannya. Entah mati atau pingsan Daniel tidak peduli.


"Sepertinya sebagian dari mereka sudah bersembunyi atau sedang mengikuti Jack."


"Begitu ya? Kalau begitu kita harus cari hama yang lainnya juga kan." ucap Daniel sembari dengan tatapan dingin dan buas. Sepertinya Daniel sedang tidak sabar sekarang.


...🌺...


Hingga pada akhirnya tanpa sadar Terry berada di sebuah jalan besar yang sepi, atau lebih tepatnya jembatan ya? karena bawahnya laut, kalau malam begini terlihat mengerikan dan hal itu membuat Terry mengingat kejadian saat kecelakaan yang merenggut nyawa Steve.


Kondisi Steve, mobil terbakar, bau darah dan melihat Steve yang ditusuk semua itu teringat dengan jelas di kepala Terry. Terry semakin marah saat mengingatnya, ia menatap laut yang luas itu dengan tajam.


"Ku pikir ada bau busuk apa yang terus tercium, ternyata karena ada kotoran yang mengikuti ya." Terry berucap dengan dingin sembari menatap tajam dua orang yang baru saja turun dari mobil itu.


Ke dua pria itu terlihat berbicara sesuatu dengan bahasa China.


"Duh ngomong pake bahasa Inggris dong, aku kan tidak mengerti bahasa kalian."


Terry bisa melihat dengan jelas raut marah di wajah mereka. Namun bukannya taku Terry justru merasa tertantang dan kesal.

__ADS_1


"Kunci itu ada dimana?" tanya salah satu dari mereka.


Terry menggidikan bahunya tak acuh. "Entahlah, mungkin aku sudah membuangnya ke tempat yang benar." smirik itu terlihat jelas di wajah Taehyun. Karena gelap aura mencekam ini sangat terasa.


Syut... Terry menunduk ketika salah satu dari mereka melayangkan sebuah pukulan dengan tongkat baseball.


'Kalau tau begini harusnya aku juga membawa alat pemukul. Aku hanya membawa pistol.'


Namun baru saja ia menghindari serangan dari depan, Terry juga harus segera menghindar serangan dari depan. Terry tidak ingin berlama-lama bertarung.


Jadi Terry menarik bagian depan baju salah satu dari mereka dan melemparkan orang itu ke laut seperti ia melempar bola kasti. Tidak sia-sia Terry melatih dirinya selama berminggu-minggu. Hasilnya cukup memuaskan.


Terry merunduk ketika sebuah serangan datang, ia mengepalkan tangannya dan meninju bagian leher orang itu. Orang itu terlihat kesakitan tapi Terry tidak peduli, ia kembali menendangnya hingga terpental agak jauh.


"Apa kau diam-diam berlatih selama ini?" tanya seseorang dari arah belakang. Ah tanpa menoleh pun Terry tau siapa orang itu.


"Sepertinya kau sangat frustasi atas kematian orang itu sampai-sampai kau berjuang sekeras ini, tubuh mu juga berbeda dari terakhir kali kita bertemu. Terry."


Pria itu datang dengan beberapa pasukan, sepertinya ia juga sudah menduga kalau perang itu akan terjadi hari ini. Tapi Terry tidak menyangka pasukan yang dibawanya lebih banyak dari perkiraan mereka.


Tapi Terry tidak mengkhawatirkan apapun karena kemenangan pasti ada di tangan mereka.


"Sepertinya kau jadi banyak bicara ya, Jack."


"Wah, aku lebih tua dari mu tapi bicara mu sungguh tidak sopan ya. Ya, bukan kau sih yang ingin aku temui." Jack berjalan melewati Terry begitu saja.


"Bianca, apa kau mau terus bersembunyi? Padahal kau yang paling menantikan hal ini, aku juga menantikannya sih."


Bianca tidak menjawab. Ia memilih diam dan keluar dari salah satu mobil itu. Terry juga baru tau kalau ternyata ada salah satu mobil Bianca disana.


"Iya ya lama tidak bertu Jack. Kau harusnya mengucapkan salam dengan benar dong pada malaikat maut mu sekarang." ucap nya dingin disertai dengan tatapan tajam. Namun bukannya takut Jack justru merona dengan wajah yang sangat bersemangat. Itu sangat menjijikan.


"Iya, saya juga merindukan anda Ketua."

__ADS_1




__ADS_2