Innefabel {END}

Innefabel {END}
Lambang?


__ADS_3

Happy Reading...


.


.


.



Sratt. Rei menggunakan pisau untuk membuka kain yang menutupi mata Ben, sehingga membuat wajah Ben menggeluarkan darah karena terkena goresan pisau.


Ben menggeram kesal. Disekelilingnya sangatlah gelap hanya cahaya dari ponsel Rei yang menyoroti wajahnya yang menjadi penerangan di tempat itu.


Ben melirik kearah Terry yang penutup matanya juga sudah dibuka.


"Kau tau? Aku sudah sangat lama menantikan momen ini. Melihat mu dari dekat sangat membuat ku bergairah." Ben memilih untuk diam, ia tidak mau menjawab apapun.


Netranya berusaha untuk menerawang sekelilingnya, mencari seseorang yang dirinya cari sejak tadi.


'Tidak ada?'


Kalau orang itu tidak ada maka sia-sia saja ia datang kesini. Tapi bukan berarti Ben menyerah begitu saja.


Plak. Sebuah tamparan melesat dengan keras ke wajah Ben, Ben hanya bisa menggeram menahan kesal.


"Aku ada didepan mu!! Kenapa kau malah mencari yang lain?!!" Kesal Rei. Sepertinya Rei menyadari jika Ben mencari orang lain.


Awalnya Terry pikir Ben mencari pria yang ada dihadapannya, tapi apa ternyata Ben mencari orang lain? Siapa?


"Dimana teman mu? Yang bersama mu kemarin." ujar Ben tanpa mau berbasa-basi. Lagi-lagi tamparan melesat di wajah Ben.


Ben bersumpah akan memotong tangan itu jika semuanya sudah selesai. Sialan! Ben jadi mengeluarkan sumpah serapah dalam hatinya.


"Kenapa kau malah mencari Profesor itu?! Sialan! Apa aku tidak secantik dia?!!"


Uhh, Terry dan Ben jadi ingin muntah mendengar ucapan itu. Seketika Rei menoleh dan menatap Terry.

__ADS_1


Pria itu tersenyum malu-malu dengan wajah merona. "Aku cantik kan?"


Terry berusaha bersabar, ia menghela nafas malas. "Tidak sama sekali. Majikan ku lebih cantik." ucapannya jujur. Tidak ada balasan apapun dari Rei.


Terry pikir, ia juga akan mendapatkan tamparan dari Rei tapi ternyata tidak, walaupun begitu wajah Rei terlihat sangat marah. Rei berdiri, Rei bersumpah akan merusak wajah Bianca.


"Tuan, anda dipanggil oleh Profesor itu." ujar salah satu penjaganya.


Profesor itu yang Ben cari. Uh, sial. Ben ingin menarik pria itu.


Tanpa berkata apapun Rei pergi begitu saja meninggalkan mereka dan akhirnya tempat itu kembali menjadi gelap.


"Sebenarnya siapa yang kau cari?" tanya Terry seraya berusaha melepaskan rantai itu.


"Kau ingatkan ciri-ciri pria yang Bianca katakan saat dia di culik?"


"Ya."


"Pria itu, aku melihatnya kemarin bersama Kim Rei. Apalagi dia memiliki tato di belakang lehernya. Bentuk tatonya persis seperti lambang yang ada di seragam orang itu. Lalu semua penjaga yang ada disini memiliki pin dengan lambang yang sama dan juga berwarna abu-abu, tapi yang ada di seragam pria itu berwarna emas."


Ben memperhatikannya sedetail itu? Terry saja tidak menyadarinya. Pengamatan Ben sungguh luar biasa.


"AAAA." Ben spontan menjerit ketika melihat seorang gadis bergaun putih, rambut di kepang dua, membawa pisau dan seluruh tubuhnya berlumuran darah.


Tapi siapa sangka jika gadi itu juga ikut berteriak juga. Tapi teriakannya tidak asing Ben seperti sering mendengarnya, siapa ya?


"AH, Apa sih?! Kenapa kalian saling berteriak begitu?!" gerutu Terry.


Teriakan kedua manusia itu sungguh menggelegar dan apalagi mereka berada di ruangan tertutup alhasil teriakan mereka saling memantul. Gendang telinga Terry rasanya akan pecah.


"Bianca?" ujar Ben kaget begitu Bianca mendudukan diri didepan sambil membuka rantai itu. "Apa-apaan penampilan hantu mu itu? Kenapa juga kau berteriak?!"


"Aish, ceritanya panjang dan aku berteriak karena kau berteriak. Aku kaget tau."


"Oh, kalian mendapatkan kuncinya?" tanya Terry.


"Ya, penjaga didepan membawa kunci itu." jelas Kai.

__ADS_1


"Lagipula kenapa kau malah mengikuti orang mesum itu? Apa otak mu sedang tidak waras?"


Ben berdecak mendengar ucapan Bianca. "Aku mengikutinya karena melihat orang yang kau maksud saat itu. Apa kau tidak menyadari jika seluruh penjaga disini memiliki pin dengan lambang yang sama?"


Bianca tertegun. Bianca tidak begitu menyadarinya dan juga Bianca menghabisi semua penjaga itu. Tapi tunggu! Lambang apa yang Ben maksud? Bianca tidak pernah menyebutkan tentang suatu lambang atau lebih tepatnya Bianca tidak pernah mengetahui tentang lambang itu.


"Lambang apa yang kau maksud?"


Ben terlihat berpikir. "Lambang itu terlihat rumit, akan ku beritahu saat kita sudah keluar." Bianca mengangguk menyetujui ucapan Ben.


"Ngomong-ngomong apa kita perlu membakar tempat penuh aib ini?" tanya Kai.


"Penuh aib?"


Kai menggunakan senter ponselnya untuk menyorot semua yang ada di ruangan itu. Ruangan yang penuh dengan foto-foto Ben dan Terry, bahkan ada foto mereka yang tanpa busana. Ditambah ada cairan putih yang menempel di foto. Sungguh menjijikan.


"HEI! INI PELECEHAN!" kesal Ben tidak terima.


"Ayo kita hancurkan." kata Terry.


Setelah mereka keluar dari kontainer itu, mereka langsung membakar kontainer itu dari dalam sehingga foto-foto itu pun ikut terbakar.


"Ayo kita kembali. Aku sudah mengabari hal ini pada kakak jadi kakak yang akan mengurusnya." jelas Bianca sembari menatap kontainer yang terbakar itu.


"Oh kenapa tadi kita tidak mengeceknya untuk mengambil beberapa bukti?" kata Kai yang sontak membuat mereka bertiga terdiam. Benar juga.


"Kenapa kau tidak bilang dari tadi?!" kesal Ben seraya mencengkram baju bagian depan Kai dan mengguncang tubuh Kai.


"Aku juga baru ingat."


Duh, karena kesal bercampur lelah Ben, Terry dan Bianca tidak kepikiran hal itu. Ya sudahlah, sudah terbakar apa boleh buat?


Dor.


"KAI."


__ADS_1



__ADS_2