
Happy Reading...
.
.
.
...Beberapa Saat Sebelum Kecelakaan......
New York, Amerika.
07.00 Am.
Steve membaringkan tubuhnya di ranjang, ia sangat lelah. Susah sekali mengurus anak-anak Shanka, walaupun begitu anak-anak Shanka perlahan sudah mulai menurutinya.
"Kau pasti lelah ya Terry." ujar Steve terkekeh kecil membuat Terry yang tengah duduk di sofa itu menatapnya dengan mata yang lesuh.
"Sangat lelah. Bagaimana bisa kau bertahan seperti itu dengan orang-orang yang sangat sulit di atur." kata Terry tak percaya.
Bagi Terry, Steve sangat hebat karena bisa membuat kelompok Shanka yang keras seperti itu tunduk dengan patuh.
Karena Steve tau kalau yang di butuhkan kelompok Shanka bukanlah intimidasi tapi pembuktian. Kalau memang pemimpin mereka bertanggungjawab dan kuat maka Shanka akan mengakuinya tapi kalau tidak bisa membuktikan hal itu jangan harap mereka akan menunduk begitu saja.
"Sebenarnya tidak sulit menghadapi mereka, yang mereka butuhkan itu adalah sebuah pembuktian. Aku malah merasa tersanjung saat mereka menyatakan bahwa aku adalah pemimpin mereka yang sekarang."
Kalau boleh jujur Steve juga heran dan bertanya-tanya bagaimana cara tantenya menaklukkan mereka dan darimana tantenya mendapatkan mereka. Bukankah mereka semua adalah anak-anak yang ajaib?
"Menurut mu siapa yang lebih pantas untuk menduduki posisi ketua Mafia Shanka? Ben atau Bianca?" tanya Terry yang membuat Steve terdiam berpikir.
Bagi Steve mereka berdua cukup bagus dan sama-sama memiliki jiwa pemimpin. Tapi mereka jelas memiliki kekurangan dan kelebihan, Bianca memang bukan tipe orang yang implusif dan bergerak sembrono.
__ADS_1
Bianca memiliki banyak rencana di otaknya, dia bahkan bisa berpikir disaat yang terdesak. Tapi kalau sudah berhadapan dengan seseorang yang dibencinya pikirannya menjadi kacau dan rencana berantakan. Dibandingkan mengikuti insting Bianca cenderung lebih mengikuti emosinya. Mungkin karena itu Bianca selalu berusaha bersikap tenang di saat masalah genting.
Ben sendiri kebalikan dari Bianca. Ben adalah orang yang implusif sekaligus kompulsif, Ben cenderung selalu menunjukkan emosinya dan bertindak sesuai apa yang dia inginkan. Tapi ketika ia sudah serius maka rencana yang Ben buat memiliki peluang 98% untuk berhasil. Ben selalu mengendalikan emosinya dengan baik bahkan saat berhadapan dengan seseorang yang ia benci, tapi disatu sisi Ben belum bisa menghilangkan phobia pada kegelapan.
Kalau Ben bisa menghilangkan phobia nya dan Bianca bisa mengendalikan emosinya mungkin mereka bisa menjadi pemimpin yang sempurna.
Steve menggidikan kedua bahunya. "Ya tak ada orang yang sempurna di dunia ini."
Walaupun begitu Steve beruntung karena mereka berdua tidak merebutkan tahta apapun, malah mereka.terlihat menikmati kehidupannya dengan santai dan tenang. Tapi sampai kapan mereka bisa seperti itu?
Steve yakin jika suatu hari nanti mereka pasti harus menghadapi masalah yang lebih mengerikan, apa jika saat itu sudah datang Steve bisa melindungi mereka?
Tidak! Mereka harus bisa melindungi dirinya sendiri. Steve bahkan tidak tau apa ia bisa bertahan sampai saat itu atau tidak.
"Terry, mungkin ini terdengar jahat untuk mu. Tapi sejujurnya kau adalah cadangan sekaligus kartu AS yang keluarga Siegfried miliki." kata Steve sembari tersenyum menatap Terry.
Entah kenapa Terry merasakan firasat yang tidak enak. Steve bangkit dari tidurnya dan berjalan mendekati Terry.
Terry mungkin sudah tau kalau ia adalah kartu As milik keluarga Siegfried, tapi Terry tidak mengerti tentang menjadi cadangan keluarga Siegfried. Terry tidak pernah mengharapkan apapun dari keluarga ini, bahkan mendapat kasih sayang seperti ini saja sudah sangat berlebihan untuk Terry.
Steve menatap Terry dengan serius dan memegang pundak Terry. "Dengarkan aku, kau adalah keluarga kami dan kau adalah adik ku. Anggap saja jika aku memiliki adik kembar tiga." Steve menggidikan bahunya tak acuh.
"Jika terjadi sesuatu pada ku, ah- jika terjadi sesuatu pada seluruh keluarga Siegfried. Kau harus mengambil alih keluarga ini, kau harus menjadi pemimpin keluarga ini. Walaupun begitu aku harap kau memilih jalan yang kau inginkan, kau juga berhak bahagia." Steve tersenyum.
Perkataan Steve sangat berharga untuk Terry, sungguh Terry tidak mengharapkan apapun dan juga Terry sudah memutuskan. "Saya mungkin akan melakukan hal itu jika saya tidak memiliki pilihan lain, tapi sekarang saya memiliki jalan yang ingin saya ambil."
"Kau ingin menjadi apa?"
Terry tersenyum. "Dokter, saya ingin menyembuhkan kalian ketika kalian sakit atau terluka."
"Jadi itu alasan mu mempelajari ilmu kedokteran dan pengobatan akhir-akhir ini?" Steve tertawa kecil.
__ADS_1
"Itu karena saya ingin secepatnya menjadi seorang dokter."
Steve mengelus surai Terry dengan lembut. "Apapun itu aku akan mendukung mu, karena itu kau harus berjuang. Maaf, sebenarnya aku ingin kau hidup dengan tenang dan bahagia, tapi kebahagiaan itu akan datang jika kau berjuang keras. Maafkan aku karena kau harus terseret dalam masalah ini."
"Aku benar-benar mengandalkan mu Terry." Steve memberi sebuah kunci kepada Terry. Steve benar-benar mempercayai Terry dan Terry tidak boleh mengkhianati kepercayaan Steve.
Terry sangat bersyukur karena bisa bertemu dengan keluarga Siegfried. Terry sangat mencintai keluarga barunya.
"Oh, sebentar lagi si kembar akan berulang tahun. Tolong berikan hadia untuk mereka ya. Aku sudah menyiapkannya, untuk mu juga."
"Kenapa kau tidak memberikan hadia itu sendiri?"
"Kenapa? Entahlah ku rasa aku membutuhkan bantuan orang lain agar lebih spesial."
...🌺...
"Terry, kau adalah orang yang berharga untuk kami. Tapi aku ingin merepotkan mu untuk yang terakhir kali. Tolong lindungi sepasang sayap permata ku yang berharga ya."
DUAR. Mobil itu meledak tepat setelah Steve berbicara. Steve dan Terry terpental karena ledakan mobil itu.
Terry bersumpah akan membunuh orang yang menyuruh supir itu, Terry akan membalas orang-orang yang sudah menyakiti keluarga yang Terry cintai.
Sebelum menutup matanya Terry berucap. "Aku berjanji." setelah itu pandangan Terry menggelap. Terry berjanji akan melindungi mereka yang berharga untuk Terry karena itu Terry berharap Steve juga bisa bertahan.
DEG.
TITT.... Garis lurus yang di tunjukan elektrokardiograf itu membuat mereka semua menahan nafasnya.
Marah dan sedih bercampur menjadi satu. Mereka tidak bisa menerima kenyataan ini.
Mulai detik itu juga Bianca tidak akan pernah mengakui adanya keberuntungan ataupun mukjizat.
__ADS_1