Innefabel {END}

Innefabel {END}
Kecelakaan Terry Dan Steve


__ADS_3

Happy Reading...


.


.


.


Jack Wilshere, pria yang seumuran dengan dirinya yang dulu. Jack adalah orang pertama yang dekat dengannya sekaligus mantan kekasihnya. Tapi Jack memiliki obsesi yang berlebihan padanya dan juga Jack itu memiliki banyak hobi dan salah satu hobi nya adalah meneliti sesuatu.


Jack berkhianat dari Shanka karena ia cemburu pada Cristhoper, lalu beberapa bulan setelah Jack berkhianat, Jack melakukan pembantaian pada Shanka dan salah satu korbannya adalah Cristhoper yang berusaha melindungi ketua nya.


Lalu setelah Cristhoper tewas, Jack ikut menghilang. Alasan Bianca bisa mengetahui siapa yang membangun Sapphire adalah karena tato yang ada di pundak Jack sama dengan lambang Sapphire.


"Bicara apa kau?!" ucap Bianca tajam.


Jack terdiam namun ia kembali tersenyum. "Iya ya, karena kau mirip dengan ketua Shanka yang dulu aku jadi memanggil mu ketua tanpa sengaja." ia kembali terkekeh kecil. "Sayang sekali, padahal aku sangat menginginkan Shanka."


"Apa mau mu?! Shanka sudah berada di tangan Siegfried."


Jack terlihat kesal, ia mencengkram wajah Bianca dengan erat. "Aku tau. Itu semua karena Cristhoper yang menulis surat wasiat itu. Si br*ngsek itu kalau mati ya mati saja kenapa setelah mati pun dia tetap menghalangi ku." ucapnya dingin.


Bianca terdiam. Tentu saja hal ini membuat Bianca terkejut. Bagaimana bisa Cristhoper menulis surat wasiat tanpa sepengetahuan dirinya? Cristhoper itu sangat menurut pada dirinya.


"Kenapa kau terkejut begitu? Apa kau tidak tau siapa Cristhoper? Atau kau tiba-tiba mengingat sesuatu?" senyuman licik terukir di wajah Jack.


Apa Jack tau kalau dirinya bukanlah Bianca yang asli?


PLAK. Bianca menepis tangan Jack dengan keras. Jack sendiri langsung menatap tangannya.


"Apa yang kau inginkan?!" Bianca menggeram kesal, Bianca tidak bisa membendung amarahnya karena mengingat kematian Cristhoper.

__ADS_1


"Tentu saja aku menginginkan diri mu. Apa lagi memangnya? Kau kan telah mencuri seluruh hidup ku."


'Dasar sinting.'


Bianca tidak bisa berlama-lama disini. Bianca bisa saja membunuh Jack di tempat ini tapi tempat ini terlalu ramai, bahkan sekarang mereka sudah menjadi pusat perhatian. Tapi beberapa dari pengunjung tentu terlihat bodo amat dan mungkin menganggap hanya sebagai perkelahian biasa.


Bianca berbalik, berniat untuk pergi tapi tangannya di cekal oleh Jack. Jack mendekati telinga Bianca dan berbisik.


"Apa permen yang ku berikan rasanya enak? Apa kau mau lagi? Tapi sayangnya aku sudah tidak memproduksi permen itu karena keinginan ku sudah terwujud."


'Apa maksudnya itu?'


Cup. Jack mencium leher Bianca yang membuat Bianca merinding sekaligus marah.


"Aku benar-benar menginginkan mu, kalau aku tidak bisa mendapatkan mu lebih baik aku mati saja."


"BIANCA." panggil Daniel yang membuat Bianca tersentak, Bianca menatap Daniel begitu juga dengan Jack yang menatap Daniel tak suka.


"Tapi aku harus menyingkirkan banyak orang agar kita bisa bersama." Jack tersenyum, ia melepaskan pegangan tangannya. "My Queen, apa kakak kedua mu baik-baik saja?" setelah berbicara seperti itu Jack pergi begitu saja.


Deg.


Daniela menggunakan ibu jarinya untuk menarik bibir Bianca kebawah agar Bianca melepas gigitannya itu.


"Bianca, lebih baik kau menghancurkan sesuatu saat marah. Kau tidak boleh menggigit bibir mu hingga berdarah seperti ini, rasanya pasti sakit kan? Jangan melukai diri mu sendiri. Sebaiknya kau membunuh orang yang membuat mu kesal." ucap Daniel lembut. Tapi Bianca masih terdiam, ia menunduk dan tidak menjawab apapun.


Amarah masih menguasai dirinya. Sejujurnya Daniel juga tidak ingin bilang tentang hal ini. Tapi ini adalah hal yang mendesak.


"Bianca, sebenarnya Steve dan Terry mengalami kecelakaan. Sekarang mereka sudah berada di mansion dan terluka cukup parah, mereka mendapatkan perawatan intensif secara sembunyi-sembunyi."


Deg. Amarah Bianca semakin membesar. Bianca bersumpah untuk membunuhnya. Bagaimana bisa pria itu mencelakai kakaknya?!

__ADS_1


"Akan ku bunuh dia. Aku akan membunuhnya." Bianca bergumam, ia mengepalkan kedua tangannya.


Daniel yang melihat hal itu langsung memeluk Bianca, sepertinya Bianca tau siapa penyebab Steve dan Terry terluka parah. Bianca terus bergumam untuk membunuh seseorang.


"Iya Bianca, kau lakukan sesuka mu. Apapun yang kau lakukan bahkan jika itu hal yang paling buruk di dunia aku akan tetap mendukung mu." ucap Daniel berusaha menenangkan Bianca.


"Tidak apa-apa Bianca, tidak apa-apa."


Walaupun Daniel berkata tidak apa-apa tapi wajah Daniel menggelap, urat-urat di lehernya menonjol. Daniel benar-benar marah.


...🌺...


"Walaupun luka-luka mereka sudah berhasil kami tangani tapi mereka masih koma. Saya juga tidak tau kapan mereka akan sadarkan diri." jelas dokter yang berada dihadapannya. "Apa Tuan benar-benar akan menyembunyikan hal ini?"


"Ya. Terimakasih atas kerja keras anda, sekarang anda boleh pergi. Pastikan juga kabar ini tidak bisa didengar oleh siapapun." ucap Daniel mengancam yang mau tak mau membuat dokter itu mengangguk.


Dokter itu pergi dari hadapan Daniel dan Bianca.


Menurut laporan yang mereka terima, saat perjalanan kembali dengan menaiki mobil. Tiba-tiba saja mobil itu lepas kendali dan masuk ke dalam jurang. Beruntung saat itu Steve masih sadar, ia membawa Terry keluar dari mobil.


Tapi karena luka yang di derita Steve parah, akhirnya mereka berdua pingsan di samping mobil. Tapi supir yang mengendarai mobil itu tewas, jadi tak ada yang bisa mereka introgasi selain menunggu Terry atau Steve sadar.


Bianca terdiam, ia tidak mengeluarkan ekspresi apapun tatapan matanya juga kosong. Ia seperti memikirkan sedang sesuatu.


'Ben harus mengambil alih Shanka.'


Karena Ben adalah harapan terakhir Bianca, Bianca tidak bisa melakukannya lagi.


Bianca meremas dress-nya, Bianca tau ada sesuatu didalam tubuhnya karena itu sebelum Bianca mati, Bianca berharap agar bisa membalas dendam pada Jack.


'Aku pasti akan membunuh Jack. Pasti!'

__ADS_1




__ADS_2