Innefabel {END}

Innefabel {END}
Liburan Keluarga


__ADS_3

Happy Reading....


.


.


.


"Wah cuaca seperti ini memang yang terbaik." Ucap Bianca senang.


Tepat dua hari yang lalu setelah kepulangan Steve dari suatu negara, tiba-tiba saja Steve merencanakan sebuah liburan keluarga.


Di duga Steve iri dengan salah satu temannya yang berlibur bersama istri tercinta dan anak-anaknya ke pulau Jeju, mereka menghabiskan waktu disana dengan menyenangkan.


Tapi berhubung Steve belum menikah, ia pun membeli tiket ke Disneyland. Steve bahkan memaksa Ben dan Bianca izin sekolah hanya untuk menikmati liburan keluarga ini. Awalnya Daniel tidak mau ikut, tapi Steve terlihat tidak peduli jika Daniel tidak ikut.


"Oh, kakak tidak bisa ikut? Tidak apa, aku akan menghabiskan waktu dengan kedua adikku saja." Ucapnya santai.


Pada akhirnya karena iri akhirnya Daniel ikut juga. Alhasil sampailah mereka di Disneyland. Mereka akan menginap di sini selama 3 hari. Kamis, Jumat dan Sabtu, hari Minggu nya mereka gunakan untuk beristirahat sebelum kembali beraktivitas, apalagi si kembar akan ada ujian kenaikan kelas Minggu depan.


Waktu memang cepat berlalu ya. Tau-tau sudah setahun lebih dirinya menempati tubuh Bianca.


"Memang benar jalan-jalan ke Disneyland adalah ide yang bagus." Ujar Steve yang merasa bangga pada dirinya sendiri.


Akhir-akhir ini Daniel dan Steve terlihat lelah, sepertinya mereka mengurus banyak hal. Jadi menuruti keinginan kedua kakaknya bukanlah hal yang buruk.


Ya kalau dipikir-pikir banyak juga kejadian yang menyebalkan terjadi. Hidup dengan tenang sepertinya bukan hal yang cocok untuk Bianca.


"Kenapa melamun? Ayo main." Bianca menarik tangan Steve dan membawanya berkeliling.


Mereka mencoba berbagai macam permainan, dari mainan yang biasa di mainkan anak kecil sampai permainan ekstrim mereka coba. Mereka bahkan sesekali berbelanja, makan siang bersama sampai berfoto bersama.


Sungguh, ini adalah hal yang tak pernah Bianca alami sebelumnya. Ini benar-benar menyenangkan untuk Bianca.

__ADS_1


"Bagaimana kalau sekarang kita bermain bianglala?" Saran Daniel. Entah kenapa justru sekarang Daniel lah yang terlihat seperti anak kecil.


"Ide bagus, kita bisa melihat pemandangan sambil mengobrol."


Ben dan Bianca saling bertatapan, mereka yakin pasti ada yang ingin dibicarakan oleh kedua kakaknya.


...🌸...


Mereka pun menaiki bianglala, Ben dan Bianca duduk berdampingan, Daniel dan Steve duduk dihadapan mereka. Beruntung bianglala ini cukup besar dan muat untuk 4 orang.


Awalnya mereka hanya membicarakan pembicaraan ringan dan melihat-lihat pemandangan dari atas. Namun tak lama suasana kembali hening, mereka fokus pada pikiran mereka sendiri. Entah kenapa mereka berempat merasa agak resah.


"Apa kalian tidak ingin menjadi ketua mafia?" Ucap Daniel membuka pembicaraan. Sejujurnya Daniel telah membicarakan hal ini pada Steve dan Steve memilih untuk mengikuti keputusan kedua adiknya.


"Aku tau kalian masih sangat muda dan harus banyak belajar, tapi melihat tindakan kalian selama ini membuat kami berpikir kalau kalian memiliki bakat untuk jadi pemimpin kelompok." Sambung Daniel.


"Kalian bahkan tidak segan-segan menyerang orang lain hanya untuk melindungi orang-orang kalian dan mencari tau sesuatu sangat detail, pengamatan serta strategi kalian sangat bagus. Aku bangga pada kalian." Kali ini Steve yang berbicara, ia tersenyum bangga.


Si kembar sering melihat Steve menghela nafas karena mengurus Shanka. Ya ampun Bianca jadi merasa bersalah, anak buah Shanka menjadi seperti itu jelas karena didikan ketua yang sebelumnya.


Walaupun Bianca pernah menjadi pemimpin Shanka, bukan berarti Bianca menginginkan hal itu lagi sekarang.


"Kami tidak memaksa kalian, kalau kalian memiliki impian lain pun tak masalah. Kita sudah memiliki kekuasaan dan kita cukup terkenal, tugas kalian sekarang hanyalah hidup bahagia." Ujar Daniel.


"Bahkan kalau kalian ingin menjadi pengangguran yang hanya bisa merengek pada kami pun tak masalah." Steve tertawa kecil.


Sungguh memiliki keluarga dan kakak seperti mereka adalah sebuah anugerah, rasanya tak pantas sekali jika dirinya mengeluh padahal ada seseorang yang rela bekerja keras agar ia bisa hidup nyaman.


Bianca dan Ben tertawa. Mereka sudah punya jawaban.


"Kami belum memikirkan tentang masa depan karena kami ingin menikmati waktu-waktu yang tersedia sekarang." Ujar Bianca.


Netra Daniel dan Steve berbinar. Itu benar, mereka harus menikmati masa muda mereka dengan damai. "Kalian harus bilang jika menginginkan sesuatu." Ucap Steve.

__ADS_1


"Mungkin suatu saat nanti kami akan meminta posisi itu, kalau begitu kalian harus memberikannya pada kami." Kata Ben yang membuat mereka tertawa.


"Tentu saja."


Hari ini benar-benar damai, Bianca harap waktu-waktu seperti ini bisa terulang lagi dimasa depan. Tapi masih ada satu hal yang harus Bianca tanyakan pada mereka.


"Apa kalian masih membenci tante?" Tanya Bianca yang membuat suasana mendadak menjadi hening.


Steve dan Daniel saling berpandangan dan mereka menghela nafas.


Bianca sendiri mengerutuki kebodohannya, kenapa ia malah menanyakan jawaban yang sudah pasti?


"Sejujurnya aku mengagumi wanita itu, dia keren karena bisa memimpin kelompok mafia Shanka, otaknya juga licik. Tapi aku tidak bisa memungkiri kalau dia yang membunuh orang tua kita." Jawab Ben.


"Kami tidak bisa bilang kalau kami menyukainya tapi kami juga tidak terlalu membencinya. Maksud ku, dia membunuh orang tua kita karena papa duluan yang mulai kan? Aku tidak bermaksud untuk menyalahkannya, tapi apa yang mereka tanam itulah yang mereka tuai." Sahut Daniel.


"Intinya tidak ada jawaban pasti dari pertanyaan mu." Ujar Steve.


Lagipula wanita itu yang mengurus perusahaan keluarganya, wanita itu juga yang membiayai Steve dan Daniel sekolah sampai lulus SMA dan berhasil memimpin perusahaan serta kelompok mafia itu.


Walaupun ia semata-mata melakukannya karena sebuah perjanjian, lagipula seluruh aset kekayaan milik wanita itu jatuh ke tangan mereka karena wanita itu tidak punya anak. Daniel dan Steve tidak tau harus merasa senang atau tidak.


Mereka tidak merasa senang, tapi mereka juga tidak marah. Tidak ada perasaan apapun.


Bianca tertawa kecil mendengar jawaban mereka. Ya semua itu lebih dari cukup. Dirinya merasa bangga memiliki keponakan seperti mereka dan juga dirinya senang menjadi adik mereka.


'Jangan khawatir, aku akan menjaga anak-anak mu dengan baik.'


Bianca tersenyum lega.



__ADS_1


__ADS_2