
Setelah selesai makan Dara dan Iqbaal langsung ke Aula. Sepanjang perjalanan mereka berdua tampak banyak sekali bercanda, mereka berdua berani melakukan itu karena sedang tidak banyak orang di sana.
"Ahkkk Iqbaal jangan seperti itu, nanti di lihat orang lain," kata Dara.
"Hahaha tidak ada orang Dara. Lagi pula ayah ku pemilik sekolah ini, dan semua guru mungkin sudah tau kalau kita sudah menikah."
"Tetap saja kita harus menghargai peraturan di sini, sudah ayo masuk, pasti para guru sudah menunggu kita," kata Dara.
"Bersama atau aku dulu atau kamu dulu," tanya Iqbaal.
"Bersama saja lah," jawab Dara.
"Dasar bucin," ucap Iqbaal.
"Enak saja bucin," kata Dara yang tidak terima jika di katakan bucin oleh Iqbaal.
"Dara Iqbaal kalian berdua lama sekali," kata stive.
"Hehehe maaf Pak, ada apa bapak memanggil kami," tanya Iqbaal.
__ADS_1
"Bagaimana bulan madu nya enak?"
"Hehehe enak lah pak, nama nya saja bulan madu," kata Iqbaal.
"Ah saya kalah dengan kamu, saya saja belum menikah eh anak murid bapak malah sudah menikah lebih dulu," ucap Stive.
"'Cepat menikah pak, jangan sampai ke duluan yang lainnya," kata Iqbaal.
"Hahaha iya iya. Oke sekarang kita mulai mode serius, kalian memang sudah menikah tetapi kompetisi tetap lah kompetisi, kalian berdua bersaing secara adil dan pasti serius," ucap Stive.
"Siap pak, kami berdua pasti serius kok," kata Iqbaal.
Meskipun pasangan suami istri mereka berdua tetap bersaing seperti biasanya. Terlihat saat mereka berdua beradu argumen yang selalu menonjolkan visi dan misi masing-masing dari mereka berdua.
Sore hari nya setelah hari yang cukup banyak mereka berdua baru pulang ke apartemen. Otak dan tubuh mereka berdua sama-sama lelah. Dara dan Iqbaal langsung masuk ke dalam kamar untuk membersihkan diri mereka.
"Aku dulu ya bal," kata Dara.
"Iya ra, aku ingin main game dulu," ucap Iqbaal.
__ADS_1
"Oh iya bal tadi kamu keren sekali, kamu bisa berdebat dengan ku. Lebih baik dari debat sebelum nya," kata Dara.
"Hahaha iya dong, aku sudah belajar dari mu. Materi nya saja kamu yang membantu ku, ya sudah pasti debat ku bagus," ucap Iqbaal.
Dara tersenyum sambil berjanji masuk ke dalam kamar mandi. Ia dan Iqbaal semakin dekat saja, hal itu terkadang membuat diri nya tidak menyangka air dan minyak bisa bersatu seperti ini.
"Iqbaal," teriak Dara.
Iqbaal sedang menggunakan erafone ia tidak dengar sama sekali suara dari Dara. Dara yang berada di dalam kamar mandi sangat kesal karena Iqbaal tidak kunjung menjawab teriak kan nya.
"Ahkkk aku hanya memakai handuk saja, nanti Iqbaal lihat dan terpesona bagaimana," kata Dara.
Dara tidak ada pilihan lain selain hanya memakai handuk sebatas lutut saja, ia berharap Iqbaal tidak melihat diri nya yang sedang seperti itu.
Iqbaal membuka erafone di kupingnya. Ia sangat heran kenapa Dara lama sekali berada di dalam kamar mandi. Biasanya Dara tidak selama ini.
Dengan cepat Dara keluar dari kamar mandi, mungkin karena terlalu terburu-buru Dara tidak hati-hati, kaki nya terpeleset yang membuat nya jatuh ke lantai. Kepala nya cukup kuat membentur lantai yang membuat Dara langsung pingsan.
"Dara," teriak Iqbaal.
__ADS_1