
Satu persatu pakaian mereka lepas dari tempat nya. Iqbaal benar-benar buta akan hal ini, ia hanya bisa mengikuti instingnya sebagai seorang pria. Semuanya mengalir begitu saja, momen yang sangat Iqbaal nantikan akhirnya terjadi juga, Iqbaal sangat senang akan mendapatkan hal yang sangat istimewa pada malam ini.
"Iqbaal," ucap Dara.
"Iya Dara ada apa," tanya Iqbaal.
"Aku takut tidak akan sakit kan," tanya Dara.
"Mungkin sedikit, jangan takut rileks saja," jawab Iqbaal.
Iqbaal membawa Dara ke atas ranjang, ranjang yang penuh dengan bunga mawar yang sangat harum. Bunga Mawar yang membuat semua orang terpanah dengan keharuman nya.
Iqbaal mulai melakukan tugas nya sebagai seorang suami, Dara hanya bisa memejamkan mata nya saat Iqbaal mulai menjamak tubuh nya, rasanya memang sangat sungguh luar biasa.
Iqbaal mengambil bantal dan meletakkan bantal itu di bawa tubuh Dara, ia mengikuti saran dari ayah nya. Setelah itu Iqbaal mulai memposisikan semuanya. Dara tidak berani sedikit pun membuka mata nya. Ia masih sangat takut dengan apa yang terjadi pada nya.
Perlahan Dara merasakan sesuatu masuk kedalam sana, rasa cukup sakit tapi Dara bisa menahan semuanya. Tak lama sesuatu itu semakin masuk kendalam dan rasa nya semakin sakit saja. Dara tidak bisa menahannya lagi.
"Hiks hika hika sakit Iqbaal," Dara mencengkram kuat punggung Dara.
"Sakit Ra," tanya Iqbaal.
"Iya sakit sangat sakit bal, tunggu dulu," jawab Dara.
__ADS_1
Iqbaal menghentikan aksi nya. Ia sangat kasihan pada Dara. Setelah Dara kembali tenang baru lah ia melanjutkan nya lagi.
"Maaf Dara." Iqbaal mendorong nya lebih kuat sampai membuat Dara menangis.
"Akhlkk Iqbaal sakit sekali," teriak Dara.
"Tahan sayang tanah," kata Iqbaal.
Malam ini Malam yang menjadi saksi pemersatu mereka berdua, Iqbaal dan Dara Sama-sama bahagia pada malam itu. Apalagi Iqbaal yang tingkat kebahagiaan nya sampai ke level tertinggi.
Pagi hari nya, setelah pertempuran panjang tadi malam mereka berdua masih tertidur dengan pulas. Mereka berdua masih tidur dengan nyenyak setelah malam yang melelahkan.
Tut.... tut... tut... Suara panggilan dari Handphone Iqbaal membangunkan mereka berdua.
"Iya Dara." Iqbaal langsung mengangkat panggilan dari Ayah nya.
"Halo yah."
"Kau dimana bal, ayah di apartemen mu dan kau tidak ada," tanya Dhanu.
"Aku sedang di hotel yah, sudah ya jangan mengganggu," jawab Iqbaal.
"Oalah bal, ya sudah kalau begitu, jangan lupa untuk pulang," kata Dhanu sambil mematikan sambung telepon itu.
__ADS_1
Iqbaal kembali memeluk Dara, ia sangat senang memeluk Dara yang sedang tidak menggunakan apapun sama dengan diri nya.
"Tadi malam sakit ra," tanya Iqbaal.
"Hmmmm pertanyaan apa ini bal," jawab Dara.
"Hahaha bagaimana ra, review jujur nya," tanya Iqbaal.
"Hmmmm sakit dan enak," jawab Dara.
"Kamu sampai bergetar kenapa," tanya Iqbaal.
"Iqbaal tadi malam aku pipis," jawab Dara.
"Apa!! bagaimana bisa aku tida terasa," ucap Iqbaal.
"Tapi aku terasa," kata Dara.
"Mungkin hanya sedikit saja, sudah jangan kamu pikirkan," ucap Iqbaal.
Dara membalik tubuh nya, ia memeluk Iqbaal dari depan hal itu membuat hal yang awalnya tidur kembali bangun. Iqbaal masih berusaha menahan nya, ia tidak mau Dara menangis lagi seperti tadi malam.
"Ahkkk sial kenapa dia memeluk ku dari depan si, ini sangat menyebabkan," batin Iqbaal.
__ADS_1