
Semua orang sudah berkumpul di Aula sekolah. Satu persatu siswa-siswi maju menentukan pilihan mereka. Iqbaal tanpa tersenyum melihat antusias teman-teman nya dalam pemilihan ke tua osis ini.
"Ra seperti nya kamu menang," bisik Iqbaal.
"Hmmmm," gumam Dara tanpa melihat ke arah Iqbaal.
"Kamu kenapa ra," tanya Iqbaal.
"Tidak ada, fokus bal," jawab Dara.
Proses pemilihan sudah selesai. Mereka semua di istirahat kan sebelum proses penghitungan suara. Tanpa menunggu dan melihat ke arah Iqbaal, Dara berjalan keluar begitu saja. Iqbaal terkejut dengan apa yang di lakukan Dara, ia merasa Dara sedang marah pada nya.
"Dara," ucap Iqbaal.
Dara terus berjalan sampai ia masuk ke dalam ruangan kosong. Air mata kekecewaan nya pada Iqbaal tal tertahankan lagi, ia berusaha menghapus air mata itu sebelum orang lain melihat nya.
"Dara kamu menangis, kamu kenapa Ra," ucap Iqbaal sambil ingin mengusap air mata Dara.
__ADS_1
"Tidak bal, gua benci sama lu, gua jijik bal." Dara menghempaskan tangan Dara.
"Ra kamu kenapa si, apa salah ku. Kamu takut aku menang, kamu kenapa si ra," tanya Iqbaal.
"Udah deh bal, jangan sok baik di depan gua, gua benar-benar kecewa sama lu bal, gau benci dengan kecurangan. Gua gak masalah lu menang, gua bangga lu menang, tapi tidak pakai cara curang. Gua tau lu kaya, sampai lu gunain kekayaan lu untuk suruh orang agar vote lu." Dara pergi meninggalkan Iqbaal begitu saja.
"Dara." Iqbaal berlari mendekati Dara, tetapi Dara sudah berlari jauh pergi meninggalkan nya.
"Iqbaal makasih ya, gua yakin lu pasti menang kok."
"Makasih untuk apa," tanya Iqbaal.
Dara pergi meninggalkan sekolah, ia sudah malas ikut dalam proses perhitungan suara. Ia hanya mengirim kan pesan suara ke Aggata jika diri nya harus pergi mendadak.
"Dimana Dara," tanya Stive.
"Saya tidak tau pak," jawab Iqbaal yang juha kebingungan karena Dara tidak ada sejak tadi, nomor handphone Dara pun sudah tidak aktif lagi.
__ADS_1
"Pak Dara mengirimkan pesan suara jika ia harus pergi mendadak, dari suara nya yang menangis seperti nya ia sedang ada masalah," kata Aggata.
"Masalah apa bal, kau tidak tau," tanya Stive.
"Ti.. tidak pak," jawab Iqbaal.
Iqbaal benar-benar sangat takut jika Dara meninggal nya, ia sangat dendam pada orang yang melakukan hal ini pada nya. Ia tidak pernah meminta orang untuk menyogok pemilihan ke tua osis ini.
Karena semua orang sudah berkumpul acara pemungutan suara pun di mulai. Tanpa dugaan Iqbaal mendapatkan 75 % suara meninggal Dara yang hanya mendapatkan 25 % suara.
"Iqbaal lu menang." Aldy langsung memeluk sahabat nya itu dengan erat. Ia sangat senang akhirnya Iqbaal menang dalam pemilihan ke tua osis ini.
"Kita berhasil nis," ucap Anggi.
"Iya nggi, Dara dan Iqbaal bertengkar. Iqbaal menang. Gua yakin Iqbaal akan jatuh ke dalam pelukan lu," kata Anis.
Dara mendapatkan informasi jika Iqbaal yang menang, ia pasti akan bangga jika Iqbaal tidak melakukan kecurangan tapi karena Iqbaal ngelakuin kecurangan rasa bangga itu berubah menjadi benci.
__ADS_1
"Gua kecewa bal, perasaan gua ke lu hancur bal."
Dara tidak pulang ke rumah nya, ia pergi tanpa ada satu orang pun yang tau.