
Setelah permainan itu mendadak hubungan Dara dengan Iqbal menjadi dingin, mereka berdua sama sama sedang memikirkan sesuatu hal. Sampai tidur saja mereka berdua saling membelakangi, dan tidak ada suara yang terdengar, padahal mereka berdua sama sama belum tidur, keduanya hanya diam larut dalam pikiran masing-masing.
"Kamu sudah tidur?" Iqbal sadar jika sejak tadi Dara belum tidur.
"Belum kamu juga belum tidur? Kamu sedang memikirkan apa," tanya Dara
"Aku sudah memikirkan perkataanku tadi, apa ada yang salah dari perkataanku, apa keinginanku salah, apa aku menyakiti hatimu, aku dan memikirkan itu semua."
"Tak ada yang salah, apa yang kamu inginkan itu normal, kita menikah juga sudah cukup lama. Maafkan aku yang belum bisa memberikan apa yang kamu inginkan, maafkan aku yang masih egois, maafkan aku yang tidak bisa mengerti kamu. Jujur aku sangat bingung, aku mempunyai cita-cita yang sudah aku mimpikan sejak kecil, tetapi di satu lain aku mempunyai tanggung jawab sebagai seorang istri, aku sangat bingung sekarang."
Tiba tiba Dara menetaskan air matanya, saat ini pikirkannya benar-benar sayang kalut, sampai ia tidak bisa mengendalikan perasaannya.
__ADS_1
Iqbal yang sadar nikah istrinya menangis langsung kembali tubuhnya dan memeluk Dara dari belakang, ia sangat menyesal telah membuat darah seperti ini, kalau tidak karena perkataannya tadi Dara tidak mungkin menangis. Panjang pernikahan mereka, baru kali ini yang membuat dara menangis.
"Maafkan aku, aku mengotori pernikahan kita. Tidak seharusnya aku berkata seperti tadi, jangan kamu pikirkan perkataan ku tadi, kamu hanya tinggal beberapa semester saja, aku bisa kok menunggu kamu sampai waktu itu habis."
"Tidak kamu jangan minta maaf, memang perasaanku saja yang sedang sulit untuk aku atur, sudah kita tidur saja." Dara menghapus air matanya, kemudian ia juga membalik tubuhnya dan memeluk Iqbal dengan erat.
"Jangan pernah tinggalkan aku, maafkan aku sayang," ucap Dara.
Mereka berdua berpelukan dengan begitu erat, tanpa sadar keduanya mulai tertidur. Tertidur dengan pikiran dan perasaan yang tidak tenang, walaupun keduanya berkata tidak apa-apa, tetap saja dalam hati mereka sedang tidak baik baik saja.
Pagi harinya, hari ini hari kedua mereka di villa, pagi ini perasaan Iqbal dan Dara sudah lebih baik. Mereka berdua enggan larut dalam perasaan yang membuat mereka merasa tidak nyaman, bukan hanya pada mereka sendiri tapi padahal hal-hal yang ada di sekitar mereka. Saat ini mereka sedang liburan, seharusnya mereka bersenang-senang bukan malah memikirkan hal yang mengucapkan perasaan mereka masing-masing.
__ADS_1
"Sayang Ayah apa minta kita untuk segera pulang," ucap Iqbal.
"Nanti malam kita pulang saja, besok baru kita ke rumah Ayah," kata Dara.
"Bagaimana dengan Aldi dan dengan Agatha, apakah mereka berdua ikut pulang?"
"Terserah mereka sih, kalau mau ikut ya ayo kalau tidak juga tidak masalah. Kan ini Villanya Aldi juga, tapi lebih baik ikut saja, dapat berdua belum sah tidak baik ditinggal di tempat ini," ucap Dara.
"Kalian berdua akan kembali? Kenapa begitu mendadak," tanya Aldy.
"Orang tuaku meminta kami agar segera ke rumah mereka, mereka marah pada kami karena tidak ke rumah mereka terlebih dahulu. Nanti malam kami akan pulang dan kalian berdua harus ikut pulang, kalian tidak boleh berdua di sini," jawab Iqbal.
__ADS_1