
Setelah makanan matang mereka berhubungan makan bersama, Iqbal sudah sangat merindukan masakan sama istri, walaupun hanya makanan sederhana yang terlihat makan dengan sangat lahap, selain masakan sang mama masakan istrinya adalah masakan terbaik yang pernah ia makan.
"Kamu sangat lapar ya? Kamu makan begitu lahap sekali." Dara sendiri cukup heran nafsu makan sama suami.
"Hehehe masakanmu sangat enak sekali, jujur saja aku sangat merindukan masakanmu." Iqbal mengatakan nya sambil makan dengan sangat lahap.
Hal itu membuat Dara semakin senang, dirinya merasa makanan yang ia buat dihargai oleh sang suami. Hal kecil seperti ini juga yang ia sangat rindukan saat berjauhan dengan Iqbal.
"Ah kenyang nya," ucap Iqbal.
"Kamu makan banyak sekali, sekarang ayo kita mandi, kamu pasti sudah sangat bau setelah hari tidak mandi." Sebelum ke kamar Dara membereskan semuanya terlebih dahulu, kemungkinan besar sampai malam nanti ia pasti tidak akan keluar kamar. Dirinya sudah hafal apa yang Iqbal minta saat bertemu seperti ini.
"Ayo sayang." Iqbal menggendong Dara masuk ke dalam kamar.
"Mandi dulu sayang, kamu bau dan aku juga bau masakan," ucap Dara.
__ADS_1
"Tidak papa, aku sangat suka aroma tubuh kamu." Iqbal menciumi tubuh sang istri.
"Sayang kamu tau tidak," ucap Iqbal sambil meletakkan Tiara ke atas tempat tidur.
"Iya tau apa," tanya Dara.
"Aggata dengan Aldy akan segera menikah, mereka berdua mengikuti jejak kita," jawaban Iqbal.
"Ha!! Kenapa aggata tidak memberitahuku," ucap Dara, ia merasa dikhianati oleh aggata karena mereka berdua sangat dekat.
"Oh begitu, Aggata tidak hamil dulu kan. Takut nya malah kebobolan," kata Dara.
"Hahaha tidak sayang, kita yang sudah bertahun-tahun menikah saja belum mempunyai anak tidak mungkinlah mereka berdua langsung mempunyai anak," ucap Iqbal.
"Sayang kita kan sudah sepakat untuk menunda kehamilan, kalau mungkin aku bisa kuliah," kata Dara.
__ADS_1
"Eh kamu jangan begitu ya, sampai sekarang aku tidak mempunyai kesepakatan apapun tentang kehamilan kamu, kamu sendiri yang membuat kesempatan ini, aku kan hanya mengizinkan mu untuk lanjut kuliah di sini, untuk kehamilan aku tidak pernah menyepakati apapun," ucap Iqbal.
Dara membuang nafasnya dengan perlahan, apa yang dikatakan Iqbal benar. Mereka berdua tidak mempunyai kesepakatan apapun, dirinya sendiri yang membuat kesempatan sepihak.
Tangan Iqbal mulai melepaskan pakaian yang Dara gunakan, sekarang Dara tidak bisa apa apa lagi selain mengikuti permainan yang suaminya berikan.
"Semakin besar saja sayang," ucap Iqbal sambil memainkan nya.
"Kamu bagaimana sih. Kita masih dapat masa perkembangan, kita belum genap 20 tahun," kata Dara sambil memejamkan matanya, ia sudah lama tidak mendapatkan nafkah batin dan sekarang ia begitu menikmati nya.
"Tidak ada kan pria lain yang menyentuh ini," tanya Iqbal.
"Kamu pikir aku wanita macam apa, memang banyak pria tampan dan gagah di sini tapi kamu masih satu satunya yang ada di dalam hati ku, aku tidak mau mengkhianati kepercayaan yang kamu berikan kepada ku," ucap Dara.
"Hahaha bagus." Iqbal sangat bangga dengan Dara, walaupun banyak godaan Dada tetap memikirkan pernikahan mereka berdua, kalau ia yang ada di posisi Dara ia tidak tahu apakah dapat bertahan atau tidak.
__ADS_1