
"Bal aku lapar," ucap Dara sambil menggoyangkan tubuh suami nya.
Dara yang semula sudah tidur terbangun kembali karena rasa lapar di perut nya. Ia sama sekali tidak bisa menahan rasa lapar ini.
"Sabar Dara," ucap Iqbaal yang berusaha mengumpulkan kesadaran nya.
"Hmmm apa kata mu tadi," tanya Iqbaal.
"Aku lapar bal aku lapar," jawab Dara.
"Kau bisa masak tidak, ini sudah sangat malam kalau mencari makanan di luar pun pasti sudah jarang yang buka," kata Iqbaal.
"Tidak aku tidak bisa masak, mungkin kalau masak mie atau telur aku bisa. Tapi aku tidak mau makan itu."
"Makan apa jadi, aku si juga cukup lapar," tanya Iqbaal.
"Terserah," jawab Dara.
"Kita ke minimarket aja yuk, di lantai dasar kan ada minimarket dua puluh empat jam," kata Iqbaal.
"Hmmm boleh, aku rasa di sana banyak makanan instan," ucap Dara.
Dara memakai jaket untuk menutupi tubuh nya yang sebelumnya nya hanya menggunakan tanktop. Begitu juga dengan Iqbaal yang juga memakai jaket saja.
__ADS_1
"Itu apa yang menonjol," batin Dara.
"Ayo ra, kenapa malam bengong," ucap Iqbaal.
"Hehehe iya ayo." Dara baru sadar apa yang ia lihat tadi.
Di minimarket Iqbaal dan Dara mulai mencari makanan yang bisa mereka makan. Iqbaal lebih memilih membeli berbagai macam roti untuk stock, berbeda dengan Dara yang mengambil makanan instan serta buah-buahan cup yang bisa langsung di makan.
"Iqbaal ini sosis," kata Dara.
"Ambil Ra, tapi jangan besar-besar," ucap Iqbaal.
"Kenapa kalau besar," tanya Dara.
"Aneh," ucap Dara yang masih tidak mengerti dengan ucap Iqbaal.
Setelah selesai berbelanja mereka berdua langsung kembali ke apartemen mereka. Iqbaal dan Dara memutuskan untuk membuat pasta dan sosis goreng yang sangat mudah untuk di masak.
"Kau goreng sosis kamu memasak pasta," kata Iqbaal.
"Nah gini jadi suami mau di ajak susah. Ok suami ku," ucap Dara.
"Ra, hmmmm aku kok jadi takut ya," kata Iqbaal.
__ADS_1
"Takut kenapa bal," tanya Dara.
"Takut saja akan masa depan kita, apa aku bisa menjadi suami yang baik dan bertanggung jawab," jawab Iqbaal.
"Pasti bisa lah, aku pikir kamu takut untuk memasak sosis itu, kamu tidak takut ketukar dengan milik mu," tanya Dara.
"Tidak lah, punya ku itu besar ini mah kecil," jawab Iqbaal.
"Bal tiga hari lagi pemungutan suara, aku cukup deg deg kan," kata Dara.
"Oh iya ra, aku pernah dengar kamu ingin menjadi ke tua osis karena ingin kuliah di belanda," tanya Iqbaal.
"Iya bal, aku lupa aku sudah menikah, jadi mana mungkin aku bisa ke sana," jawab Dara.
"Hahaha aku tidak mengizinkan mu, kamu bisa kuliah. Tapi di sini saja, urus anak kita dengan baik," ucap Iqbaal.
"Iya iya, hadeh aku jadi tidak berharap menang kamu saja lah," kata Dara.
"Hahaha langsung seperti itu, jangan begitu dong ra," ucap Iqbaal.
"Aku bercanda, sudah jangan banyak berbicara nanti gosong lagi," kata Iqbaal.
Setelah selesai memasak mereka berdua makan dengan lahap. Iqbaal dan Dara tidak pernah berpikir jika hidup mereka berdua akan seperti ini. Terkadang memang hal yang tidak pernah terpikirkan akan terjadi di hidup kita, semua sudah fi tentukan oleh garis takdir.
__ADS_1