Istri Tak Diakui

Istri Tak Diakui
Alana Menghilang


__ADS_3

Bella membuka matanya lebar-lebar, memastikan jika apa yang dilihatnya saat ini tidak salah. Semakin lama semakin terlihat jelas karena keluarga kecil itu berjalan semakin mendekat tanpa mereka sadari ada Bella dan Laras di sana.


"Bella, kau kenapa?" Tanya Laras yang melihat Bella tampak bengong.


"Tante, pantas saja Steve tidak menjawab telepon dari Tante, Tante lihat ke sana," tukas Bella yang seraya menunjuk. Sehingga Laras pun langsung melihat ke arah yang ditunjuk oleh wanita di sebelahnya itu.


"Steve, Riana dan Alana? Ternyata mereka bertiga juga ada di sini dan mereka terlihat begitu bahagia," kata Laras yang sama halnya dengan Bella, terlihat tidak menyukai akan hal itu.


"Iya Tante, aku tidak terima," tukas Bella.


"Kau tenang saja Bella, sekarang kita hampiri mereka," tutur Laras yang maju terlebih dahulu untuk menghampiri anak, menantu serta cucunya itu.


"Ternyata kalian di sini juga, pantas saja Mami hubungi kau sama sekali tidak menjawab telepon Mami Steve," kata Laras yang tiba-tiba muncul di hadapan Steve, Riana dan Alana, membuat ketiganya merasa sangat terkejut dan menghentikan langkah mereka.


"Mami?" Ucap Riana dan Steve secara bersamaan.


"Oma … !" Panggil Alana yang langsung saja menyalami serta memeluk neneknya itu.


"Sayang, kamu jalan-jalan ke sini kok tidak mengajak Oma," kata Laras seraya mencium pipi cucunya tersebut.


"Maaf Oma, soalnya tadi aku sama Mama dan Papa dari rumah. Kami baru selesai makan, sekalian jalan-jalan Oma, ternyata Oma di sini juga. Oh … Oma sama Tante Bella ya," tutur Alana yang melihat Bella menyusul Laras.


"Iya, Oma datang ke sini sama Tante Bella," jawab Laras.


"Oh … ," gumam Alana, lalu menghampiri ayah dan ibunya kembali.


"Steve kau belum menjawab pertanyaan Mami, kenapa kau tidak menjawab telepon Mami?" Tanya Laras.


"Maaf Mi, seperti yang Mami lihat sekarang aku sedang berada di sini bersama keluargaku dan ponselku tertinggal di mobil, maka itu aku tidak tahu jika Mami menghubungiku. Memang ada apa Mi?" Terang Steve dan bertanya.


"Jadi karena kau sedang bersama dengan wanita ini, kau sampai tidak membawa ponsel dan kau mengabaikan telepon Mami, begitu?" Kata Laras yang terlihat emosi.


"Kenapa Mami jadi marah-marah seperti ini sih, malu Mi ini di tempat umum. Lagipula ini hanya masalah ponsel Mi dan aku tidak sengaja untuk mengabaikan Mami. Sudah aku katakan ponselku tertinggal di mobil, jika aku memegang ponsel pasti aku menjawabnya. Sekarang kita sudah bertemu di sini, jadi jika ada sesuatu yang ingin Mami sampaikan ya tinggal disampaikan saja, apa susahnya," ucap Steve yang juga terlihat kesal terhadap ibunya itu, membuat Riana menjadi merasa tak enak hati.


"Mas, sudah Mas, kau jangan emosi seperti terhadap Mami," ucap Riana yang mencoba menenangkan suaminya dengan menyentuh lengannya, lalu Steve merespon dengan memegang tangan Riana. Membuat Bella merasa sangat panas melihatnya dan juga Laras yang melihat sangat tidak menyukainya.


"Steve kita harus berbicara berdua," ucap Laras.


"Ya sudah kalau begitu. Riana kau temani Alana bermain dulu tidak masalah 'kan, aku akan berbicara sebentar dengan Mami dan kau Bella, kau juga lebih baik ikut Riana dan Alana saja bermain di sana. Kita berbicara di sini saja Mi sebentar," kata Steve.

__ADS_1


"Ya sudah," jawab Laras menyetujui.


"Iya Mas, aku dan Alana ke sana dulu ya," jawab Riana lalu pergi membawa anaknya ke tempat bermain dan diikuti oleh Bella di belakangnya.


------


"Ada apa Mi, apa yang ingin Mami bicarakan?" Tanya Steve.


"Sepertinya saat ini kau sudah mulai menerima kehadiran istrimu itu, Mami melihat kalian berdua begitu bahagia jalan bersama. Kau juga tadi juga memegang tangan Riana, apa ini maksudnya Steve? Apa yang sedang kau rencanakan? Apakah ini adalah bagian dari sandiwaramu atau kau memang serius melakukannya? Akhir-akhir ini kau terlihat sangat sibuk, bukan hanya tadi saja tapi beberapa hari ini jika Mami telepon kau tampak menghindar, jika Mami tanya bagaimana hubunganmu dengan Riana, kau mengatakan biasa saja. Apakah biasa saja seperti ini yang kau maksud? Kalian berdua sudah terlihat seperti pasangan suami istri pada umumnya, apa kau sudah mulai menerima kehadiran wanita itu? Iya Steve?" Laras menimpalkan beberapa pertanyaan yang membuat Steve merasa gugup dan mati kutu.


Akan tetapi Steve juga sudah berniat jika saat ini ia harus mengatakan yang sebenarnya kepada ibunya, ia juga tidak mungkin terus-menerus menyembunyikan hal ini dari Laras, bagaimanapun juga Riana adalah istrinya. Meskipun saat ini Laras tidak menyukai Riana, bukan berarti ia harus menjauhi Riana tetapi ia harus membuat ibunya itu menyukai istrinya.


"Iya Mi, aku sudah menerima Riana. Kita berdua sudah memulainya dari awal dan aku yang meminta Riana untuk memberikanku kesempatan menjadi suami yang baik. Aku sadar Mi jika aku saat ini aku sudah hidup ketergantungan dengan Riana, aku merasa kehilangan Riana di saat dia tidak menggubrisku selama 3 hari, hidupku rasanya benar-benar hampa. Untuk itu aku mencoba untuk menerima Riana menjadi istriku seutuhnya. Apakah itu salah?" Terang Steve.


"Tentu saja itu salah, kau tahu betul Mami sangat tidak menyukainya. Seharusnya kau itu berpisah dengan Riana, Mami ingin kau menikah dengan Bella, bukan malah memperbaiki hubunganmu dengan Riana seperti ini. Mami benar-benar tidak mengerti, bukankah kau mengatakan tidak akan pernah mencintai wanita itu, tapi kenapa malah sekarang jadi seperti ini sih," kata Laras dengan suara lantang.


"Mi, kecilkan suara Mami ini tempat umum. Kita sedang berada di mall, Mami tidak lihat kita sekarang sudah menjadi pusat perhatian," kata Steve.


"Kau yang sudah membuat Mami emosi," tukas Laras.


------


Beberapa menit kemudian, permainan telah selesai dan Alana memilih untuk mencari permainan lain yang ia mainkan sendirian, sehingga Riana bisa untuk beristirahat sebentar karena tentu saja tenaganya tidak selincah Alana yang masih terlihat begitu bersemangat.


"Sayang, Mama ke sana dulu ya samperin Tante Bella. Kamu main sendiri nggak apa-apa 'kan, Mama lihat kamu dari sana," kata Riana sembari menunjuk ke arah Bella.


"Iya nggak apa-apa kok Ma, kasihan juga Tante Bella sendirian," ucap Alana yang begitu mengerti.


Lalu Riana pun melangkahkan kakinya mendekati Bella yang di saat itu sedang duduk dan terlihat asik memainkan ponselnya.


"Bella, kau benar-benar tidak ingin bermain apapun di sini?" Tanya Riana yang sudah berada di hadapan Bella.


"Tentu saja tidak, sangat membosankan jika aku harus ikut bermain di sini," jawab Bella ketus.


"Itu karena kau belum mencobanya Bella, sebenarnya permainan sini asik kok. Apalagi yang tadi aku mainkan bersama Alana, itung-itung kita bisa sekalian olahraga dan itu sangat menyehatkan badan," terang Riana.


"Lebih baik kau diam, aku sama sekali tidak membutuhkan ocehanmu," kata Bella.


Riana memutar bola mata malas, lalu ia pun duduk di samping Bella untuk menghilangkan rasa lelahnya sebentar sembari memperhatikan Alana dari kejauhan, akan tetapi tiba-tiba saja …

__ADS_1


"Aduh perutku sakit," rintih Bella sehingga membuat Riana merasa khawatir.


"Bella, kau kenapa?" Tanya Riana, hingga ia pun mengalihkan pandangannya dari Alana.


"Perutku tiba-tiba sakit Riana, aku rasa ini pasti karena tamuku datang. Rasanya benar-benar sakit," kata Bella yang terlihat sangat kesakitan.


"Duh … bagaimana ini, apa yang harus aku lakukan sekarang Bella? Kau biasa minum obat atau apa?" Tanya Riana yang terlihat panik, tentu saja sebagai sesama wanita ia sangat tahu bagaimana rasanya.


"Aku tidak pernah meminum obat apapun, tapi apa aku boleh meminta tolong membelikan pembalut saja. Aku takut jika aku yang jalan pasti akan mengalir deras. Aku tidak membawa pakaian ganti, tolong ya," pinta Bella.


"Ya sudah kalau begitu aku pergi sekarang. Aku titip Alana ya," kata Riana dan Bella pun mengangguk menyetujuinya.


Di saat itu Bella tersenyum smirk sembari menatap kepergian Riana yang terlihat semakin menjauh.


Beberapa saat setelah Riana pergi, di saat itu pula Steve dan Laras datang menghampiri Bella di tempat bermain.


"Mana Alana dan Riana?" Tanya Steve karena tidak melihat anak dan istrinya itu.


"Tadi aku melihat mereka bermain di sana, aku menunggu di sini karena perutku sakit. Tapi tadi aku juga melihat sepertinya Riana pergi sendirian dan aku tidak melihat Alana ada dimana," jawab Bella sembari memegangi perutnya.


"Bella, apa kau baik-baik saja?" Tanya Laras yang terlihat cemas.


"Iya Tante, aku baik-baik saja kok. Sudah biasa sepeti ini setiap bulannya," jawab Bella sehingga Laras langsung mengerti.


Sedangkan Steve, tanpa menjawab apapun ia langsung saja pergi mencari keberadaan anaknya ke seluruh tempat bermain tetapi ia ia sama sekali tidak menemukannya. Hingga di saat terlihat Riana yang baru saja kembali dengan membawakan titipan Bella.


"Riana dimana Alana? Kenapa kau meninggalkan Alana sendirian? Alana hilang Riana!" Bentak Steve yang terlihat begitu emosi.


"Apa? Alana hilang? Itu tidak mungkin Mas, tadi Alana sedang bermain di sana, aku menitipkannya kepada Bella karena aku pergi membelikan ini untuk Bella sebentar Mas," terang Riana sembari menunjukkan apa yang baru saja dibelinya.


"Riana, kenapa kau berbohong seperti itu? Aku sama sekali tidak memintamu untuk membelikan itu dan kau juga tidak ada menitipkan Alana, kau yang tiba-tiba saja pergi, aku melihatnya Riana. Kau pasti sengaja pergi dan menjadikan alasan sakit perutku ini kan," tuding Bella.


"Apa maksudmu Bella? Sudah jelas- jelas aku membelikanmu ini dan kau yang memintanya," bantah Riana tak mau kalah.


"Sudah-sudah, kenapa kalian berdua malah berdebat seperti ini. Dimana Alana sekarang?" Tanya Laras pula.


"Riana kau benar-benar keterlaluan, aku baru saja menitipkan Alana sebentar tapi kau sudah membuat Alana menghilang!" Bentak Steve, lalu ia pun pergi untuk mencari keberadaan anaknya.


Bersambung …

__ADS_1


__ADS_2