Istri Tak Diakui

Istri Tak Diakui
Mengambil Keputusan.


__ADS_3

Setelah memikirkan dengan matang semalaman, kini Riana pun benar-benar yakin dengan keputusannya. Sehingga di saat Steve sudah pergi ke kantor seperti biasa, kini Riana pun memesan taksi online untuk mengantarnya ke suatu tempat setelah mengantar Alana pergi ke sekolah terlebih dahulu. Riana sangat yakin sudah mengambil keputusan yang benar untuk membantu suaminya terbebas dari masalah perusahaannya saat ini.


Kemana lagi ia akan pergi kalau bukan menemui Pras. Ya Pras lah yang sudah menyebabkan hal ini terjadi dan hanya Pras juga lah yang bisa mengembalikan keadaan seperti semula. Sehingga hanya kepada Pras Riana bisa meminta pertolongan, ia rela memohon kepada Pras bagaimanapun caranya demi cintanya kepada Steve.


Akan tetapi setibanya di Perusahaan Y, di saat itu orang yang hendak ditemuinya sedang tidak berada di perusahaan. Sang resepsionis mengatakan jika Pras belum datang ke perusahaan, mungkin siang atau bisa jadi juga hari ini dia tidak datang karena bosnya itu mengatakan sedang ada beberapa urusan di luar. Sehingga Riana pun meminta kontak Pras yang bisa dihubungi.


"Maaf Nyonya, aku tidak bisa memberi nomor Tuan Pras kepada sembarang orang. Bahkan orang yang ada keperluan dengan Tuan Pras saja harus melewati asistennya, Tuan Rangga," ucap resepsionis.


"Kau memang tidak mau memberikanku atau sebenarnya kau tidak memiliki nomor Pras?" Tanya Riana yang terlihat sangat kesal.


"Ya sebenarnya aku memang tidak memilikinya nomornya, tapi walaupun aku punya aku sudah tidak akan memberitahumu," sahut resepsionis ketus.


"Kau ini, padahal kau itu adalah penyambut para tamu di sini, seharusnya kau bisa bersikap ramah terhadap tamu yang datang," hardik Riana.


"Ya aku minta maaf Nyonya. Tapi ini karena kau yang terlalu ngeyel, sudah aku katakan aku tidak bisa dan aku tidak tahu tapi kau sangat memaksa," tukas resepsionis.


"Oke, kalau begitu sekarang aku pergi," ucap Riana


Entah kenapa rasanya begitu kesal karena tidak bisa menemui Pras, padahal tekadnya sudah bulat tetapi malah harus gagal karena tidak bisa menemukan CEO di perusahaan tersebut.


------


Di saat itu Riana baru saja melangkahkan kakinya keluar dari Perusahan Y, tidak sengaja ia melihat seorang pria yang tak asing baginya baru saja tiba di perusahaan tersebut.


Setelah Riana ingat-ingat lagi ia sangat yakin jika pria tersebut adalah Rangga, asisten Pras yang waktu berada di dalam ruangan dan menolong Pras saat dihajar habis-habisan oleh Steve.


"Tuan Rangga, kau Tuan Rangga 'kan?" Tanya Riana saat Rangga hendak masuk ke dalam perusahaan, sedangkan Riana menunggunya di depan pintu.


Rangga mengernyitkan dahinya melihat wanita yang saat ini ada di depannya itu, Rangga tahu betul bahwa Riana adalah istri dari mantan bosnya. Berbeda dengan Riana yang tak terlalu mengenali Rangga, karena di saat itu Rangga hanya bekerja di perusahaan suaminya itu selama 1 bulan. Sedangkan Rangga sangat tahu selain Riana adalah istri dari mantan bosnya, Riana juga wanita yang sangat dicintai oleh bosnya saat ini.


"Iya aku Rangga dan kau Nyonya Riana? Ada apa kau datang ke sini?" Tanya Rangga pula.

__ADS_1


"Iya aku Riana, kau tidak perlu memanggilku dengan sebutan Nyonya, panggil saja namaku," tukas Riana.


"Ya dan kau juga jangan memanggilku dengan sebutan Tuan, panggil saja aku Rangga," ucap Rangga meminta hal yang sama dan Riana pun mengangguk menyetujuinya.


------


Kini keduanya masuk ke dalam perusahaan dan duduk di ruang tunggu karena Riana ingin berbicara dengan Rangga serta menyampaikan apa tujuannya datang ke perusahaan Y.


"Oh jadi kau ingin bertemu dengan Tuan Pras? Sayang sekali Tuan Pras saat ini sedang berada di luar kota, dia baru saja berangkat tadi pagi karena ada urusan bisnis," terang Rangga.


"Apa jadi Pras keluar kota? Jadi bagaimana caranya aku bertemu dengan Tuan Pras? Rangga, apa aku boleh meminta kontaknya denganmu, aku mohon Rangga karena ini sangat penting," ucap Riana.


"Ada apa, kenapa sepertinya kau sangat ingin bertemu dengan Tuan Pras?" Tanya Rangga penasaran.


"Sudahlah Rangga, aku yakin kau juga pasti tahu untuk apa," tukas Riana.


"Apakah untuk menolong suamimu itu? Tapi kau tahu 'kan apa syarat Tuan Pras jika kau ingin perusahaan suamimu itu kembali normal," ujar Rangga.


"Maaf Riana, tapi aku tidak bisa memberikan kontak Tuan Pras kepada siapapun tanpa seizinnya. Tapi nanti aku akan tanyakan dulu padanya, jika dia mengizinkan maka aku akan memberikannya padamu atau Tuan Pras langsung yang akan menghubungimu nanti," ucap Rangga.


"Ya sudah kalau begitu. Terimakasih Rangga, aku sangat membutuhkan bantuanmu," ucap Riana, mengingat jika nomor Pras yang ia miliki pertama kali bahkan pria itu sendiri yang memberikannya sudah tidak aktif lagi.


"Ya sama-sama, ya sudah kalau begitu aku masih banyak pekerjaan," kata Rangga.


"Baiklah, aku juga akan pergi. Terimakasih banyak Rangga," ucap Riana lalu pergi meninggalkan perusahaan Y dengan perasaan kecewa.


*****


Ting …


Sebuah pesan WhatsApp masuk pada ponsel Steve. Sehingga Steve pun langsung saja meraih ponselnya dan melihat pesan masuk yang dikirim oleh nomor tak dikenal.

__ADS_1


Steve membuka matanya lebar-lebar dan begitu sangat marah karena si pengirim pesan mengirim beberapa foto di mana terlihat Riana yang sedang berada di Perusahaan Y. Foto saat Riana hendak masuk ke dalam perusahaan tersebut, saat sedang berbicara dengan resepsionis, bahkan di saat Riana sedang mengobrol dengan Rangga. Membuat Steve benar-benar merasa sangat emosi, sehingga ia pun langsung saja menghubungi istrinya tersebut.


"Riana, kau ada di mana?" Tanya Steve lewat telepon.


"Aku sedang berada di jalan Mas mau menjemput Alana. Memangnya kenapa?" Jawab Riana dan balik bertanya.


"Sebelumnya kau dari mana?" Tanya Steve lagi.


"Aku dari rumah. Memangnya ada apa sih Mas?" Tanya Riana yang merasa kebingungan.


"Kau jangan berbohong padaku Riana, aku tahu kau dari perusahaan pria brengsek itu 'kan. Untuk apa lagi kau datang ke sana Riana? Sudah aku katakan kau tidak perlu ikut campur masalahku ini, kenapa sih kau sama sekali tidak mendengarkanku. Untung saja kau sekarang baik-baik saja, bagaimana jika tadi Pras berbuat nekat lagi padamu. Apa kau itu sama sekali tidak kapok!" Bentak Steve dengan suara lantang, sehingga terdengar sangat melengking di telinga Riana.


Tetapi ia juga merasa terkejut kenapa Steve bisa tahu masalah ini, padahal ia sudah menyusun rencana serapi mungkin sehingga suaminya tersebut tidak mengetahui tentang rencananya, tentang keputusannya itu.


*****


"Bagus, kau benar-benar sudah bekerja dengan sangat baik dan selalu bisa aku andalkan selama ini Rangga. Saat ini aku yakin setelah melihat foto tersebut pria angkuh itu pasti akan merasa sangat marah terhadap istrinya. Aku sangat ingin melihat kehancuran rumah tangga mereka segera. Ternyata Riana juga sudah berani mencariku, apa dia sudah siap untuk menyerahkan dirinya demi suaminya itu? Dasar suami istri sama saja bodohnya, sekarang aku tidak hanya ingin mempermainkan Steve tetapi aku juga sangat ingin mempermainkan Riana karena dia sudah terang-terangan menolakku waktu itu," ucap Rangga yang ternyata tidak pergi keluar kota, hanya sengaja ingin menghindari Riana.


"Terimakasih karena Tuan selalu mempercayaiku. Aku sangat yakin pasangan suami istri itu pasti akan bertengkar hebat seperti keinginan Tuan," ucap Rangga yang ikut merasa senang karena tuannya itu merasa puas dengan pekerjaannya.


Tok … tok … tok …


Tiba-tiba saja terdengar suara ketukan pintu ruangan tersebut, yang membuat Pras dan Rangga saling bertatapan dan sama-sama merasa terkejut.


"Sapa itu? Atau jangan-jangan itu Riana yang kembali lagi ke sini," ujar Pras.


"Tapi itu tidak mungkin Tuan, karena resepsionis pasti akan langsung memberitahuku jika Riana memang berhasil masuk dan menuju ke ruangan ini," kata Rangga.


"Ya kau benar juga. Masuk!" Sehingga Pras pun mempersilahkan orang tersebut untuk masuk.


Hingga terlihat seseorang membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan tersebut, yang membuat Pras membelalakkan matanya, merasa sangat terkejut saat melihat seorang wanita yang saat ini ada di hadapannya dan menatap tajam ke arahnya.

__ADS_1


Bersambung …


__ADS_2