
Pras membuka matanya lebar-lebar dan menyadari jika saat ini ia sudah berada di sebuah ruangan yang di saat itu tampak asing baginya, tetapi ia tahu betul jika saat ini ia sedang berada di sebuah gudang kumuh dengan posisi tangan dan kakinya yang terikat di kursi, membuatnya benar-benar sangat bingung siapa yang sudah melakukan hal tersebut kepadanya. Pras memberontak, ia terus saja menghentakkan tangan dan kakinya berharap ikatan tersebut akan terlepas, tetapi semuanya nihil, sama sekali tak membuahkan hasil. Hingga di saat itu pun terlihat seseorang yang membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan tersebut.
"Brengsek! Siapa kau, apa yang kau lakukan padaku hah? Apa kau tidak tahu siapa aku sampai kau berani sekali memperlakukanku seperti ini!" Tukas Steve penuh emosi.
Lalu seseorang pria berbadan besar itu pun menghampirinya, serta mengulas senyum tipis seakan meledeknya.
"Kau sudah bangun? Sudah cukup kau mengoceh?" Ucap pria itu dengan santai.
"Ta ik! Cepat lepaskan aku dan katakan siapa yang sudah berani memperlakukanku seperti ini. Katakan siapa kau?" Bentak Pras dengan suara lantang.
"Bacot!"
Bugh …
Pria tersebut menjadi murka dan tiba-tiba saja ia langsung memukul wajah Pras dengan sangat kuat, sehingga menimbulkan luka di sudut bibirnya.
"Apakah kau pernah menyandera seseorang dengan cara keji seperti ini bahkan kau sudah membuatnya trauma?" Tanya pria itu yang membuat Pras langsung mengingat akan Riana.
"Siapa kau sebenarnya, atau siapa yang menyuruhmu. Apakah Steve?" Tanya Pras tanpa menjawab pertanyaan pria tersebut.
"Kau tidak perlu tahu siapa aku, tapi yang jelas kau akan menerima balasan dari apa yang sudah pernah kau lakukan. Bahkan kau akan menerima balasan itu dengan lebih kejam," ujar pria tersebut.
"Oh ya? Beraninya bermain curang seperti ini, dasar pengecut!" Ujar Pras.
"Kau mengatakan ini bermain curang, Lalu apa yang kau lakukan terhadap seorang wanita bahkan wanita itu sama sekali tidak berdaya hah! Seharusnya kau melindungi wanita bukan malah menyakitinya."
Bugh …
Ucap pria itu lalu memukulnya kembali, hingga terlihat wajah Pras yang sudah babak belur.
Pras merasa sangat murka dan meringis kesakitan, akan tetapi bagaimanapun Pras berupaya untuk melepaskan dirinya, ia sama sekali tak bisa terbebas dari sana. Ia bertanya tentang siapa dalang dibalik semua ini pun sama sekali tak mendapatkan jawabannya. Saat ini Pras hanya bisa menikmati hidupnya yang berada di dalam gudang bak penjara itu.
*****
Bella tampak mondar-mandir di kamarnya karena ia sama sekali tidak bisa menghubungi Pras, padahal saat ini ada hal penting yang ingin disampaikannya kepada pria tersebut.
Ting … tung …
Di saat itu pun terdengar suara bel pintu, sehingga membuatnya cepat-cepat untuk melihat siapa yang datang dan sangat berharap jika itu adalah suaminya yang sedari ditunggunya. Karena sudah 2 hari Pras menghilang, tidak ada kabar dan juga tidak pulang. Akan tetapi pada kenyataannya yang datang adalah Rangga, asisten Pras. Rangga juga sudah mengetahui tentang hubungan mereka, sehingga tak membuat Bella pun merasa canggung.
"Maaf Nyonya jika aku mengganggu. Tapi aku datang ke sini karena ingin menemui Tuan Pras, sudah 2 hari Tuan Pras tidak datang ke kantor, tidak bisa dihubungi dan juga tidak memberi kabar sama sekali. Padahal ada hal penting yang ingin aku sampaikan dan ini masalah perusahaan," ucap Rangga.
"Lebih baik kau masuk saja dulu," ucap Bella, sehingga Rangga pun langsung saja masuk ke dalam rumahnya itu.
__ADS_1
"Di mana Tuan Pras Nyonya? Kenapa beliau tidak datang ke kantor selama 2 hari dan tidak mengabariku?" Tanya Rangga.
"Sebenarnya aku juga tidak tahu Pras ke mana. Karena memang sudah 2 hari dia juga tidak kembali ke rumah dan tidak mengabariku sama sekali, bahkan aku telepon juga tidak diangkat dan sekarang nomornya tidak aktif. Sama sepertimu, saat ini aku juga mempunyai berita yang sangat penting dan ingin aku sampaikan padanya," ucap Bella, membuat Rangga pun merasa kebingungan.
"Di mana ya kira-kira Tuan Pras berada? Tidak biasanya dia seperti ini. Jika pun ada keperluan pasti dia akan mengabariku karena aku yang menangani perusahaannya," ucap Rangga.
"Entahlah, atau mungkin terjadi sesuatu dengan Pras?" Ujar Bella.
"Kau benar nyonya, bisa saja memang sedang terjadi sesuatu dengan Tuan Pras. Atau mungkin Tuan Pras ditangkap karena sudah terbukti jika beliau yang sudah menculik Nyonya Riana," ujar Rangga.
"Tapi kau tahu 'kan siapa Pras? Dia itu sangat kejam dan bisa melakukan apapun yang dia inginkan. Lalu bagaimana bisa ada orang yang menjahatinya," ucap Bella.
"Berarti orang tersebut lebih kejam, sekelas mafia Nyonya," ucap Rangga.
"Ya, bisa juga. Tapi siapa dia dan apa alasannya." Bella benar-benar dibuat kebingungan.
Ting …
Terdengar sebuah pesan WhatsApp masuk, sehingga langsung saja Bella membukanya dan ternyata pesan tersebut dikirim dari nomor Pras.
"Pras mengirimiku pesan," ucap Bella.
"Ayo buka pesannya Nyonya dan tanyakan di mana keberadaannya Tuan Pras sekarang," ucap Rangga begitu antusias.
"Saat ini suamimu ini sudah menjadi tawananku, hanya tinggal menunggu giliranmu saja."
Seketika membuat tubuh Bella menjadi bergetar, ia merasa ketakutan dan langsung mencampakkan ponselnya begitu saja di atas sofa setelah membaca pesan tersebut.
"Nyonya, Nyonya kenapa?" Tanya Rangga kebingungan.
Karena sama sekali tak ada jawaban dari Bella, membuat Rangga yang penasaran itu pun langsung meraih ponsel Bella dan melihatnya. Sama halnya dengan Bella, ia juga merasa terkejut karena ternyata seperti dugaan mereka bahwa benar-benar ada orang yang saat ini telah mencelakai Pras. Membuat keduanya bingung, siapa yang sudah berani melakukan hal tersebut kepada Pras, pria yang terkenal sangat kejam itu.
*****
Seminggu pun telah berlalu, kondisi Riana dan Steve sudah mulai membaik. Keduanya sudah diperbolehkan pulang ke rumah dan selama itu pula Adelia tetap berada di Indonesia untuk menemani anaknya. Tak peduli jika suaminya sudah beberapa kali menghubunginya dan memintanya untuk pulang, ia masih tetap ingin bersama Riana dan memastikan jika kondisi anaknya sudah baik-baik saja. Adelia juga tinggal di rumah Steve dan Riana untuk menjaga anaknya tersebut dan memastikan jika tidak ada yang berani menyakitinya, termasuk ibu mertuanya sendiri.
"Saat ini Anak Anda sudah sembuh, kenapa Anda tidak kembali saja ke luar negeri. Atau sudah keenakan ya tinggal gratis di sini," cibir Laras yang saat ini juga berada di kediaman anaknya itu.
"Jangan asal bicara ya Anda, saya tidak kekurangan uang sehingga mencari tumpangan gratis. Lagipula memangnya kenapa, apa urusannya dengan Anda? Saya berada di sini karena Anak saya, jadi saya rasa Anda tidak perlu ikut campur," tukas Adelia ketus.
"Tapi ini adalah rumah Anak saya, jadi seharusnya Anda tidak terus berada di sini," ujar Laras.
"Mi, sudahlah Mi. Kenapa sih Mami selalu saja bersikap seperti itu terhadap ibu mertuaku. Bagaimanapun juga Mami Adelia ini adalah ibu kandungnya Riana dan itu berarti dia adalah Ibuku juga, besan Mami. Apa tidak bisa Mami bersikap baik terhadap Riana dan ibunya? Sekarang aku sudah sembuh dan itu semua juga karena Riana Mi," ucap Steve.
__ADS_1
"Dan kau juga bisa celaka karena wanita ini. Jangan pernah melupakan hal itu Steve," tukas Laras.
"Jaga ucapan Anda, sudah saya katakan berkali-kali jangan pernah menyalahkan Anak saya," ucap Adelia tak terima.
"Mam, sudah Mam. Stop! Kalau Mami masih saja bersikap seperti itu, lebih baik Mami pulang saja deh ke Jerman, aku tidak perlu dijaga Mami di sini," ucap Riana sehingga membuat Adelia terdiam.
Bagaimanapun juga ia tidak bisa melawan ucapan Riana, karena ia memang sudah membuat kesalahan terhadap anaknya itu.
------
Pelayan yang baru saja selesai memasak menu makan siang, langsung menatanya di atas meja dan memberitahu kepada pemilik rumah. Sehingga segera saja mereka menikmati makan siang bersama termasuk juga Alana yang sedari tadi bermain di kamar bersama dengan Bi Susi.
"Mami, Mami janjikan sehabis makan siang ini Mami akan pulang," tukas Steve di sela-sela makan mereka, sehingga membuat Laras pun menghentikan aktivitasnya tersebut.
"Maksudmu apa berbicara seperti itu? Kau mengusir Mami? Kau tidak suka Mami ada di sini?" Tanya Laras.
"Bukan seperti itu maksudku Mi, tapi 'kan Mami sendiri tadi yang mengatakan ingin pulang. Aku dan Riana ingin beristirahat, jika Mami terus berada di sini pasti Mami akan selalu mengajak Mami Adelia bertengkar dan itu terdengar sangat berisik," ujar Steve.
"Sudahlah Laras, lebih baik saat ini Anda pulang saja. Sudah jelas Anak Anda tidak menyukai keberadaan Anda di sini, tapi Anda tetap saja memaksa berada di sini," cibir Adelia.
"Mam, jangan ikut memanasi keadaan," pinta Riana.
"Riana, kenapa sih kau itu selalu saja membela mertua tidak tahu diri ini. Sementara dia sama sekali tidak pernah menghargaimu, sama sekali tidak pernah menganggapmu ada," tukas Adelia yang tak habis pikir dengan anaknya itu.
"Mam, bagaimanapun juga Mami laras adalah Ibunya Mas Steve, ibu mertua aku," ucap Riana.
"Sudah, sudah, tidak usah sok bersandiwara membelaku kau Riana. Dan kau Steve, kau akan menyesal karena sudah mengusir Mamimu sendiri dari sini dan lebih memilih wanita ini," ucap Laras yang langsung saja beranjak dari tempat duduknya dan melangkahkan kaki untuk pergi.
"Oma … Oma mau ke mana?" Tanya Alana.
"Mami … siapkan dulu makannya Mi!" Teriak Riana pula.
"Sudahlah Alana, Riana, biarkan saja. Lebih baik Mami tidak ada di sini daripada terus membuat keributan," ujar Steve.
"Mas, kasihan Mami Mas. Kau tidak boleh bersikap seperti itu terhadap Mamimu sendiri," ucap Riana yang mengejar ibu mertuanya itu dan diikuti juga oleh Adelia, Steve dan Alana.
Mereka dapat melihat dengan jelas jika di saat itu Laras hendak menyeberang jalan dan mencari taksi, akan tetapi ia tidak melihat ada sebuah mobil yang melaju kencang ke arahnya.
"Mami … awas … !" Teriak Riana, yang membuat Steve, Adelia dan Alana juga ikut merasa sangat panik.
"Mami … awas … !" Steve berlari hendak menghampiri ibunya sembari berteriak.
"Akh … !" Teriak Laras saat melihat mobil tersebut semakin mendekatinya.
__ADS_1
Bersambung …