Istri Tak Diakui

Istri Tak Diakui
Menemukan Pras.


__ADS_3

Tubuh Riana seakan bergetar karena ia benar-benar mengira jika seorang pria yang tadi telah difotonya saat ini sedang berjalan mendekatinya. Akan tetapi pada kenyataannya pria tersebut hanya mengambil sesuatu yang tercecer di tepi jalan, sehingga membuat Riana pun tampak bernapas lega.


"Nyonya, saya sudah selesai mengganti ban. Kita sudah bisa melanjutkan perjalanan," ucap supir.


"Oh iya Pak," jawab Riana yang langsung saja beranjak dan masuk ke dalam mobil.


Lalu sang supir pun segera saja melajukan mobil kembali menuju ke rumah sakit.


*****


Leo yang diminta oleh Steve untuk menyelidiki pasien yang mencurigakan di rumah sakit, saat ini pun ia sudah berada di sana dan terlihat bersembunyi sembari memperhatikan penjaga di depan ruangan tersebut. Leo mencari celah bagaimana caranya supaya ia bisa masuk ke dalam sana tanpa diketahui oleh penjaga tersebut.


Hingga di saat itu pun terlihat penjaga tersebut seperti resah karena menahan sesuatu.


"Duh kenapa rasanya sudah tidak bisa ditahan lagi. Mungkin tidak apa-apa jika aku pergi ke toilet sebentar. Lagipula kondisi pria tersebut masih lemah, jadi tidak mungkin dia bisa melarikan diri," gumam penjaga, lalu ia pun segera saja pergi.


Hal itu dijadikan kesempatan oleh Leo dengan mengendap-ngendap masuk ke dalam ruangan yang diyakini adalah kamar pasien seorang tawanan.


Pras yang sebenarnya sedari tadi sudah bangun itu pun berpura-pura tidur karena ia sangat yakin jika yang masuk tersebut adalah penjaga dan saat ini ia sudah sangat siap dengan rencana berikutnya untuk melarikan diri.


"Pras? Kau benar-benar Pras?" Tukas Leo, sehingga membuat Pras pun membuka matanya dan terkejut melihat seseorang yang dikenalnya.


"Leo, kenapa kau bisa ada di sini?" Tanya Pras.


"Sudahlah kau tidak usah banyak bertanya, lebih baik sekarang kau ikut aku keluar dari sini, bukankah kau ingin kabur dari sini?" Ujar Leo.


"Ck, apa kau yakin? Pasti ini hanya akal-akalanmu saja 'kan, karena kau adalah bos dari para preman itu. Aku sudah menduganya pasti kau dan Steve 'kan yang sudah sekongkol untuk menangkapku karena waktu itu aku telah menculik Riana," ucap Pras yang tanpa sadar telah mengakuinya.


"Ternyata kau mengakuinya juga. Tapi sayangnya aku datang ke sini bukan untuk itu, kau pasti akan mendapatkan balasan atas apa yang telah kau lakukan terhadap Riana, tapi bukan sekarang. Karena aku tahu jika saat ini kau sedang menjadi tawanan seseorang yang menyebabkan semua kekacauan ini," kata Leo.


"Maksudmu apa?" Tanya Pras.


"Sudahlah Pras, bagaimanapun juga kita pernah bersahabat. Jika kau percaya padaku sekarang kau ikut aku, jika tidak mau ya sudah aku akan membiarkanmu tetap berada di sini," kata Leo yang membalikkan tubuhnya dan hendak pergi.


"Tunggu! Panggil Pras.


Sehingga Leo membalikkan tubuhnya kembali dan mendekati sahabatnya itu dan melihat Pras mengangguk, pertanda setuju untuk keluar bersama dengannya.

__ADS_1


Karena sudah tidak mempunyai banyak waktu lagi sebelum penjaga tersebut kembali, Leo pun segera membantu Pras turun dari brankar, lalu Pras juga menutupi bantal dengan selimut untuk mengelabui penjaga, agar disaat penjaga melihat dari luar sekilas terlihat Pras lah yang sedang tertidur di sana.


Leo membantu memapah tubuh Pras dan segera membawanya keluar dari ruangan tersebut secara perlahan. Tepat di saat mereka baru saja keluar dari sana, di saat itu pula dari kejauhan Leo melihat jelas jika penjaga sedang melangkahkan kakinya akan kembali ke ruang rawat inap, sehingga dengan cepat Leo pun membawa Pras untuk bersembunyi di balik dinding.


"Sepertinya Leo memang bukan dalang dibalik semua ini, buktinya dia melindungiku saat ini," batin Pras.


Setelah semua dirasa cukup aman, Leo pun kembali membawa Pras hingga mereka berhasil meninggalkan rumah sakit.


*****


"Baik Tuan, terima kasih banyak atas bantuan Anda," ucap Steve kepada klien yang baru saja menanamkan modal di perusahaannya.


"Sama-sama Tuan Steve. Tidak perlu sungkan, karena bagaimanapun juga saya merupakan klien lama Ayah Tuan Steve, jadi saya sangat percaya dengan perusahaan ini. Bahkan di saat saya dulu terpuruk, perusahaan Tuan Ayah Steve lah yang menolong saya, saya sangat percaya jika Tuan pasti akan berhasil. Anda pasti bisa memajukan perusahaan ini lagi," ujar klien tersebut, yang membuat Steve begitu terharu dan merasa sangat bersyukur.


"Ya mudah-mudah saja Tuan. Sekali lagi saya mengucapkan terima kasih banyak karena sudah mempercayakan perusahaan saya. Saya juga yakin jika dengan kerja sama ini akan bisa membangkitkan perusahaan X kembali," ucap Steve.


"Ya saya percaya dan saya sangat menyukai semangat anak muda seperti Tuan Steve," ucap klien tersebut.


Lalu keduanya pun berjabat tangan dan Steve pergi meninggalkan perusahaan tersebut.


------


'Halo, ada apa?" Tanya Steve ketus.


"Kau ini dari mana saja, dari tadi aku menelponmu dan kau baru menjawabnya sekarang," ucap Leo dari seberang telepon.


"Sudahlah, kau tidak usah berisik. Aku baru saja selesai meeting. Cepat katakan ada apa," tukas Steve.


Ya keduanya masih saja selalu bersikap seperti Tom And Jerry, meskipun sudah berbaikan dan saling bekerja sama.


"Aku ada kabar penting," ucap Leo yang langsung saja mengalihkan panggilan WhatsApp tersebut ke panggilan video.


Steve yang merasa kebingungan itu pun segera saja menjawabnya dan betapa terkejutnya Steve karena melihat Leo sudah berhasil membawa Pras. Sehingga ia pun memberhentikan mobilnya di tepi jalan, untuk memastikan apa yang dilihatnya tidak salah.


"Kau? Kenapa kau bisa bersama ba ji ngan itu. Atau jangan-jangan benar dia adalah pasien yang berada di ruang rawat inap yang mencurigakan," ujar Steve.


"Ya kau benar, tapi aku yakin jika di sini Pras juga menjadi korban, dia bukanlah dalang dibalik kecelakaan ibumu," ujar Leo.

__ADS_1


"Maksudmu apa? Sudah jelas dia adalah orangnya. Mungkin saja dia hanya terkena sial makanya bisa sampai menjadi tawanan juga," ujar Steve.


"Aku tahu siapa Pras, tadi dia sudah mengatakannya padaku dan aku tahu jika dia jujur. Saat ini kondisi Pras masih sangat lemah karena memang kondisinya belum membaik, jadi aku akan memindahkannya ke rumah sakit lain. Aku akan mengirimkan alamatnya padamu dan kau bisa datang ke sana langsung," ucap Leo.


"Oke, aku tunggu sekarang juga," ucap Steve mengakhiri telepon tersebut.


Meskipun masih banyak pertanyaan di dalam hati Steve dan bingung dengan apa yang terjadi saat ini. Tetapi ia pun berusaha untuk bersikap sabar dan tidak gegabah seperti pesan Riana. Di saat itu pula Steve membaca pesan dari istrinya yang mengirimkan sebuah foto, sehingga saat itu juga ia menghubungi Derry, menceritakan semuanya dan meminta tolong kepada ayah mertuanya itu.


*****


Sementara itu, Riana yang baru saja tiba di rumah sakit melihat kehebohan yang terjadi di depan ruang rawat inap yang ada penjaganya tersebut. Pasalnya pasien yang berada di dalam kamar tersebut dinyatakan hilang di saat suster hendak memeriksa keadaannya, membuat suster pun kebingungan dan memerintahkan bagian keamanan untuk mencari di area sekitar rumah sakit. Apalagi setelah mendapatkan tekanan dari penjaga yang sangat resah, bahwa pasien tersebut harus ketemu.


Akan tetapi bukan itu yang diresahkan oleh penjaga, melainkan pasien tersebut merupakan tawanan dan ia sangat takut jika bos-nya itu akan memarahinya, seperti yang ia ucapkan lewat telepon saat menghubungi seseorang.


"Riana, kenapa kau ada di sini?" Tanya Lily yang mengejutkan Riana.


"Ma, lebih baik sekarang kita masuk saja," ucap Riana yang langsung menarik tangan ibu angkatnya tersebut mengajaknya masuk ke dalam ruang rawat inap Laras yang memang jaraknya hanya tiga kamar saja dengan ruang rawat inap yang dijaga tersebut.


"Ada apa Riana, lalu kau dari mana? Bukannya kau mengatakan akan ke sini tadi pagi?" Tanya Lily.


"Oh iya, tadi pagi aku ada urusan mendadak Ma. Tapi makanan untuk Mami sudah aku kirim lewat Go-Jek dan sudah sampai ke sini," terang Riana.


"Ya sudah ayo kita masuk," ajak Lily, lalu keduanya pun masuk ke dalam ruang rawat inap Laras.


"Riana, kau sudah datang kau datang? Kau bersama tante Lily?" Tanya Sonia.


"Iya Kak, tadi kami ketemu di depan. Makanannya sudah sampai kan Kak?" Tanya Riana pula.


"Iya Riana, Kakak sudah menerimanya kok. Terima kasih banyak ya," ucap Sonia


"Iya Kak sama-sama. Maaf ya tadi pagi aku tidak bisa mengantarnya langsung karena ada temanku yang menelpon, jadi aku menemui temanku sebentar," ucap Riana.


"Alah bilang saja kau pasti menemui pria lain 'kan? Lagipula makananmu itu sama sekali tidak enak, aku tidak menyukainya. Lain kali kau tidak perlu lagi memasak untukku," ucap Laras, sehingga membuat Lily pun merasa emosi dan mendekati wanita tersebut.


"Maaf Jeng Laras, aku pikir dengan keadaanmu yang lumpuh seperti ini kau akan berubah menjadi baik. Tapi pada kenyataannya kau tetap saja nyinyir dan kau tetap menyalahkan Riana, padahal Riana sudah sangat baik dan ikhlas untuk merawatmu," ucap Lily yang membuat Riana maupun Sonia merasa sangat terkejut.


Karena Lily yang biasanya bersikap sabar, tetapi kali ini ia terlihat begitu emosi menghadapi sikap Laras, sudah tak peduli lagi jika wanita tersebut sedang sakit atau memakluminya.

__ADS_1


Bersambung …


__ADS_2