
Di saat Steve, Derry, Leo dan Bella sedang merasa bingung karena ucapan pria misterius itu, tiba-tiba saja ada seorang preman yang datang membawa Adelia masuk ke dalam ruangan tersebut dengan kondisinya tidak sadarkan diri. Karena saat di dalam mobil Adelia terus saja memberontak, sehingga preman itu pun menutup mulutnya dengan sapu tangan yang sudah diberi obat bius dan menyebabkannya pingsan.
"Bos, ini target yang Anda minta," ucap preman kepada pria misterius.
"Bagus, ternyata kau juga langsung berhasil membawanya ke sini. Kurung dia di dalam gudang sekarang!" Titah pria misterius tersebut.
"Jangan bawa ibu mertuaku! Apa kau pikir kami berada di sini ingin menyerahkan diri, sama sekali tidak bang sat! Justru kami berada di sini ingin menyelamatkan orang-orang yang sudah kau sekap serta membasmi kalian semua karena sudah berani bermain-main dengan keluargaku," kata Steve yang menatap tajam.
"Oh ya? Sayangnya itu tidak akan pernah terjadi. Misi penyelamatan kalian sama sekali tidak akan berhasil karena kalian juga akan berada di tempat ini sampai waktu yang tidak bisa ditentukan," ucap pria misterius tersebut.
Steve mengepal erat kedua tangannya, ia merasa sangat murka dan rasanya sudah tak sabar lagi ingin menghajar orang-orang yang berada di depannya saat ini.
"Sudahlah Steve, sekarang Papa sama sekali sudah tidak berdaya. Papa tidak bisa melawan mereka," ucap Derry lirih. Ia bisa merasakan tubuh Steve yang bergetar menahan emosi karena saat ini Steve masih memapah tubuhnya.
"Pa, Papa tenang saja ya. Papa tunggu di sini dulu, biar aku Leo dan anak buah Leo yang akan menghadapinya," ucap Steve sembari mendudukkan Derry bersandar di dinding.
"Bella, kau harus menjaga Om Derry di sini," kata Leo dan ditanggapi anggukan kepala oleh Bella.
Setelah itu pun Leo dan Steve beserta anak buahnya langsung saja menghadapi banyaknya para preman di sana. Sedangkan pria misterius terlihat membawa Adelia ke suatu tempat, tetapi bukan gudang tempat di mana Derry dan Bella disekap sebelumnya.
Steve ingin mengejar dan menyelamatkan ibu mertuanya itu, akan tetapi banyaknya para preman yang menghalanginya membuat Steve pun tidak mampu.
Selain pria misterius yang telah berhasil membawa Adelia, beberapa preman yang merupakan anak buahnya juga berhasil membawa Derry dan Bella masuk kembali ke dalam gudang dan menyekap mereka di sana. Hanya tinggal Leo dan Steve beserta anak buahnya yang di saat itu sudah terlihat sangat lemah. Bahkan ada di antara anak buah Leo yang tertusuk pisau hingga tewas.
Meskipun demikian, dari mereka yang tersisa sama sekali tidak ada yang menyerah. Baik Leo maupun Steve sama-sama brutal saat menghadapi para musuh, mengerahkan seluruh tenaga mereka agar bisa menang menghadapi para preman. Hingga di saat itu pun ada seseorang yang memukul pundak Steve dari belakang, sehingga ia jatuh tersungkur. Leo sendiri juga tak dapat melakukan apapun lagi di saat 2 preman memegangi tangannya dan 1 preman memukuli perutnya hingga ia benar-benar lemah tak berdaya.
Saat ini Steve dan yang lainnya pun sudah berada di dalam gudang sebagai tawanan, dengan kondisi mereka yang diikat satu sama lainnya.
------
Sementara itu, pria misterius yang di saat itu menggendong Adelia sudah berada di dalam sebuah kamar. Lalu ia pun meletakkan tubuh Adelia secara perlahan, hingga di saat itu terlihat Adelia membuka matanya.
"Akh … !" Teriak Adelia yang langsung saja terduduk dan terlihat ketakutan. "Siapa kau? Kenapa kau membawaku ke sini, apa yang mau kau lakukan padaku?"
Pria misterius itu membuka masker dan topinya, "Tenanglah Sayang, aku adalah pria yang masih sangat mencintaimu. Kau ingat aku 'kan?" Pria tersebut mengulas senyum tipis.
__ADS_1
"Kau? Jadi ternyata memang kau dalang di balik ini semua. Apa maumu hah!" Bentak Adelia yang menatap tajam, rasa takutnya kini berubah menjadi rasa kebencian yang amat mendalam.
"Hust … jangan berteriak seperti itu, aku tidak budek. Kau masih bertanya, sudah jelas aku ingin membalas dendam karena kau telah menyakiti Riana. Bukan hanya kau saja tetapi semua orang yang telah menyakitinya sudah berada ditanganku saat ini, hanya tersisa 1 orang saja yaitu ibu angkat Riana yang saat ini sedang bersama Anak kita. Tetapi cepat atau lambat aku juga pasti akan membawanya ke sini juga, ha … ha … ha … ," ucap Carlos diakhiri dengan tawanya yang menggelegar dan terdengar sangat mengerikan.
"Apa maksudmu berbicara seperti itu? Kenapa kau menganggap jika mereka semua menyakiti Riana? Tidak ada yang menyakiti Riana," tukas Adelia.
"Tidak ada bagaimana, jangan kau pikir karena aku berada di luar negeri aku tidak mengetahui apa yang terjadi di sini. Anak kita selama ini menderita, kau tidak peduli padanya dan lebih memilih suamimu daripada Anakmu sendiri, iya 'kan?" Tukas Carlos yang mencengkram dagu Adelia dengan erat, membuat mantan istrinya itu kesakitan tetapi sama sekali tak menunjukkannya.
"Pria ba ji ngan, ternyata terpisah denganmu adalah keputusan yang sangat tepat," ucap Adelia yang membuat Carlos semakin murka, lalu melepaskan cengkeramannya tersebut dengan sangat kasar.
"Wanita biadab, lihat saja kau akan selamanya berada di sini dan aku pastikan kau akan tersiksa di sini seperti yang lainnya, kau mengerti!" Bentak Carlos dengan sangat murka.
*****
"Ma, kita harus mencari Mami ke mana sekarang? Mas Steve dan Kak Leo juga tidak ada yang menjawab telepon aku Ma. Aku jadi semakin khawatir Ma," ucap Riana saat mereka sedang berada di dalam perjalanan.
"Kau harus tenang Riana. Mama sendiri tidak tahu di mana keberadaan mereka dan bagaimana keadaan mereka sekarang. Tetapi Mama berharap jika mereka semua akan baik-baik saja.
Di dalam kepanikannya, tiba-tiba saja Riana mengingat sesuatu dan yang pasti hal ini akan membantunya untuk menemukan keberadaan Steve dan juga yang lainnya.
"Ma aku baru ingat kalau ponsel aku terhubung dengan ponselnya Mas Steve, mungkin saat ini aku bisa melacaknya dari GPS itu," ucap Riana yang memang baru mengingat hal itu. Mungkin karena ia terlalu panik sampai melupakan hal yang paling penting.
"Iya Ma," jawab Riana yang langsung saja memeriksa ponselnya.
Untungnya saat ini ponsel Steve juga aktif, sehingga ia pun bisa melacaknya suaminya itu hingga kini mereka tiba di depan gudang tua tersebut.
"Ma, aku yakin pasti ini tempatnya," ucap Riana.
"Iya Ri, Mama juga yakin. Kau lihat itu, bukankah itu mobil suamimu dalam itu adalah mobil Papamu Riana," tukas Lily.
"Aku harus masuk sekarang dan menyelamatkan mereka Ma," ucap Riana yang hendak turun dari mobil.
"Memangnya apa yang bisa kau lakukan seorang diri Riana? Lebih baik kita tunggu polisi datang dulu, baru kita akan ikut masuk ke dalam sana," ucap Lily yang membuat Riana pun terdiam.
------
__ADS_1
Tidak lama kemudian terdengar suara sirine mobil polisi yang sudah tiba di lokasi. Beberapa penjaga di luar maupun di dalam gudang tersebut merasa terkejut dan langsung melapor kepada bos mereka.
"Aku juga mendengarnya. Brengsek! Siapa yang sudah berani melaporkan ke polisi, cepat cari tahu, geledah orang-orang tersebut!" Titah Carlos.
Sehingga beberapa preman tersebut pun masuk ke dalam gudang kumuh dan mencari setiap ponsel yang berada di dalam saku mereka serta mengambilnya, tetapi tidak menemukan ada yang menghubungi polisi.
Tiba-tiba Steve teringat jika ponselnya dan Riana saling terhubung dan ia sangat yakin jika istrinya itulah yang sudah melapor ke polisi, membuat Steve merasa khawatir terhadap kondisinya saat ini. Sudah pasti Riana dan Lily juga sudah berada di depan gudang bersama polisi.
Lalu polisi pun segera saja turun dan mengepung gudang tersebut. Sebelum polisi masuk ke dalam gudang, sudah terlihat Carlos yang keluar dari dalam sana dengan membawa seluruh tawanan, termasuk juga Adelia yang berada ditangannya.
"Mas, Mami, Papa, Kak Leo, Bella, jadi kalian semua ada di sini?" Ucap Riana yang terlihat begitu cemas dan ingin langsung mendekati mereka tetapi dicegah oleh salah satu polisi.
"Sabar Nyonya, di sana sangat berbahaya," ucap polisi.
"Papa," ucap Lily yang kini saling bertatapan dengan Derry.
Lily menangis melihat kondisi suaminya yang terlihat begitu lemah tak berdaya, tetapi berusaha untuk tersenyum kepadanya.
"Jangan ada yang mendekat apalagi sampai menembakkan senjata, karena aku pastikan seluruh tawanan ini akan mati di tanganku," ucap Carlos yang menyodorkan pistol tepat di kepala Adelia. Sedangkan preman lain menyodorkan pisau di samping leher tawanannya masing-masing.
"Siapa kau? Kenapa kau tega sekali menyakiti orang-orang yang aku sayangi. Apa maksudmu melakukan semua ini?" Tanya Riana diiringi tangisannya.
Riana memang tidak mengingat wajah Ayah kandungnya karena di saat orang tuanya berpisah itu ia masih kecil. Hingga ibunya tersebut pun menikah lagi di saat Riana sudah tamat SMA dan bisa hidup mandiri.
"Jangan menangisi orang-orang yang tidak penting ini Anakku. Ayah melakukan ini semua untuk melindungimu, Ayah ingin membalas dendam atas apa yang sudah dilakukan orang-orang ini untuk menyakitimu. Hanya tinggal 1 orang saja yang berada di sampingmu itu," kata Carlos yang menunjuk ke arah Lily dan membuat Lily pun merasa terkejut.
"Apa maksudmu? Kenapa kau ingin membalas dendam kepada mereka? Ayah, anak, itu apa lagi, aku saja tidak mengenalmu," tukas Riana.
"Riana, lebih baik kau pergi saja dari sini. Bawa Mamamu pergi juga," ucap Adelia.
"Apa kau tidak ingin memberitahu Anak kita siapa aku sebenarnya," ucap Carlos sehingga membuat Riana pun mendengarnya.
"Mam siapa dia? Kenapa orang ini melakukan semua ini, kenapa dia begitu jahat?" Tanya Riana.
"Aku adalah ayahmu Riana. Ayah tahu selama ini hidupmu tersiksa karena orang-orang ini 'kan? Untuk itulah Ayah pulang ke Indonesia hanya untuk membantumu," ucap Carlos yang langsung saja menceritakan bahwa ia memang kembali ingin membalas dendam untuk anaknya.
__ADS_1
"Tidak … ini tidak mungkin. Kau bukan Ayahku!" Tolak Riana yang tak mempercayainya dan menganggap jika semua ini hanyalah mimpi.
Bersambung …