
Wanita itu masih diam mematung tak mempercayai apa yang terjadi saat ini. Untuk pertama kalinya ia mendapatkan pelukan dari seorang suami yang selama ini diinginkannya. Bayangkan saja, 1 tahun bukanlah waktu yang sebentar, yang sangat Riana inginkan untuk mendapatkan pelukan tersebut. Dan kali ini ia dapat merasakan jika Steve benar-benar tulus melakukan hal tersebut.
Hingga pada akhirnya dengan pelan tapi pasti Riana mengangkat kedua tangannya lalu membalas pelukan tersebut dan juga menyandarkan kepalanya pada dada bidang milik sang suami. Karena mendapat balasan dari Riana, membuat Steve begitu sangat senang dan semakin erat memeluk Riana seakan tak ingin melepaskannya. Tanpa Riana sadari, ternyata di saat itu mata Steve tampak berkaca-kaca seperti sedang menahan kesedihan yang amat mendalam.
"Mas, kau kenapa?" Tanya Riana, hendak melepaskan pelukannya tetapi ditarik kembali oleh Steve.
"Aku mohon, izinkan aku untuk memelukmu sebentar lagi Riana," pinta Steve.
Riana terdiam, ia pun membiarkan Steve memeluknya hingga pria itu melepaskannya terlebih dulu.
"Kau kenapa Mas? Apa yang telah terjadi sampai kau bisa seperti ini?" Riana mengulangi pertanyaannya, meminta penjelasan seraya menatap mata suaminya yang terlihat begitu teduh dan jika dilihat sedekat ini, pria yang ada di hadapannya benar-benar pria yang sangat sempurna dengan memiliki hidung mancung, pipi yang mulus, matanya yang bulat membuat Riana benar-benar beruntung memiliki suami seperti Steve. Seandainya saja Steve benar-benar bisa menganggapnya sebagai istri seutuhnya, sudah pasti Riana akan menjadi wanita yang paling berbahagia di dunia.
Steve menggenggam erat kedua tangan Riana lalu menatapnya dengan sendu, "Riana aku benar-benar minta maaf, aku telah banyak membuat kesalahan denganmu padahal selama 1 tahun ini kau sudah berusaha untuk menjadi istri yang baik untukku. Aku sadar bahwa aku telah kehilangan sosok seorang istri di saat kau mendiamiku beberapa hari ini, disaat kau tidak menggubrisku dan disaat kau tidak melayaniku. Mungkin mulut ini bisa berbohong, aku selalu menolak apapun yang kau lakukan, aku tidak menerimanya, aku menentangnya bahkan aku memintamu untuk tidak melakukan itu semua. Tetapi pada kenyataannya dalam hati kecil ini sangat membutuhkanmu Riana, kau tidak melakukannya aku merindukannya, aku merasa ada sesuatu sosok yang hilang dalam hidupku dan aku sadar jika dia saat ini aku sudah hidup ketergantungan denganmu, aku membutuhkanmu dan aku sudah mulai mencintaimu. Meskipun rasa itu baru secuil tapi aku yakin jika dipupuk semakin lama perasaan itu akan semakin tumbuh."
"Mas, apa kau yakin dengan kata-katamu itu? Kau tidak sedang mengerjaiku kan Mas?" Tanya Riana masih saja tak bisa mempercayai meskipun Steve sudah mengungkapkan isi hatinya dengan tulus. Steve yang merasa sangat lama tidak menyatakan cinta setelah dulu menyatakan cinta untuk mendiang istrinya.
"Aku serius Riana, aku tidak pernah bermain-main dengan ucapanku. Untuk itu tolong maafkan aku, berikan aku kesempatan untuk merubah semuanya. Kita mulai dari awal itupun jika kau juga mencintaiku," kata Steve. Meskipun tanpa mengucap kata Steve tahu jika Riana mencintainya tetapi ia ingin mendengar secara langsung keluar dari mulut istrinya.
"Aku juga mencintaimu Mas, Bahkan jauh sebelum kau mencintaiku. Sejak awal kita menikah aku sudah berusaha untuk menjadi istri yang baik untukmu dan di saat itulah perasaan cinta ini tumbuh dan berharap jika suatu saat nanti kau juga bisa mencintaiku," ungkap Riana.
"Syukurlah jika memang seperti itu, aku minta maaf karena terlambat menyadarinya. Jadi apa kau mau memaafkan dan memberikanku kesempatan?" Tanya Steve yang ingin segera mendapatkan jawaban itu.
"Tentu saja Mas aku mau. Aku akan memberimu kesempatan dan aku mau memulai semuanya dari awal." Riana menjawabnya dengan sangat yakin.
__ADS_1
Steve merasa sangat senang, lalu ia pun melampiaskannya dengan menyambar bibir Riana serta melum*tnya dengan lembut untuk pertama kalinya. Meskipun Riana merasa terkejut tetapi ia juga merasa sangat senang karena suaminya itu akhirnya mau menyentuh dirinya, sehingga ia juga membalas cium*n tersebut, tak peduli jika di saat ini mereka sedang berada di tempat umum.
"Ya ampun … pacaran tidak bisa mencari tempat lain ya, kenapa harus bercium*n di tempat seperti ini."
"Iya tuh, kalau mau pacaran modal dong atau jangan siang-siang seperti ini lah."
"Iya, tidak tahu malu banget. Cari tempat lain yang tertutup memangnya tidak bisa? padahal gayanya orang-orang berkelas."
Terdengar suara beberapa orang yang menyindir keduanya, tetapi Steve dan Riana tak memperdulikan omongan orang-orang tersebut. Mereka melepaskan cium*n dan hanya tersenyum saja. Lalu mereka pun bergandengan tangan hingga masuk ke dalam mobil dan menuju pulang ke rumah.
*****
Sejak berbaikan dengan Steve beberapa hari yang lalu, membuat Riana pun tampak menjadi bersemangat kembali untuk menjalani hari-harinya dengan melayani suaminya dan mengurus rumah tangga seperti sedia kala. Bahkan keduanya juga sudah melakukan hubungan suami istri untuk pertama kalinya, karena keesokan harinya Riana sudah kedatangan tamu bulanannya. Akan tetapi sudah membuat Riana begitu bahagia karena baginya ia telah menjadi istri seutuhnya. Steve yang biasanya selalu sibuk di perusahaan, saat ini selalu berusaha untuk cepat selesai mengerjakan pekerjaannya agar bisa meluangkan waktu berkumpul atau sekedar menikmati makan malam bersama keluarganya.
Kebahagiaan yang dirasakan oleh pasangan suami istri ini tentu saja dirasakan oleh anak mereka, Alana. Alana merasa ikut bahagia karena tidak lagi mendengar ayahnya yang memarahi sang ibu atau keributan-keributan kecil yang suka mereka lontarkan di depannya. Meskipun masih kecil tetapi Alana bisa melihat jika kedua orang tuanya itu saat ini sudah saling menyayangi.
"Iya Pa, nggak apa-apa kok. Yang penting nanti malam 'kan aku bisa main sama Papa dan Mama," kata Alana.
"Ya tentu saja bisa dong. Bagaimana kalau nanti malam kita makan di luar aja sekalian jalan-jalan ke mall, mumpung besok hari libur dan Alana tidak sekolah. Kamu mau?" Tanya Steve.
"Kalau Mama mau, aku mau kok Pa," tukas Alana yang melirik sang ibu.
"Iya, Mama mau kok," jawab Riana dengan senyum yang mengambang dari sudut bibirnya. Sehingga Alana dan Steven juga ikut tersenyum.
__ADS_1
Keluarga kecil itu terlihat begitu bahagia saat menikmati sarapan bersama sebelum melakukan aktivitas. Karena memang sudah sangat terburu-buru sehingga hanya menyempatkan sarapan sedikit, kini Steve pun pergi terlebih dahulu menuju ke perusahaan. Setelah beberapa menit kemudian, barulah Riana yang pergi mengantar anaknya ke sekolah diantar oleh sang supir.
******
Di salah satu pusat perbelanjaan terbesar kota Jakarta, terlihat seorang ibu paruh baya yang di saat itu sedang berbelanja di salah satu toko di mall tersebut. Wanita paruh baya itu tampak asik memilih dan meminta pendapat wanita muda di sebelahnya tetapi wanita muda itu terlihat sangat tidak menyukainya, hanya saja ia tidak memperlihatkan kepada ibu paruh baya tersebut.
"Duh … sangat membosankan sekali menemani wanita tua ini, kalau bukan karena anaknya aku tidak sudi untuk menemaninya di sini," batin wanita muda itu.
Mereka adalah Laras dan Bella, demi mengambil hati ibu dari pria yang disukainya, Bella sengaja mengajaknya untuk berjalan-jalan dan berjanji akan membelanjakannya serta mentraktirnya makan dengan harapan Laras nantinya akan mengajak Steve untuk bertemu dengan mereka, seperti janji Laras kepada Bella waktu itu.
"Bel, Tante ambil ini saja deh," kata Laras yang menunjukkan 5 pasang pakaian kepada Bella.
"Wah gila, ini Tante-tante ternyata tidak tau diri juga ya. Mentang-mentang aku yang membayarnya, jadi dia bisa pilih sebanyak ini dan yang mahal-mahal pula," batin Bella yang cukup terkejut. Laras yang dipikirnya sudah tua jadi tidak terlalu hobi berbelanja, pada kenyataannya wanita paruh baya itu lebih gila daripada dirinya sendiri.
"Bella, kau kenapa? Apa karena Tante belanjanya terlalu banyak ya?" Tanya Laras yang melihat Bella tampak bengong.
"Oh tidak kok Tante, sama sekali tidak masalah buat aku. Lagipula Tante tahu sendiri 'kan kalau aku ini seorang model terkenal yang bayarannya cukup tinggi, bahkan aku baru saja pulang dari luar negeri karena ada job di sana. Jadi kalau hanya membayar segini saja sama sekali bukan masalah untukku Tante," ujar Bella dengan sangat sombong tetapi terdengar sangat manis di telinga Laras.
Lalu segera saja keduanya menuju ke kasir untuk membayar semua belanjaan Laras, sedangkan Bella sama sekali tidak belanja apapun karena memang tujuannya hanya ingin menyenangkan hati ibu dari pria yang sudah lama dicintainya. Setelah itu mereka pun melanjutkan berjalan-jalan di mall tersebut dan berencana akan mencari makan malam.
"Tante, Tante jadi 'kan ajak Steve untuk makan bersama dengan kita?" Tanya Bella mengingatkan.
"Oh iya Tante sampai lupa, ya sudah kalau begitu kamu tunggu ya, Tante yakin kok pasti Steve tidak akan menolak jika Tante yang memintanya," ucap Laras yang langsung saja merogoh ponsel di dalam tasnya, lalu menghubungi anaknya itu. Akan tetapi sama sekali tak ada jawabannya.
__ADS_1
Di saat sedang menunggu jawaban dari Steve, tiba-tiba saja tidak sengaja mata Bella tertuju pada keluarga kecil yang di saat itu sedang berjalan sambil bersenda gurau, serta terlihat tertawa bahagia. Membuat Bella merasa sangat marah dan sangat tidak suka melihat akan hal tersebut.
Bersambung …