
Karena merasa pusing dengan apa yang dilakukan oleh istrinya itu, lagipula Riana pun juga sedang tak ingin diganggu olehnya, sehingga Steve memilih pergi ke kediaman orang tuanya untuk menenangkan diri tanpa sepengetahuan Riana maupun Alana.
"Sudah Mami katakan Steve, kau itu lebih baik berpisah saja dengan Riana, tetapi kau tidak pernah mendengarkan ucapan Mami. Lihat sekarang bagaimana, Riana itu sudah jelas memanfaatkan keadaan, sudah tahu kau akan bangkrut bukannya selalu berada di sampingmu dia malah mau menikah dengan orang lain. Apa itu yang dikatakan seorang istri yang mencintai suaminya? Tidak Steve. Buka matamu lebar-lebar, ada Bella yang begitu mencintaimu. Seharusnya kau sadar itu," ucap Laras yang sengaja memanasi sang anak.
Menurut Laras ini adalah kesempatan untuk mempengaruhi Steve agar semakin membenci istrinya dan juga berpisah dengan wanita tersebut. Meskipun sebenarnya Laras merasa sangat kasihan melihat kondisi anaknya saat ini, tetapi ia juga tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini.
"Mi, sudahlah Mi. Aku ini sudah cukup stres. Aku datang ke sini untuk menenangkan diri, tapi kenapa Mami malah membuat aku tambah pusing," tukas Steve yang langsung saja beranjak dari tempat duduknya lalu melangkahkan kaki menuju ke kamar.
Sedangkan Laras tampak diam saja menatap punggung kepergian anaknya itu, lalu tersenyum smirk karena ia yakin Steve pasti akan terpengaruh oleh ucapannya.
"Argh … bukannya membuat anaknya tenang malah membuat semakin pusing saja," teriak Steve sembari memukul kepalanya sendiri, merasa sangat stres dengan keadaan yang saat ini sedang menimpanya.
Lalu ia pun merogoh ponsel yang ada di dalam saku celananya dan terlihat menghubungi seseorang.
*****
Sementara itu, Riana yang berada di dalam kamar sedang menangis tersedu-sedu karena merasa sangat sedih dan juga kecewa atas sikap Steve terhadapnya.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang jika semua yang aku lakukan selalu saja salah. Apa yang harus aku lakukan untuk membantu Mas Steve, bukankah jalan satu-satunya hanya menikah dengan Pras? Tapi kenapa Mas Steve malah menganggapku seperti itu, kenapa dia malah menganggap aku adalah wanita yang matre. Padahal aku rela mengorbankan diriku hanya untuk membantunya, aku ingin perusahaannya kembali normal karena aku peduli padanya," batin Riana dengan air mata yang terus mengalir tanpa henti.
Tok … tok … tok …
"Mama … Mama ada di dalam?"
Terdengar suara Alana sembari mengetuk pintu kamar, sehingga Riana pun cepat-cepat mengusap air matanya lalu membukakan pintu tersebut.
"Sayang, ada apa?" Tanya Riana.
Meskipun sebisa mungkin ia sudah menutupi rasa kesedihannya itu, tetapi Alana dapat melihat jelas jika matanya ibunya yang terlihat sembab serta hidungnya yang memerah seperti habis menangis.
__ADS_1
"Mama kenapa menangis? Tadi aku dengar Mama dan Papa bertengkar, apa karena itu Mama menangis?" Tanya Alana.
Riana menundukkan dirinya, sejajar dengan anak kecil tersebut lalu memegang kedua pundaknya.
"Sayang, Mama baik-baik saja. Kau jangan berpikiran seperti itu ya," ucap Riana lalu memeluk anaknya tersebut.
"Ma, aku tahu kalau aku ini hanya anak kecil. Tapi aku juga tidak bisa dibohongi Ma, aku tahu kok kalau saat ini Mama sedang sedih," ucap Alana.
"Sayang, Mama 'kan sudah bilang kamu jangan berpikiran seperti itu. Mama tidak kenapa-napa, Mama baik-baik saja oke," ucap Riana melerai pelukan mereka.
"Kalau mama sedih, Mama cerita ya sama Alana, Mama jangan simpan sendiri. Kata Bu guru kalau kita punya masalah apapun harus kita ceritakan ke orang terdekat, itu akan terasa plong dan akan meringankan beban kita," ucap Alana sembari menatap wajah ibunya itu.
Membuat Riana pun tersenyum, hatinya sangat tersentuh dan menghangat mendengar ucapan anak kecil tersebut, mengingatkannya akan sosok Devina, sahabat yang selalu saja menemaninya dan selalu ada di saat ia sedang mempunyai masalah seperti saat ini.
*****
Jam terus saja berputar dengan begitu cepat, tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 01.00 WIB. Akan tetapi Riana tak juga dapat memejamkan matanya karena saat ini ia belum melihat kepulangan suaminya. Bahkan ia juga sudah bolak-balik ke kamar Alana untuk melihat kemungkinan saja suaminya berada di sana, tetapi ternyata sama sekali tidak ada. Ia juga mengintip dari jendela untuk melihat kemungkinan suaminya itu sudah pulang, tetap saja hasilnya nihil. Sehingga Riana pun mencoba memejamkan matanya kembali tetapi tidak juga bisa terlelap.
"Mas Steve sekarang ada di mana ya? Kenapa sampai sekarang dia belum pulang juga. Lalu kenapa Mas Steve sama sekali tidak memberikanku kabar? Aku hubungi juga tidak dijawab, bahkan pesanku sama sekali tidak dibaca. Mudah-mudahan saja tidak terjadi sesuatu hal yang buruk dengan Mas Steve. Jika memang Mas Steve ingin menenangkan diri, aku bisa mengerti karena aku juga ingin menenangkan diriku," batin Riana.
Hingga pada akhirnya pun Riana kembali untuk mencoba memejamkan mata, berharap jika terbangun nanti suaminya itu sudah berada di sampingnya.
*****
Siapa yang menyangka, jika ternyata pria yang sedari tadi dikhawatirkan oleh istrinya saat ini sedang berada di klub malam dan menikmati beberapa botol minuman beralkohol untuk menghilangkan rasa stresnya itu. Steve yang merasa jika berada di rumah orang tuanya sama sekali tak meringankan bebannya, malah menambah masalah karena ibunya itu terus saja mengganggu dan membahas soal Bella. Sehingga membuat ia pun pergi dari rumah orang tuanya menuju ke klub malam untuk melupakan masalahnya sejenak. Karena teman yang ia hubungi tadi tidak bisa menemaninya, Steve pun memilih untuk pergi sendiri ke klub malam tersebut.
Entah sudah botol ke berapa Steve menghabiskan minuman beralkohol, hingga kini ia tampak lemah serta dalam keadaan setengah sadar. Di saat klub malam tersebut hendak di tutup, salah satu pelayan merasa kebingungan karena tentunya Steve tidak bisa pulang sendirian dalam keadaan mabuk. Sehingga pelayan tersebut pun menghubungi nomor terakhir yang ada di ponsel Steve yaitu nomor Laras.
Tidak berapa lama kemudian, seorang wanita datang dan menghampiri Steve yang di saat itu tampak menyandarkan kepalanya di atas meja sembari terus meracau.
__ADS_1
"Riana, kenapa kau sangat tega Riana. Padahal aku sudah mulai mencintaimu tapi kau malah mau menikah dengan pria brengsek itu. Kau sama dan saja dengannya, kalian berdua sengaja ingin menghancurkanku. Riana … !"
"Steve, sadarlah Steve. Riana itu sudah tak mencintaimu lagi, sekarang ada aku di sini yang akan membawamu pulang," ucap wanita tersebut.
"Nona, apakah Nona datang untuk menjemput Tuan ini?" Tanya pelayan.
"Iya, apa kau pelayan yang tadi menghubungiku?" Tanya Wanita itu pula.
Wanita tersebut adalah Bella, ia datang untuk menjemput Steve karena permintaan Laras setelah tadi pelayan menghubunginya.
"Iya benar Nona. Untung Nona sudah datang, karena saya juga harus segera pulang," ucap pelayan tersebut.
"Iya, terimakasih ya dan ini ada tips untukmu karena kau sudah menemani kekasihku. Aku benar-benar minta maaf atas kelakuan kekasihku ini," ucap Bela yang mengaku-ngaku sembari menyerahkan beberapa lembar uang merah kepada pelayan.
"Iya sama-sama Nona dan terimakasih juga untuk tipsnya," ucap pelayan pula.
"Oke, oh ya apa boleh aku meminta bantuanmu untuk membawa kekasihku menuju ke mobil?" Pinta Bella, lalu pelayan itu langsung membantu Bella membawa Steve menuju ke dalam mobil.
Setelah itu Bella segera saja melajukan mobilnya, membawa Steve pergi meninggalkan klub malam.
Kini mereka telah tiba di sebuah hotel yang jaraknya tidak terlalu jauh dari klub malam. Meskipun di saat itu Steve sudah dalam keadaan setengah sadar, tetapi ia masih bisa berjalan tentunya dengan dipapah oleh Bella. Setelah memesan kamar hotel, langsung saja Bella membawa Steve masuk ke dalam kamar dan menghempaskannya di atas kasur.
*****
Meskipun sudah berusaha semaksimal mungkin, pada kenyataannya hingga pukul 03.00 WIB, Riana belum juga dapat terlelap. Ia bolak-balik melihat ponselnya, berharap jika Steve akan membalas pesannya. Akan tetapi karena Steve belum juga membaca pesannya, padahal nomor ponselnya itu aktif, sehingga Riana pun meletakkan ponselnya kembali di atas nakas. Riana berpikir mungkin memang saat ini Steve tidak ingin diganggu olehnya, sehingga ia benar-benar terlihat menghindar darinya.
Ting …
Tiba-tiba saja terdengar notifikasi pesan masuk, membuat Riana bergegas meraih ponselnya dan sangat berharap jika itu adalah Steve yang membalas pesannya. Akan tetapi betapa terkejutnya Riana saat ia melihat beberapa foto yang dikirim pada pesan WhatsApp-nya itu, ia merasa tak percaya dan juga terlihat sangat murka.
__ADS_1
Bersambung …