Istri Tak Diakui

Istri Tak Diakui
Mengalami Trauma.


__ADS_3

Keduanya saling berpelukan, sampai pada akhirnya Laras datang dan melerai pelukan mereka.


"Sudah, lepaskan Steve. Apa kau tidak cukup memeluk Anakku sedari tadi? Steve itu butuh istirahat, apa kau sengaja ingin membuat Steve tidak sembuh dan nantinya kau bisa bersama dengan laki-laki itu hah!" Tuding Laras yang membuat semua orang merasa sangat terkejut, tak terkecuali Riana yang tiba-tiba saja merasa ketakutan mengingat laki-laki yang dikatakan oleh Laras.


"Tidak, aku tidak mau. Tolong … tolong jangan lakukan itu padaku. Tidak … aku tidak mau … !" Teriak Riana sembari menutup telinga dan matanya.


"Sayang, Sayang tenang Sayang. Tidak ada apa-apa di sini, tidak ada yang mau menyakitimu," ucap Lily yang menenangkan hati anaknya itu, begitu juga dengan Derry dan Leo yang ikut meyakinkan Riana.


"Sayang, kau kenapa?" Tanya Steve yang berusaha untuk membangunkan tubuhnya, tetapi terasa sangat sulit. Tentunya ia merasa sangat khawatir dengan kondisi istrinya tersebut.


"Steve sudah, kau tidak usah memperdulikan Riana. Kau istirahat saja!" Bentak Laras.


"Mami, apa yang Mami lakukan Mi. Mami kenapa jahat sekali terhadap Riana? Riana itu istriku!" Tukas Steve yang merasa sangat kecewa dengan sikap ibunya.


"Benar-benar keterlaluan ya Anda. Lihat saja jika terjadi sesuatu dengan Riana, saya akan membuat perhitungan dengan Anda!" Ucap Lily yang terlihat sangat emosi.


"Saya tidak takut dan tidak peduli," sahut Laras.


"Riana … Sayang … kau mau ke mana?" Teriak Steve disaat Leo, Lily dan Derry membawa istrinya itu pergi meninggalkan ruangannya.


------


"Tidak … aku tidak mau, tolong jangan sakiti aku … !" Riana kembali berteriak.


"Sayang, tenanglah Nak. Tidak ada apa-apa Sayang, tidak ada yang bisa menyakitimu di sini," ucap Lily.


"Leo, cepat kau cari Dokter. Biar om dan Tante yang membawa Riana ke kamarnya," titah Derry.


"Iya Om," jawab Leo yang bergegas mencari Dokter.


Sedangkan Derry dan Lily langsung saja membawa Riana ke dalam ruang rawat inapnya dalam kondisi yang masih sangat ketakutan.


Tidak lama kemudian, dokter dan suster telah tiba di ruangan tersebut dan langsung saja memeriksa kondisi Riana. Karena Riana terus saja mengamuk, pada akhirnya dokter pun menyuntiknya dan memberikannya obat penenang, hingga Riana tertidur.


"Dokter, bagaimana kondisi Anak saya saat ini? Kenapa dia terlihat semakin memprihatinkan?" Tanya Derry.

__ADS_1


"Tuan, Nyonya, saat ini Nyonya Riana memang tidak bisa untuk menerima tekanan berat. Beliau benar-benar mengalami trauma gara-gara masalah yang menimpanya kemarin dan mungkin ini ada kaitannya dengan perkataan yang baru saja didengar olehnya tadi. Memangnya apa yang dikatakan oleh Ibu mertuanya? Tadi saya sempat mendengar Tuan Leo bercerita sedikit," tanya Dokter.


"Iya Dokter, wanita itu menyebut laki-laki itu. Apa mungkin ya benar laki-laki itu yang sudah menyebabkan Riana seperti saat ini," ujar Lily.


"Mungkin saja benar Nyonya," sahut Dokter.


"Ini tidak salah lagi, aku yakin laki-laki itu pasti Pras. Karena hanya Pras lah yang meminta Riana untuk menikah dengannya," ucap Leo dengan sangat yakin.


Lalu ia pun membalikkan tubuhnya dan hendak pergi, akan tetapi segera saja Derry menarik tangannya dan menghentikan langkahnya itu.


"Mau kemana? Sudah Om katakan jangan bertindak gegabah Leo! Apa kau tidak bisa bersabar sebentar, kau tenang saja ini semua pasti akan segera ditindaklanjuti. Lebih baik sekarang kita cari buktinya dulu dan jika kau memang mau pergi sekarang kau cari bukti itu, jangan langsung menghampiri Pras. Apa kau mengerti!" Tegas Derry dengan suaranya yang meninggi, sehingga membuat Leo pun terdiam dan tampak berpikir.


"Baik Om, aku janji tidak akan langsung menemui Pras tapi aku akan mencari bukti itu sekarang," ucap Leo.


"Om percaya padamu, tapi jika kau menggagalkan semua rencana, Om tidak tahu lagi harus berkata apa Leo," ucap Derry.


"Iya Om, aku janji dan sekarang aku pergi dulu. Om Tolong kabari aku apapun yang terjadi dengan Riana," ucap Leo.


"Iya, kau tenang saja. Om pasti akan mengabarimu," tukas Derry.


"Iya Tante, doain aku ya supaya aku bisa mendapatkan bukti itu segera," ucap Leo dan ditanggapi anggukan kepala oleh Lily.


"Ya sudah Nyonya, Tuan, saya permisi dulu. Saat ini Nyonya Riana sedang beristirahat, mudah-mudahan saja setelah bangun nanti dia akan merasa lebih tenang," ucap dokter.


"Iya Dokter, terima kasih banyak," ucap Lily dan Derry, lalu segera saja dokter serta suster meninggalkan ruang rawat inap tersebut.


"Riana sayang, kenapa kondisimu menjadi seperti ini," ucap Lily yang merasa sangat sedih.


"Ma, apa Mama sudah mencoba untuk menghubungi orang tua kandung Riana? Mungkin saja orang tuanya itu bisa lebih menenangkan hatinya daripada kita Ma," ucap Derry.


Lily menggelengkan kepalanya, "Belum Pa, tapi Riana bilang orang tuanya sama sekali tak peduli dengannya. Justru selama ini Riana selalu tenang bersama dengan kita, itu yang Riana katakan Pa," ucapnya.


"Ma, tapi kita 'kan tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan orang tuanya Riana. Riana sendiri 'kan yang mengatakan jika dia tidak mau lagi bertemu dengan orang tuanya, bahkan tidak mau mendengar apapun penjelasan dari ibunya. Siapa tahu ibunya itu bisa datang setelah kita memberi kabar tentang kondisi Riana sekarang," ucap Derry.


"Ya sudah Pa, nanti Mama akan mencoba untuk menghubungi orang tua Riana ya," ucap Lily.

__ADS_1


"Iya Sayang," jawab Derry seraya mengusap-usap pundak istrinya itu dengan lembut, mencoba untuk menenangkannya.


Derry tahu betul bagaimana perasaan istrinya saat ini yang sudah menganggap Riana sebagai anak kandungnya sendiri, pastinya ia merasakan sedih yang amat mendalam.


*****


Sementara itu Steve yang berada di ruang rawat inapnya itu pun merasa sangat marah terhadap ibunya yang sudah memperlakukan Riana seperti tadi. Bahkan Laras juga tidak mengizinkannya untuk bertemu dengan istrinya sendiri, sehingga membuat Steve pun sedari tadi hanya diam dan enggan berbicara dengan ibunya tersebut.


"Mau sampai kapan kau seperti ini terus terhadap Mami Steve? Mami hanya melakukan yang terbaik untukmu, kenapa kau tidak mengerti," ucap Laras.


"Yang terbaik, yang terbaik apa maksud Mami? Ini yang terbaik untuk Mami bukan Untukku. Riana itu istriku Mi, aku mencintainya dan sekarang aku bahagia karena bisa bertemu dengannya. Tapi kenapa Mami tega memisahkan kami seperti itu," ujar Steve yang benar-benar merasa kecewa, tak habis pikir dengan sikap ibunya itu.


"Sudahlah Steve, tidak ada yang bisa lagi dipertahankan untuk hubunganmu dan Riana. Pokoknya Mami ingin kau dan Riana segera berpisah, jika kau tidak bisa mengurus semuanya maka Mami yang akan membantumu," ucap Laras.


"Sampai kapanpun aku tidak akan pernah menceraikan Riana. Mami ingat itu!" Tegas Steve.


"Kau ini benar-benar keterlaluan ya Steve. Kau lebih memilih wanita itu daripada Mami, ibu yang telah mengandung dan melahirkanmu," ucap Laras yang terlihat sangat marah dan juga tak terima.


"Ibu mana yang tega menghancurkan kebahagiaan anaknya sendiri. Sudahlah Mi, aku sudah tidak ingin lagi mendengar ocehan Mami. Dokter … Dokter … !" Teriak Steve yang juga menekan tombol darurat.


Sehingga di saat itu pun dokter segera saja masuk ke dalam ruang rawat inapnya.


"Ada apa Tuan Steve, apa yang terjadi?" Tanya dokter, sementara Laras terlihat seperti orang kebingungan.


"Dok, maaf jika aku mengganggu pekerjaan Dokter tapi aku mohon tolong usir Mamiku dari sini Dok, aku mau istirahat. Bukankah aku harus banyak istirahat supaya cepat sembuh dan aku tidak bisa istirahat jika ada orang di sini. Aku ingin sendiri Dok," pinta Steve.


"Steve, apa yang kau lakukan Steve? Kau tidak bisa mengusir Mami dari sini, hanya Mami yang menemanimu di sini Steve, tidak ada orang lain," kata Laras yang merasa sangat terkejut.


"Aku mohon Dokter, tolong usir Mamiku keluar dari sini," pinta Steve sekali lagi.


"Nyonya maaf, tapi sebaiknya Anda keluar saja dulu sesuai dengan permintaan Tuan Steve. Ini semua demi kebaikan juga 'kan? Kebetulan ada yang ingin saya sampaikan juga," ucap dokter.


Sehingga dengan sangat terpaksa dan juga sangat marah, Laras pun keluar meninggalkan ruang rawat inap anaknya tersebut.


Bersambung …

__ADS_1


__ADS_2