
Saat ini Laras sedang berada di ruangan dokter karena tadi dokter yang mengatakan ada sesuatu hal yang ingin disampaikannya. Sesuatu yang sangat penting mengenai kondisi Steve, sehingga mereka pun memilih ruangan yang tertutup agar lebih leluasa untuk berbicara.
"Ada apa Dokter? Apa yang sebenarnya terjadi dengan Anak saya?" Tanya Laras.
"Nyonya Laras, seperti yang Anda tahu jika kondisi Tuan Steve saat ini sangat memperhatikan. Jangankan untuk melakukan aktivitas, untuk menggerakkan tubuhnya saja terasa sangat sulit. Beliau mengalami luka luar dan dalam yang sangat serius karena terkena amukan para preman yang mengeroyoknya waktu itu, sehingga ia benar-benar membutuhkan perawatan intensif. Bukan hanya saja pengobatan dari Dokter, tetapi pikirannya juga tidak boleh terganggu. Tuan Steve harus beristirahat dengan cukup, jadi saya meminta tolong kepada Nyonya agar tidak terlalu membebani pikiran beliau," ucap dokter.
"Apa maksud Dokter? Memangnya saya membebani Anak saya apa?" Tanya Laras tak mengerti dan juga tak terima.
"Maaf Nyonya jika ucapan saya menyinggung perasaan Anda. Yang saya tahu Tuan Steve adalah suaminya Nyonya Riana, tapi kenapa Anda sangat tidak menyukai Anak Anda berhubungan dengan istrinya sendiri. Anda melarang keras, padahal sekarang yang membuat Tuan Steve itu semangat untuk sembuh adalah istrinya. Jika mereka sering bersama, saya yakin ini akan membantu untuk kesembuhan Tuan Steve. Apa tidak bisa jika Nyonya itu mengurangi rasa egois Anda sedikit saja, ini semua demi kesembuhan Anak Anda sendiri. Satu hal lagi, ini bukan hanya untuk kesembuhan Tuan Steve tetapi juga untuk kesembuhan Nyonya Riana. Saat ini Nyonya Riana juga sangat membutuhkan dukungan dari orang-orang yang dicintai dan mencintainya, salah satunya adalah Tuan Steve, suaminya sendiri," ucap dokter panjang lebar, berharap jika wanita yang berada di hadapannya itu mengerti.
"Jika untuk wanita itu saya tidak peduli. Lagipula wanita gila, apa dia pikir saya sudi untuk menerimanya menjadi menantu saya lagi," hardik Laras.
"Kenapa Nyonya tega sekali berkata seperti itu. Saat ini Nyonya Riana masih sah menjadi istri Anak Nyonya, 'kan? Seharusnya Anda memikirkan hal ini. Nyonya Laras, seandainya Nyonya mengizinkan permintaan keluarga Nyonya Riana pada awalnya, kami akan memindahkan mereka di ruang rawat inap yang sama, di ruangan VIP dengan 2 brankar, sehingga mereka berdua akan lebih dekat dan akan membantu kesembuhan keduanya lebih cepat. Saya tegaskan kepada Nyonya bahwa Nyonya Riana itu tidak gila. Dia hanya mengalami trauma ringan dan jika didukung oleh orang-orang terdekat termasuk suaminya dan juga Anda sebagai ibu mertuanya, pasti Nyonya Riana akan cepat sembuh," ujar dokter.
"Sudah saya katakan bahwa saya tidak peduli dengan wanita itu," tukas Laras tetap kekeh.
"Setidaknya pikirkan ini untuk kesembuhan Anak Anda sendiri. Saya sudah menyampaikan hal ini kepada Anda dan sekarang semua terserah kepada Nyonya saja," tegas dokter.
"Sebaiknya Dokter tidak perlu ikut campur urusan keluarga saya. Tugas Dokter itu hanya menyembuhkan Anak saya bukan untuk ikut campur dengan apa yang terjadi di keluarga saya," ucap Laras penuh emosi.
"Tetapi yang saya sampaikan ini sangat berhubungan dengan kesembuhan Anak Nyonya, ini akan memicu kesembuhan Tuan Steve cepat atau lambatnya dan sekarang semua pilihan itu ada tangan Nyonya. Sekarang saja Tuan Steve tidak mau menerima Nyonya di dalam ruangannya karena Nyonya sama sekali tidak mengerti apa keinginannya saat ini. Apa Anda tahu itu artinya apa, Anda sama sekali tidak membantu untuk kesembuhannya," ucap dokter yang menekan ujung kalimatnya itu, sudah sangat terbiasa menghadapi sifat keluarga pasien yang keras kepala seperti ibunya Steve.
__ADS_1
*****
Di sebuah bangunan megah bak istana berlantai 5, terlihat seorang pria paruh baya yang di saat itu sedang memegangi sebuah foto di ruang kerjanya. Ia terlihat begitu sedih dan juga marah bercampur aduk menjadi satu karena sesuatu hal yang baru saja diketahuinya, padahal ia sudah lama mencari tahu informasi tentang hal tersebut.
Pria tersebut adalah Carlos Immanuel Jackson, seorang mafia yang sudah terkenal dengan kekejamannya dan juga mempunyai perusahaan ternama di Negara X. Tetapi saat ini ia kembali ke Indonesia karena ingin mencari mantan istri dan juga anaknya yang sudah lama tak ditemuinya. Saat ini Carlos sudah tahu bahwa mantan istrinya itu sudah berada di luar negeri dengan suami barunya dan menyia-nyiakan anaknya yang berada di Indonesia. Bahkan saat ini ia juga tahu jika anaknya diperlakukan oleh suami beserta keluarga suaminya dengan tidak baik, sehingga membuat Carlos pun merasa sangat dendam dan ingin membalas perbuatan orang-orang yang telah menyakiti anaknya tersebut.
"Brengsek kalian semua! Berani menyakiti Anakku itu sama saja kalian sudah berani bermain-main denganku. Kalian dengan sengaja membuat Anakku hidup menderita, aku tidak mungkin tinggal diam dan aku pastikan dari kalian satu persatu pasti akan menerima akibatnya," umpat Carlos dengan tatapan tajam.
Tok … tok … tok …
Terdengar suara ketukan pintu ruangan kerjanya, sehingga Carlos pun langsung saja mempersilahkan seseorang masuk ke dalam ruangan tersebut yang ternyata adalah Edwin, asisten pribadinya.
"Bagus, kau bekerja dengan sangat cepat. Terima kasih Edwin," ucap Carlos.
"Iya sama-sama Tuan, saya permisi dulu," ucap Edwin, lalu ia pun segera saja pergi meninggalkan ruang kerja Carlos.
"Jadi ternyata kalian orang-orangnya. Lihat saja kalian semua, satu persatu di antara kalian aku pastikan akan menderita seperti kalian memperlakukan Anakku. Adelia … Adelia … kau itu benar-benar wanita goblok sedunia. Kau rela mengabaikan Anakmu sendiri hanya demi suami barumu itu yang sama sekali tak menginginkan Anakmu. Seandainya saja waktu itu kau mengizinkanku membawa Anak kita, pasti sekarang nasib Anak kita tidak seperti ini. Kau juga merupakan targetku yang akan aku buat hancur karena telah menyia-nyiakan Anakku, Adelia," gumam Carlos yang merasa sangat murka.
Tatapannya begitu tajam seperti binatang buas yang sudah siap untuk menerkam mangsanya, saat ini ia juga menggenggam sebuah pena yang di saat itu langsung saja patah menjadi potongan-potongan yang sudah tak ada artinya lagi.
*****
__ADS_1
Seminggu pun telah berlalu, meskipun keadaan Riana dan Steve belum terlalu pulih, tetapi setidaknya ada perubahan karena saat ini mereka sudah dipindahkan ke ruang rawat inap VIP yang sama.
Ya pada akhirnya Laras pun menyetujui dan mengalah karena Steve yang selalu saja marah padanya, bahkan tak ingin ditemuinya sama sekali. Akan tetapi selama berada di dalam ruang rawat inap, Laras selalu menahan emosinya di saat bertemu dengan keluarga angkat Riana tersebut.
Begitu juga dengan Lily, meskipun sebenarnya ia sangat enggan untuk bertemu dengan mantan besannya itu, tetapi ia pun mencoba untuk bersikap biasa saja, semua hanya demi kesembuhan Riana dan Steve. Tak jarang jika Lily terkadang menganggap bahwa di saat itu tidak ada Laras di dalam ruangan yang sama dengannya.
"Riana, kau sudah bangun Sayang? kita makan dulu ya. Tadi Mama sudah konsultasi sama Dokter, kau boleh makan makanan yang lain, asalkan masakan itu dimasak sendiri oleh Mama langsung dan menggunakan bahan-bahan yang sudah dianjurkan oleh Dokter. Bukankah kau sudah sangat bosan dengan makanan dari rumah sakit?" Tukas Lily yang baru saja tiba setelah tadi ia pulang sebentar, sedangkan Riana ditemani oleh Leo.
"Iya Ma, terima kasih banyak ya sudah repot-repot memasak untukku. Tapi Mama juga memasak untuk Mas Steve, 'kan?" Ujar Riana.
"Sama sekali tidak repot Sayang, justru Mama senang masak untuk Anak Mama dan tentu saja dong Sayang Mama bawa lebih, tidak mungkin lah masak makanannya sedikit. Pasti Mama juga mengingat menantu Mama," ucap Lily.
"Terima kasih ya Ma sudah repot-repot. Sebenarnya aku juga tidak masalah kok kalau harus makan makanan dari rumah sakit," ucap Steve.
"Cih menantu, Anakmu itu sudah tidak ada dan jangan lupa Jika Riana itu hanya anak angkat yang tidak jelas asal-usulnya. Bahkan aku ragu sebenarnya Riana itu punya orang tua atau tidak, buktinya saat anaknya menikah saja dia sama sekali tidak muncul," cibir Laras.
"Jaga ucapanmu itu! Jangan pernah kau berkata seperti itu soal Riana," ucap seseorang yang tiba-tiba saja masuk ke dalam ruang rawat inap tersebut.
Membuat Steve, Riana, Lily, Laras dan juga Leo pun langsung saja menatap seseorang yang sangat asing di hadapan mereka saat ini datang bersama Derry.
Bersambung …
__ADS_1